Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 21


“Izana kau membawa barang baru lagi,” Sambut pria berusia 40 tahun dengan semangat, ini adalah salah satu bengkel tempat menjual barang curian.


“18 juta aku jual,” kata Izana to the point seolah tidak mau kurang dari itu lagi.


“Ayolah bro itu kemahalan, ini motor yang enggak ada suratnya ya kan?”


“Pak Ramli ini motor baru, kau bisa merombak dan membuat surat palsunya kan? Ini kalau dijual lagi setelah dibuat surat bakal laku 25 juta, semuanya masih baru, lihatlah.”


“Tidak Izana, 18 juta itu kemahalan.”


“Baiklah ini tidak jadi kujual, lebih baik aku bongkar saja mesin-mesinnya lalu kujual ke bengkel lain.”


“Hais kau ini memang keras kepala, baiklah 18 juta,” pasrah pak Ramli menyanggupi harga yang diusulkan Izana.


“Ok Deal.”


Mana bisa pak Ramli menolak mesin baru, motor ini bisa dia rombak dengan mengambil mesinnya lalu mengganti mesin lama ke dalam motor tersebut, mesin baru bisa dia jual sekaligus motor yang sudah dimodifikasi dengan harga mahal, dia akan doble untung.


Setelah menerima uang masuk ke dalam rekeningnya Izana pergi ke salah satu motor yang terparkir di halaman.


“Woi mau kau bawa ke mana motorku?” jerit Pak Ramli.


“Pinjam, aku mau cari kontrakan.”


“Oh tak biasanya kau mencari tempat tinggal, biasanya tidur di bawah jembatan, taman, bawah pohon atau ruko kosong.”


“Aku sudah punya istri, tak mungkin dia tidur di jalanan sepertiku juga.”


“Apa!” jerit Pak Ramli beserta montir-montir lakinya di situ, mereka sudah kenal lama dengan Izana, tentu saja pernyataan Izana barusan membuat mereka jantungan.


Brum~~


Izana pergi begitu saja membawa motor pak Ramli, sedangkan si pemilik masih terdiam membatu bersama para karyawannya.




Kembali lagi ia memasuki area bau tempat istrinya ditinggalkan.



“Assalamualaikum.” Waw ternyata begal ini bisa juga mengucapkan salam.



“Masuk Nak,” jawab pak Iky mempersilahkan.



Melihat wajah orang tua yang pernah dia pukuli membuat Izana merasa segan jika masuk ke rumahnya.



“Apa yang kau tunggu Nak, ayo masuk Aria sudah menceritakan semuanya.”



Kerna terus didesak, Izana pun masuk. Di tepi ruangan dia lihat Aria tertidur beralaskan tikar. Pak Iky pun mengikuti arah pandangan Izana.




“Ah aku sudah minum,” balasnya sambil menunjukkan minuman ion botol yang ada di tasnya.



Pak Iky duduk di tengah-tengah ruangan sembari menyuguhkan toples yang berisikan biskuit, Izana ikut duduk menerima biskuit tersebut, sambil ngemil, mereka bercakap cakap ringan.



“Jadi kalian akan mencari kontrakan.”



“Iya Pak.”



“Se andainya rumah ini punya kamar, bapak tidak keberatan menerimamu.”



“Maksud Bapak?”



“Kalian suami istri pasti butuh ruangan untuk ehem-ehem.”



“Ohh kalau itu memang iya,” jawab Izana setuju dengan kepala diangguk-anggukkan sambil mengunyah biskuit.



“Ahahah dasar anak muda,” ekeh pak Iky dengan tangannya menepuk-nepuk pundak Izana. “Jadi sudah dapat kontrakannya?”



“Sudah.”



“Berapa per bulan?”



“800 ribu, lumayanlah ada dua kamar, dapur, dan kamar mandi dalam, sofanya juga ada. Jadi tinggal cari kasur, bantal, selimut, sama alat masak aja nanti. Bapak mau tinggal bareng?”



“Mana bisa, bapak kerjanya di sini.”



“Ohh ok.”



Tbc.