
15 menit kemudian...
Aria senantiasa menemani Izana bercakap dengan Dika, tapi pembahasan mereka bukanlah uang melainkan hal lain. Tidak mungkin kan memujuk Aria yang baru Dika kenal untuk meminjamkan uang.
“Aku pulang dulu ya, bye Izana Aria.”
Dika sudah jauh, barulah Aria bertanya. “Abang dapat 30jt?”
“Loh kok tahu?”
“Tadi aku menguping, dia datang mau pinjam uangkan?”
Rupanya tadi Aria sengaja berlama lama untuk menguping, setelah geram sendiri barulah dia keluar agar Dika berhenti membujuk Izana. Bukan apa-apa, yang Aria dengar tadi Dika tidak membayar 2jt hutangnya yang sudah tiga tahun, apalagi 30jt? Tidak bisa dibiarkan! Bukan pelit tapi lebih ke kurangnya kepercayaan.
“Jadi 30jt itu mau abang apakan?”
“Ganti baju sana.”
“Hah mau ke mana?”
“Jajan di luar, kamu habiskan saja 30jt ini.”
Aria tersenyum lebar, sudah lama dia tidak berbelanja banyak.
Cup
Izana mendapat ciuman, kemudian Aria pergi ke kamar untuk ganti baju. Lihat kan? Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi wanita selain uang.
Setelah 10 menit menunggu Aria datang dengan pakaian yang beratasan Hoodie pink lucu bulu-bulu. Tidak terlihat kalau sebenarnya dia sudah menikah, orang-orang akan mengira dia adalah anak gadis yang kasmaran mungkin.
“begini boleh kan Bang?”
“Kkk~ ok lah.”
Yes sudah dapat persetujuan! Aria dengan semangat membuka pintu keluar. Dia melompat lompat kegirangan, mungkin selanjutnya akan menjadi gosip in tetangga lagi. Memang ya orang cantik tuh selalu menjadi pembicaraan.
“Eh Aria sudah lama enggak lihat kamu keluar sekali lihat kok girang amat,” sapa tetangga yang tengah menyapu halaman.
“Iya Bu, mau pergi jalan-jalan hehe.”
Lalu datanglah Izana dengan motornya. “Ayo naik.”
“Duluan ya Bu.”
Ngeng~
“Seru nih ngegosipin Aria.” Si ibu yang kemarin mau memberi rendang pergi ke rumah tetangga yang menjadi tempat perkumpulan ibu-ibu lainnya, padahal dia belum selesai menyapu.
Seharian Aria berbelanja ini itu, pada akhirnya dia tidak tega menghabiskan uang 30jt untuk kesenangan sesaat. Bagi orang yang memiliki banyak uang mungkin itu bukanlah seberapa, tapi berbeda dengan Aria yang tahu bagaimana uang itu dihasilkan, dia jadi kasihan dengan korbannya Izana.
“Mau ke mana lagi?”
“Pulang aja deh Bang, sudah mulai gelap.”
Bukannya pulang, Izana malah berhenti di kafe yang sangat bagus dari segala sisi, aesthetic. “Loh Bang katanya mau pul-”
“Shuuut~ kita makan malam dulu.”
Izana menarik tangan Aria ke bagian rooftop, masuk ke sini pasti kena tambahan biaya karena cukup sepi padahal pemandangannya bagus. Suasananya bagus dan menyegarkan, asyik menikmati pemandangan Aria terkejut tiba-tiba Izana memasangkan kalung.
“Wah kalung!”
“Suka?”
“Suka! Kapan Abang membelinya?” Aria bercermin menggunakan kaca kecil.
Inilah yang Izana inginkan, raut bahagia Aria. Harapannya hanya Aria agar tidak murung lagi, dia cukup tersiksa melihatnya.
“Aria.”
“Hmmm?”
“Jangan pikirkan soal mandul lagi ya, aku tidak mempersalahkan itu.” Lembut Izana dengan tangan yang menggenggam lengan Aria pelan, matanya menatap mata Aria begitu tulus, dia harap Aria tidak takut akan hal itu lagi.
Tergenang air di pelupuk mata Aria, dia terharu begal satu ini begitu sangat mencintainya. “Iya,” jawab Aria menangis, Izana tersenyum tipis masih berada di posisi yang sama.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.