Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 58


Langkah demi langkah membuat Aria cepek, kakinya sudah cukup jauh melangkah dengan seorang pria yang seakan tidak lelah sama sekali. Mata tajam itu menatap hingga menembus ke tulang, dia mengawasi gerak gerik Aria yang tampak lelah tapi enggan mengatakannya.


“Capek?”


“Enggak.”


Terlihat sekali Aria sedang berbohong, nafasnya bahkan tersengal herannya dia tidak mau mengaku.


“Kita pulang sekarang.”


“His aku enggak capek!”


“Enggak capek apanya? Itu nafas sudah kaya orang asma.”


“Aku belum mau pulang Bang.”


Helaan nafas berat Izana hembuskan, cuaca yang tadinya mendung berangsur panas, seharusnya mereka berteduh tapi Aria tidak ingin.


“Ok kita tidak pulang, di sana ayo kita ke sana.”


Sebuah kursi di bawah pohon rindang, tempat itulah yang ditunjuk Izana untuk membujuk Aria. Tatapan Aria berbinar senang, dia ikut saja asalkan jangan pulang sekarang.


“Ok ayo bang ke sana.”


“Abang pergi beli minum kamu tunggu di sini ya.”


“Jangan ke mana-mana,” ujarnya sambil berlari hingga punggungnya hilang dari pandangan.


Duduk di bawah pohon yang memberikan keteduhan rasanya ingin berlama lama saja di sini. Keringat Aria perlahan kering disapu angin sepoi-sepoi, semenit... dua menit.. lima menit.. Izana belum juga kembali, di mana dia beli minum?


“Aria?”


Aria menoleh ketika namanya disebut, orang itu adalah orang yang sangat ia benci. Dia adalah Sabir, senior di sekolah waktu SMA yang pernah menyatakan cinta dengan Aria. Pria itu jugalah yang menyebarkan gosip yang tidak-tidak hingga Aria dijauhi.


“Kebetulan sekali kita berjumpa di sini” Sabir mendudukkan dirinya di samping Aria, refleks Aria menjaga jarak hingga pria itu tersinggung.


“Kaka kenapa duduk?”


“Hei jangan begitu dong, beginikah sikapmu pada kakak kelas.”


“Itu dulu bukan sekarang.”


Pertanyaannya memang ke luka tapi matanya malah memperhatikan dada Aria, sadar akan hal itu Aria langsung berdiri tegap. Seperdetik kemudian dia merasa lega ketika melihat Izana datang mendekat.


Kening Izana mengkerut melihat Aria seperti terusik dengan keberadaan seorang pria, langkahnya semakin cepat untuk menghampiri, membiarkan istri cantik sendiri memang sudah risiko didekati pria lain.


“Sayang ada apa?” tanyanya namun mendapat tatapan keterkejutan dari Sabir.


“Sayang? Apa maksudmu dengan sayang?”


“Dia ini istriku wajar saja, Anda sendiri siapa?”


“Jangan bohong.”


Izana menahan tawa kemudian dia mencondongkan turunnya untuk berbisik di telinga Aria. “Sayang motor punya kita itu sebenarnya abang dapat dari orang ini.”


“Pfft sebenarnya dia juga kakak kelas yang pernah kuceritakan waktu itu” Balas Aria.


”Oh bagus dong, berarti abang sudah membalaskan dendammu, dia kemarin sempat abang tendang juga sampai pingsan. Apa itu cukup sayang?”


“Tidak.”


“Kalau begitu pergi tampar dia.”


Mereka berdua berbisik bisik sedangkan Sabir merasa diabaikan mulai geram, dia suka Aria sejak lama sebutan sayang dari pria asing membuatnya geram.


Sabir menarik tangan Aria menjauh dari Izana namun yang ia dapatkan adalah....


PLAK!


Sebuah tamparan keras dari orang yang ia tarik barusan, Izana tertawa sedangkan Aria berlari sembunyi di belakang Izana.


“Hah!”


“Itu hukuman karena melihat mesum istriku, pergi sana!, atau kau mau berkelahi dulu denganku?”


Sabir mendengus kesal, dia pergi begitu saja karena tidak mungkin dia menang dari Izana yang tubuhnya bidang dibandingkan dia yang kurus kering.


Tbc.