
Saat masuk ke rumah mereka disambut oleh seorang wanita dan juga Roni yang berdiri di tangga.
“Halo Aria, kamu yang sering diceritakan Ennie, ya?”
“Tante siapa?”
“Sahabat ibumu.”
“Terus ibu di mana?”
“Dia jalan-jalan ke luar negeri.”
“Mama tidak ada kenapa tante ada di rumah ini? kalian main belakang?”
Senyum Minah luntur, wanita ini terbiasa menggunakan otot dari pada otak. Dia tidak memikirkan tujuan Aria ke sini adalah untuk mencari Ennie bukan untuk menumpang berteduh.
“Aneh sekali, mama tidak ada kalian berduaan di rumah ini terus kantor diambil alih oleh Roni. Apa yang kalian lakukan pada ibuku!”
“Aria ibumu merilekskan pikiran di luar negeri, kasihan dia terbebani terus,” ujar Roni dengan lembut, dia mencoba memegang bahu Aria namun langsung Izana tepis.
Izana diam saja dari tadi karena sibuk memperhatikan Minah yang seperti orang yang dikenalinya, tapi menyadari tangan Roni ingin menyentuh bahu Aria refleks dia menepisnya.
“Izana aku hanya ingin menenangkan putriku.”
“Putri tiri jadi jangan berlebihan.”
“DI MANA IBUKU SIALAN!”
Gertakan Aria membuat Minah emosi, dia yang dasarnya memang separuh gila akan bertindak gegabah sesuai emosionalnya.
“Ahhhk,” jerit Aria ketika rambutnya dijambak, hal itu memancing amarah Izana dan terjadilah baku hantam antara Izana dan Minah.
Izana menarik Minah dan melemparkannya ke lantai, para pelayan hanya bisa menjadi penonton sambil membekap mulut masing-masing.
Setelah 7 menit mereka sama-sama terpukul mundur. “Oh kau hebat juga, siapa yang mengajarimu,” tanya Minah.
“Mamaku, dia sangat jago.”
“Mamamu mengajari berkelahi? dari umur berapa? sepertinya kau sudah ahli.”
“Dari umur 5 tahun.”
“Aku juga pernah mengajari anak laki-lakiku dari umur lima tahun, aku tidak ingin dia menjadi pria lemah seperti papanya.”
“Oh berarti wanita gila seperti mamaku masih banyak di dunia ini, mamaku juga berkata seperti itu.”
“Izana.”
“Oh aku Minah.”
Syuuuuh~~~
Mereka berdua mematung berkedip beberapa kali saling tatap dengan rasa tidak percaya. Deg deg deg. Suara detak jantung semakin memekakkan telinga, bulu kuduk masing-masing merinding dengan sikap yang tidak lagi siaga tempur.
“Izana ini kau Nak.” Minah berlari memeluk putranya. “Mama sangat rindu, rindu sekali. Ke mana saja kau selama ini mama mencarimu.”
“Mama?”
Sebagai seorang anak laki-laki yang bertahan sendiri Izana tentu saja merindukan ibunya juga. Selama ini dia hidup kesepian maka dari itu dia tidak mau kehilangan Aria sebagai teman hidup yang menerima keburukannya.
“Nak hiks, kau tumbuh sebesar ini dan aku tidak melihatnya sama sekali.”
Izana melepaskan pelukan penuh haru itu secara paksa, dia melirik ke arah Aria yang memasang raut bingung.
“Ada apa Izana, kau tidak merindukan mama?”
“Mah di mana mertuaku?”
“Me-mertua? Ah iya kau sudah menikah ya, ahahha dan putri Ennie istrimu. Aduh bagaimana bisa dunia sesempit ini.”
Roni sudah keringat dingin di sini, akankah Minah pindah haluan atau masih tetap stay, dia jadi sulit menelan liur sendiri.
“Mertuamu ke luar negeri,” jawab Minah sambil tersenyum. Roni langsung bernapas lega.
“Ternyata mama tidak berubah ya.”
“Apa maksudmu, Nak?”
“Aku tidak percaya mertuaku keluar negeri, keadaan rumah ini cukup membuktikan semuanya. Mama pasti melakukan sesuatu agar ibu mengalihkan kekayaan.”
Walaupun Izana adalah anak Minah dia tidak akan membela Minah, alasannya cukup simpel. Minah adalah wanita matre yang malas cari uang, Izana hafal itu. Mungkin Roni salah satu bidaknya sama seperti Adam dulu.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.