
Hari ini sudah cukup dengan sesi foto fotonya, sekarang giliran perut untuk di isi. Jajan pinggiran menggunakan gerobak menjadi target pengunjung, enggak sah rasanya kalau jalan-jalan tanpa jajan.
“Bang gulali itu cantik banget,” tunjuk Aria pada gerobak penjual gulali dengan bermacam karakter kartun dan bunga.
“Mau?”
“Iya.” Aria mengangguk antusias, warna-warna permen yang seperti awan itu cukup menghipnotis Aria.
Mereka datang untuk membeli gulali tapi harus mengantre dulu karena pembelinya cukup ramai, sebab karakternya lucu banyak anak-anak yang menangis ingin beli tapi ibu mereka tidak bolehkan.
“Dasar ibu-ibu pelit sama saja seperti ibuku,” kata seseorang di depan Aria yang merutuk tidak jelas.
“Bocah ini lagi.” Izana menghela nafas sadar bocah di barisannya adalah sosok yang dia kenali.
Saat bocah itu menoleh ke belakang dia tersenyum cerah pada Izana dan Aria. “Bang Izana kak Aria, kalian datang juga ternyata.”
“Eh kau siapa?” Ini pertama kalinya Aria melihat anak itu jelas saja dia tidak kenal.
“Aku Theo Kak, temannya bang Izana.”
“Aku tidak berteman sama anak kecil,” tolak Izana.
“Hehehe jadi begitu deh” Cengirnya tidak peduli dengan perkataan Izana, dia maju satu langkah semakin dekat dengan penjual.
Theo mendapatkan apa yang ia inginkan, dia berjalan menjauh dengan gulali berkarakter minion bukan satu tapi tiga. “Anak itu enggak sakit gigi apa?” kata Izana sembari menggeleng kan kepalanya, yang ia tahu Theo selalu memakan permen itu setiap berjumpa.
Dong Dong Dong
Aria semakin tidak sabar setelah mendengar suara gendangan yang membawa barisan panjang cosplayer.
“Pak cepat Pak,” ujarnya tidak sabar.
“Iya Neng, ini gulali Eneng.”
“Terima kasih, Pak. yuk Bang lihat di sana.”
Aria menarik tangan Izana untuk menerobos kerumunan orang di depan hingga gandengan tangan itu terlepas memisahkan mereka berdua.
“Uwah~” Setelah perjuangan yang cukup melelahkan dan mendapatkan cacian dari orang-orang yang tempatnya diambil akhirnya Aria sampai di depan, matanya melihat pada rombongan yang berjalan melambaikan tangan sambil berdialog sesuai character mereka.
“Hihihi lihat bang lucu banget ka- loh?” kagetnya karena tangan yang Aria pegang bukan tangan Izana melainkan Theo.
Kini dua orang yang sama-sama memegang permen kapas itu tatap tatapan, Aria sungguh terkejut dia baru terasa tangan yang dia pegang kecil tidak seperti tangan Izana yang besar dan kasar.
“Kok kamu sih Dek?”
“Sudah enggak apa-apa Kak kita nikmati aja dulu paradenya, mencari bang Izana nanti saja,” saran Theo.
Aria tampak berpikir sejenak, mungkin kalau ada Izana dia tidak bisa begitu bebas untuk berteriak memanggil character yang Aria suka. Bukankah ini kesempatan emas? Nanti kalau dia marah bisa beralasan salah pegang tangan orang.
Sementara itu di sini posisi Izana sibuk sendiri mencari Aria, dia seakan kehilangan sesuatu yang seharusnya tidak di lepaskan, setiap menyelip dia akan menunjukkan foto Aria dan bertanya.
“Kau lihat dia.”
“Tidak.”
“Kau lihat dia?”
“Aku tidak ada lihat.”
Memangnya siapa yang melihat Aria di kala semua fokus jatuh pada barisan parade? Beberapa kali Izana menyelip ke depan tapi ia tetap tidak menemukan Aria. Ia seperti orang gila yang modar mandir dengan raut panik.
Tbc.