
Alat-alat dapur yang dipesan sedang dipacking oleh karyawan toko, sembari menunggu Aria dan Izana menuju ke lantai dua tempat jual selimut dan seprai berada.
“Abang suka warna apa?”
“Putih.”
“Ok kalau begitu aku ambil warna putih, abu-abu dan coklat. Cantik kan? Nanti ini bisa dikombinasikan biar terlihat mewah, misalnya seprai putih sama selimut yang abu-abu dan banta juga abu-abu, pokoknya begitu, deh.”
Aria hanya mengambil tiga pasang saja, hanya itu. Mereka kembali lagi ke lantai dua dan ternyata semua sudah siap untuk diantarkan ke alamat.
Mobil yang membawa barang mengikuti motor Izana dari belakang untuk menuju ke alamat kontrakan mereka tentunya.
Sekarang semua sudah sampai bahkan sudah disusun rapi oleh Aria, alat-alat yang mereka beli juga dicuci walaupun sudah bersih.
“Oh capeknya,” keluh Aria merebahkan diri di atas kasur.
“Benaran capek?”
“Iyalah.”
“Tapi enggak capek banget kan?”
“Memangnya kenapa? Abang mau bawa aku ke pasar untuk belanja sayur, ya?”
“Hais itu besok saja ini sudah malam, Abang mau mintak jatah.”
18+ Area
Seketika Aria terduduk, ia mengerti apa yang dimaksud Izana, hanya saja tidak menyangka akan secepat ini untuk berhubungan normal selayaknya suami istri. “Ja-jatah apa?” tanyanya memastikan. Takutnya dia salah sangka dan berakhir malu.
“Jatah seperti ini!” Tanpa basa basi Izana menarik Aria kembali berbaring, Aria yang kebingungan bagaimana caranya menolak mendadak kaku total membuat Izana bebas meraba ke sana kemari.
“Jangan terkejut, ini bukan yang pertama kalinya bukan? Santai saja,” pujuknya pada sang istri yang gemetaran. Ini bukan soal takutnya tapi lebih ke malu, walaupun bukan untuk pertama kali Izana melihatnya tetap saja malu itu ada.
“Apa harus melakukan itu?” tanya Aria dengan sedikit takut.
Sepertinya melawan juga tidak ada gunanya, memang inilah kewajibannya. Adakah alasan untuk menolak? Ada, tapi bukan untuk sekarang.
>>>
Kini keduanya polos bahkan Aria terbakar hasrat bergerak tidak karuan hanya dengan tangan Izana yang bermain di tubuhnya. Rasa malu itu hilang dengan rasa yang ingin lebih lagi dan lagi.
“Ahkk langsung saja, apa yang kau tunggu,” marah Aria yang merasa dipermainkan oleh Izana.
“Sabar,” jawabnya dengan tangan yang masih menggoda pelan hingga Aria merasa tersiksa. Izana merasa menang karena berhasil membuat istrinya melebarkan paha dengan sendirinya.
“Sialan cepatlah! Ini gatal sekali,” keluh Aria menggeliat tak karuan karena Izana berhenti menyentuhnya. Melihat Izana hanya menontonnya saja membuat Aria kesal.
Tatapan itu, ah maksudnya tatapan Izana.. Dari mata pria itu Aria menyadari bahwa Izana tidak akan melanjutkannya, dia sengaja terus memancing Aria kemudian lepas tanggung jawab.
“Ah sial aku mengerti maksudmu.”
Izana tersenyum senang ketika Aria menindihnya bahkan memasukkan benda itu sendiri. Ya inilah yang Izana mau, Aria di atas.
Walaupun pergerakan Aria berantakan tapi ini sungguh memabukkan, apalagi melihat ekspresi Aria yang teramat seksi, cukup lama Aria di atas barulah Izana mengambil kendali.
“Capek?” tanyanya.
“Engg” Aria mengangguk dengan peluh yang membasahi rambutnya.
“Baiklah, sekarang giliranku.” Izana membalik tubuh Aria, dia yang akan ambil kendali untuk bergerak.
Ya begitulah hal itu terus berlanjut dengan berbagai macam gaya hingga keduanya tertidur dalam keadaan lelah dan polos.
Tbc.
...Like, Vote dulu sebelum lanjut. Jadilah pembaca yang tahu cara menghargai karya seseorang.
...