
Seperti biasa Ella selalu pulang malam karena dia kerja paruh waktu saat jam sekolah selesai. Jalan sepi menjadi makanannya sehari hari, tidak ada masalah selama ini.
Tapi berbeda dengan hari ini, motornya dihentikan oleh lima orang tidak dikenal, ini kedua kalinya Ella di cegat namun kali ini dia merasa sangat takut.
“Si-siapa kalian?”
“Bawa dia.”
Sadar akan niat jahat Mereka Ella mendorong orang yang menghalangi jalannya, dia berlari dengan para preman yang mengejarnya.
“Ku mohon angkat” isak Ella mencoba menelepon Izana, beberapa kali menghubungi tetap tidak dapat respons sama sekali. Ella pun mencoba menghubungi polisi namun sebelum terhubung HP Ella jatuh ketika dia sedikit tersandung batu. Ella tidak punya banyak waktu untuk memungut HP itu, dia terus berlari meninggalkan benda pipih yang sudah diinjak-injak oleh mereka yang mengejar Ella.
Grep! Ella tertangkap.
“Hiks mau apa kalian? kumohon lepaskan aku,” tangis Ella terisak. Tangisan itu tidak membuat mereka kasihan pada Ella, dengan kasar mereka menarik Ella hingga sampai di sebuah rumah kosong yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
“Buka bajumu.”
“Jangan aku sudah punya pacar, apa pun selain itu.”
“Kalian lakukan sesuka kalian pada cewek itu,” perintahnya.
Mereka mendekati Ella menggilirnya bergantian hingga Ella sudah pasrah dengan air mata yang terus mengalir.
“Kalian sudah ambil videonya dengan benar kan? cepat kirimkan ke nona Putri,” ujar salah satu dari mereka yang keceplosan menyebutkan nama Putri.
“Putri? jadi Putri yang menyuruh kalian?” ucap Ella lemas. Mereka panik, pasalnya identitas pelaku utama seharusnya dirahasiakan.
Di sisi lain Putri baru saja mendapatkan kiriman Video dari suruhannya. Dia bahagia sekali, rencananya Putri ingin menunjukkan video itu pada Izana agar Izana jijik dengan Ella.
Namun..
Ting!
Belum ada satu menit setelah video ia dapatkan satu pesan lagi masuk di WA yang membuat Putri panik.
\[Nona kami tidak sengaja menyebut nama Anda, teman Anda mendengarnya.\]
“Bagaimana bisa, dasar orang-orang bodoh. Kalau Ella mengadu aku bisa masuk penjara,” gumamnya panik. Tanpa berpikir panjang lagi Putri membalas pesan mereka.
Balas Putri mengancam, walaupun mereka preman mereka tetaplah manusia yang memiliki seseorang untuk disayang.
.
.
“Apa kata nona Putri?”
“Bunuh dia.”
Keringat dingin sudah membasahi tubuh Ella, dia tahu dia akan mati, siapa yang tidak takut saat mengetahui kapan mereka sendiri akan mati.
“Tolong, tolong jangan bunuh aku, tentang hari ini atau pun Putri aku tidak akan bilang siapa pun.”
“Kalian siapkan tali di pohon, kita gantung saja dia.”
“Jangan, kumohon jangan aku akan melakukan apa pun asalkan jangan bunuh aku.” Ella sudah bersujud di kaki mereka dengan badan yang masih polos tanpa sehelai benang pun.
Tidak ada belas kesihan mereka menyeret Ella untuk dibawa keluar, Ella terus memberontak hingga lehernya diikatkan ke tali.
“Tuhan aku belum mau mati,” ucapnya menangis.
Di detik kemudian kursi yang menjadi pijakan Ella ditarik hingga tali yang mengikat leher Ella mengencang karena menahan beban tubuh yang tergantung.
Tbc.
Like sebelum lanjut, author yakin jempol kalian masih baik-baik saja kan? Jangan pelit!