
Aria duduk di kursi roda sambil menggendong bayi perempuan nya yang sudah di putuskan bernama Clarisa Izara, panggil saja dia Clara.
Nama itu di berikan atas bentuk terimakasih atas pengorbanan Klara. Ya wanita itu meninggal, kini Aria dan Izana menghadiri pemakaman gadis itu. Walaupun habis melahirkan Aria tetap ingin ngelayat maka dari itu dia menggunakan kursi roda.
“Sayang, ayo kita pulang” Ajak Izana yang hendak mendorong kursi roda Aria.
“Tunggu dulu bang”
“Sayang jangan merasa bersalah begitu, Klara sudah tenang di sana. Setidaknya dia tidak perlu menderita lagi”
“Hiks, kenapa takdir Klara begitu buruk bang?”
“Takdir nya di dunia ini buruk namun abang yakin takdir nya di alam sana lebih baik. Kita pulang ya, cuaca mulai panas kasihan anak kita”
Klara pernah bilang, kalau dia sangat berterimakasih pada Aria. Kalian ingat dia berjanji ingin membalas kebaikan Aria dan Izana? (Coba lihat di ending part 132) gadis itu benar benar melakukan nya.
Berkat dia nyawa Aria dan bayi terselamatkan.
Hari demi hari entah kenapa berjalan begitu cepat, kalian tau? pasangan suami istri ini sering begadang kerna Clara sering terbangun malam.
“Mengurus bayi tidak semudah kelihatan nya ya sayang”
“Jangan mengeluh! itu cuci pantat Clara dia berak”
“Anak papa berak terus, apa asi mama mu bikin sakit perut? tapi papa gak sakit perut pun”
“Abang!”
“Iya iya ini juga mau di cucikan”
Begitulah keseharian mereka semenjak kelahiran Clara, Aria berubah jadi lebih cerewet! mungkin ini kutukan ibu ibu seluruh dunia.
Tapi mereka adalah keluarga kecil yang bahagia, sangat bahagia.
...\*\*\*...
Sementara di sini ada satu lagi wanita yang baru saja di nyatakan hamil, tidak ada yang mau bertanggung jawab dan dia juga di usir oleh mama di rumah.
“Hiks tak ada yang mau mengerti aku”
Putri, dia berdiri di atas gedung. Wanita yang selalu meminta di mengerti ini begitu prustasi ketika tidak ada lagi yang membelanya, termasuk Adam yang takut di tinggalkan amik.
“Aaaaa” Tariak histeris orang di bawah. Wanita di atas sana mau melompat.
Brak!
Kini Putri hanya tinggal nama, dia mati di tempat dengan darah yang mengalir di jalanan.
Semenjak itu Adam jadi gila, untuk ini rumah nya sekarang adalah rumah sakit jiwa, dulu dia menuduh Minah hingga istri pertamanya itu di bawa ke rumah sakit jiwa sekarang Adam lah yang benar benar gila.
“Zara, Zara anak papa eheheh maafkan papa” Ucapnya pada tiang, dia menangis memeluk tiang itu.
Putri yang selama ini dia anggap Zara udah mati bunuh diri, Adam yang tertanam jelas tentang tangisan Zara sebelum dia gantung seakan melihat wajah anak itu di mana saja.
“Zara papa tidak akan menyakiti Zara, Zara gantungan aja dulu nanti pas mama datang papa lepaskan biar Zara bisa main lagi sama abang Izana, iyakan”
Adam tidak pernah menyebut nama Putri dalam ketidakwarasan nya, itu berarti selama ini Adam menganggap Putri adalah Zara, anak yang ia bunuh dengan tanganya sendiri.
Sedangkan anak sulung nya yang hidup gelandangan dulu kerna kehadiran Putri, kini memiliki keluarga kecil yang selalu menunggu kehadiran nya.
Izana, dia tak mendapat kasih sayang yang wajar dari orang tuanya. Tapi sekarang dia mendapatkan lebih dari itu, keluarga kecil yang akan selalu dia lindungi.
Penderitaan yang dulu biarkanlah berlalu.
...**TAMAT**...
**Akhirnya tamat juga😭 , udah mau meledak nih otak 🤯. Author kasih bonus gambaran kehidupan mereka deh**.





**Terimakasih sudah bertahan di lika liku yang rumit ini bagi para pembaca**.
Gimana? endingnya sangat tidak terduga kan?, yang mengharapkan Klara dengan Zin maaf ya, Klara nya udah capek di dunia biarkan dia tanang di sana.
**Nantikan novel author selanjutnya, di jamin gak ngebosanin pokoknya author akan berusaha buat alur yang berbeda biar gak ketebak**.
See you\*\*.