
Ennie langsung dibawa ke rumah sakit setelah ditemukan di terminal terbengkalai, keadaannya cukup parah, kini koma karena tidak mendapat makan dan minum selama 4 hari ditambah lagi dengan siksaan fisik.
“Hiks aku tidak rela aku sumpahi dia mati,” kata Aria, bukan Ennie yang dimaksud tapi Roni yang terbebaskan dari tuduhan entah karena apa, sedangkan Minah kembali dipenjara.
“Sayang sudah jangan menangis lagi.”
“Ibu koma kaya begini sedangkan Roni tidak dihukum apa-apa selain denda. Itu pun dia bayar pakai uang ibuku, ini tidak adil bang bahkan semua harta hasil kerja keras ayah dan ibu sekarang semua atas nama dia huhu.”
“Jadi mau harta itu?”
“Enggak, aku mau hancurkan saja semua itu.”
“Baiklah,” kata Izana. Kalian tahu? Dia merasa sangat bersalah sekarang, karena yang membuat mertuanya seperti ini adalah mama kandungnya sendiri.
Untuk menebusnya Izana berniat mengabulkan permintaan Aria barusan.
“Abang telepon Theo untuk temani kamu di sini ya.”
“Memangnya abang mau ke mana?”
“Ada urusan sebentar.”
Cup.
Sebelum pergi Izana selalu melakukan kebiasaannya, kalau tidak diamerasa ada yang kelupaan.
15 menit kemudian Theo datang.
“Kak Aria.”
Ini kesempatan untuk Aria bertanya, dari semalam dia kelupaan karena sibuk mengkhawatirkan Ennie.
“Theo sini duduk ada yang ingin kakak tanyakan.”
“Apa Kak?”
“Itu bagaimana Roni enggak dapat hukuman?”
“Tidak tahu Kak, tugas kami hanya menangkap. Hakimlah yang memutuskan hukuman.”
Benar juga, Theo tidak mungkin ikut campur dalam urusan itu walaupun papanya orang penting di kepolisian tapi dia bukanlah hakim.
Di sisi lain Izana melangkahkan kakinya di koridor mewah dengan setelah yang tidak biasanya. Siapa pun akan menoleh pada laki-laki memakai jas hitam dengan langkah arogan, para wanita mencoba menahan teriakan mereka melihat sosok gagah itu.
Brak!
“Izana?”
“Keluar!”
“A-apa?” Adam jadi merinding, ini tidak seperti yang ia pikirkan kan?
“Papa mulai sekarang aku yang jadi bos di sini, Anda bisa pulang untuk mengemasi barang barangmu dari rumahku itu.”
Sedangkan sekretaris Adam hanya diam sambil membatin. Oh jadi dia yang namanya Izana si pemilik asli perusahaan. Rumor tentang Adam bukanlah pemegang asli sudah lama tersebut di antara karyawan, dan nama Izana cukup terkenal namun mereka tidak tahu wujudnya.
“Izana papa mohon jangan seperti ini,” mohon Adam.
“Sudah aku peringatkan kalau aku akan mengambil hakku kan? Sekaranglah waktunya. Kemarin kau ada menjumpai istriku! Apa kau bilang? Wanita gagal? Cih kan kupastikan kau yang akan menjadi pria gagal.”
“Izana papa akan minta maaf pada istrimu, jadi..”
“Papa lebih baik kau pergi sendiri sebelum kau malu kutendang dari ruangan ini.”
“Nak kau anakku-”
“Anakmu Putri! Bukan aku!” gertak Izana.
Adam tersentak, dia sadar kalau dia tidak membesarkan Izana atau pun memberikan kasih sayang. Jangan kan kasih sayang bahkan Adam terus terusan mengibarkan bendara perang pada Izana.
“Bawalah istri dan anak kesayanganmu itu pergi, hiduplah kalian menjadi gelandangan seperti aku sebelumnya.”
Adam keluar dengan sendirinya, dia tidak mau dilempar Izana keluar. Jika ada orang yang melihat dia pasti akan malu.
Sampai di sini.
Selesai sudah perjalanan Izana sebagai begal, dia mengambil apa yang memang sejak awal miliknya. Demi menebus rasa bersalahnya pada Aria, dia terpaksa mengambil langkah ini karena dia memang butuh kekuasaan untuk melindungi istrinya yang terus terusan tertimpa masalah.
Tbc.
Butuh 100 episode ya buat Izana melepas status begalnya😅. Author sudah nahan diri sejak lama buat ini, akhirnya nemu momen yang pas. Tapi kok rada sedih ya Izana enggak jadi begal lagi😰.
Ok nantikan kelanjutan nya.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.