
Semalaman Izana tidak tidur nyenyak, dia gelisah tidak ada Aria di samping. Dia jadi tidak puas tidur karena itu.
Jam empat subuh Izana mendengar suara bising di dapur, apa hantu? Atau maling. Dia bergegas keluar siap menangkap makhluk apa pun itu. Namun ternyata Aria yang memukul-mukul panci dengan spatula.
“Aria kenapa kau begitu?” tegur Izana, pasalnya Aria duduk di meja pantry menciptakan suara bising dengan wajah datar.
“Tumben bangun cepat.”
“Engga nyenyak tidur.”
“Aku lapar Bang”
“Ya masaklah, kenapa malah pukul-pukul panci?”
“Aku enggak bisa masak.”
Omong kosong apa itu? Jika dia tidak pandai masak jadi selama ini siapa yang masak. Izana mulai meragukan apakah yang di hadapannya itu adalah Aria asli atau setan yang menyamar.
“Siapa kau?”
“Apaan sih bang, aku Arialah.”
“Keluar dari tubuh istriku setan.”
“Abang yang setan! Aku lapar Bang cepat masak!”
“Sepertinya aku harus membawamu ke dukun.”
“Masak Bang, bukan ke dukun.”
“Aria kau sendiri tahu abang enggak bisa masak, mau kebakaran nih dapur?”
Aria benar-benar lapar tapi dia malas masak, dia mengambil nasi lalu di campur kecap asin. Lahaplah Aria makan hingga tambah tiga piring.
“Enak ya lauk kecap aja?” tanya Izana, dia berdiri di belakang Aria.
“Jangan dekat-dekat, Abang bauk.”
Izana malah memeluk Aria hingga Aria memberontak. “Lepas Bang aku mau muntah, Hueek.”
Izana melepaskan Aria, wanita itu lari ke wastafel memuntahkan apa yang ia makan. Izana hampir menangis, apa dia memang sebau itu hingga Aria muntah banyak sekali.
“Aria kamu kena-”
“Sudah ku bilang jangan dekat dekat! Bau!”
Paginya Izana tidak keluar kamar, dia tidak pede keluar gara-gara Aria. Bahkan dia menghubungi Zin untuk menyelesaikan semua pekerjaan, saat dia masuk dia tinggal tanda tangan saja nanti.
“Zin hari ini aku enggak ke kantor, kamu urus apa yang perlu diurus.”
“Baik Pak.” Zin langsung terima, alasan Izana mungkin pribadi, jadi Zin tidak menanyakan alasan, dia hanya perlu mengikuti perintah bos, begitulah cara kerja Zin dia tidak banyak protes ataupun mengeluh.
Izana benar benar down, dia bahkan merendam diri dengan air \+ parfum beberapa botol selama tiga jam dalam bathup. Dia merasa seperti cucian yang habis dikencingi anj\*ng, sengena itu perkataan Aria menamparnya.
“Kayanya aku sudah bersih, coba temui Aria sekali lagi.”
\>\>\>
“Hueek, pergi!” Aria lagi-lagi muntah, Izana putus asa. Sepertinya dia terkena kutukan bunga raflesia.
“Sebentar lagi sepertinya aku akan dikurabuni lalat.” frustrasi Izana kembali ke kamar untuk mengurung diri.
.
.
Ding dong~
“Ada di kamar, ketuk saja kamar yang itu,” tunjuknya.
Zin menurut, dia mengetuk pintu kamar Izana.
“Sayang a-.. hah Zin?” Izana kira mengetuk pintu Aria, padahal dia sudah semangat lagi tadi, kini kembali lesu.
“Pak Anda wangi banget,” kata Zin, memang Izana sangat wangi karena dia mandi parfum.
“Maksudmu busuk kan?”
“Ya ampun pak hidung saya masih normal, bapak memang wangi banget. Saya ganggu enggak nih pak takutnya bapak mau... hmmm.”
“Sudah jauhkan dulu pikiranmu itu, jadi mau mengapa kau ke sini.”
“Ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani hari ini, Pak.”
“Sini.”
Setelah sudah di tanda tangani semua Izana pun kembali bertanya. “Zin aku tidak marah kalau kau jujur, katakan apa aku bau?”
“Saya jujur Pak, Bapak wangi memangnya siapa yang bilang bau?”
“Aria, dia bahkan tidak boleh aku dekat-dekat”
“Tapi bapak enggak bau loh.”
“Benar kamu?”
“Benaran Pak, sumpah.”
“Ya sudah sana balik ke kantor.”
Izana kembali mengendus-endus tubuhnya, memang ia merasa tidak bau sama sekali. “Aria!” geramnya dalam diam.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.