
Bermacam pikiran buruk terlintas di otak Aria karena mendapati Izana tidak pulang semalaman. Ia ingat semalam Izana sedang sakit, entah apa yang terjadi, murung tambah murung tidak ada habisnya.
Tok tok tok
Aria berlari untuk membuka pintu.
“Aba-” Sapaan Aria tersendat karena bukan Izana yang ia lihat. Iya sih, kalau Izana tidak mungkin pria itu mengetuk pintu, dia memiliki kunci rumah sendiri.
“Hi apa kabar?”
Kaki Aria tidak bergerak, dia masih menghadang pintu masuk. Sungguh dia tidak menyangka orang ini akan datang ke rumahnya.
“Boleh aku masuk,” tegurnya lagi merasa tidak diberi jalan.
“Papa mertua?”
.
.
Adam duduk di sofa menunggu Aria yang tengah membuat teh, saat datang, Aria tetap menghormati Adam dengan menuangkan teh ke gelasnya.
“Izana mana?”
“Dia pergi sebentar, diminum Pah tehnya.”
“Terima kasih, baguslah dia keluar, kalau dia tahu aku datang mungkin dia akan menonjokku hingga babak belur.”
“Jadi apa yang membawa Papa ke sini?”
“Nak perusahaan ibumu itu masih butuh banyak dana, walaupun keadaan sudah mulai stabil.”
Kenapa tiba-tiba membicarakan perusahaan? Aria bahkan tidak peduli tentang itu. Hal ini seharusnya dibicarakan bersama Ennie bukan Aria yang bahkan tidak tertarik untuk meneruskan gelar CEO.
“Jadi?” jawab Aria.
“Begini saja, saya akan memberikan dana sepenuhnya asalkan kamu memujuk Izana untuk menikah dengan Putri.”
Jdeeer! Rasanya Aria mendengar suara petir yang keras walaupun kenyataan hanya dia yang merasa. Ternyata Adam datang demi Putri bukan demi bersilaturahmi dengan menantu.
“Maksud Papa bagaimana?”
“Kamu ingin berbakti pada orang tua kan? Ini kesempatanmu untuk membantu keuangan buk Ennie, jadilah anak yang membanggakan bagi orang tua.”
“Enggak Pak saya enggak mau.”
“Aria pikirkan sekali lagi, ini bukan nominal yang kecil loh.”
“Itu uang suami saya! Papa cuman meminjam ingat? Kenapa begitu berlagak menyogok saya dengan uang yang sebenarnya hak suami saya?”
Jdeeer! Sekarang gantian Adam yang merasakan ada suara petir. Perkataan Aria cukup melukai harga dirinya.
“Ka-kamu!” Baru saja memaki Adam melihat kertas di lantai yang terbang akibat kipas Angin yang menyapu meja di dekat jendela.
Dia melirik dan membaca tanpa memungut kertas itu, kemudian matanya membulat dan langsung mengambil kertas itu.
“Mandul?” senyum mengejek terlukis di bibir Adam, jantung Aria sudah hampir meledak saking kencangnya berdetak.
Srak
Aria merebut kertas yang menyatakan dia mandul itu dengan kasar dari tangan Adam, rasa hormat sudah lenyap sejak tadi.
“Kau mandul Aria?”
“Bukan urusanmu!”
“Apa kau tidak kasihan dengan putra ku? Wanita gagal sepertimu itu harusnya membiarkan suami dengan orang lain agar memiliki keturunan, jangan egois jadi istri.”
Perkataan itu membuat mata Aria memerah, genangan air sudah mengantre untuk turun dari situ, dia sudah tidak bisa berkata kata lagi. Di mana Izana? Dia butuh perlindungan sekarang.
“Pergi dari rumahku!”
“Kau yang seharusnya pergi dari kehidupan putraku, wanita mandul!”
“PERGI!!!” bentak Aria mendorong Adam untuk keluar.
BRAK!
Pintu tertutup kencang, Aria tersandung di belakang pintu dengan kaki yang meringkuk berusaha menyembunyikan suara tangisan, sungguh dia terlihat frustrasi sekarang. Wanita gagal? Sungguh sampah mulut yang mengatakannya.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.