Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 36


Hari ini adalah hari ulang tahunnya mendiang ayah Aria, biasanya di tanggal ini Aria akan pergi ke makam membawa kelopak bunga untuk di tabur di makam.


“Hari ini ulang tahun ayah ku, aku ingin jenguk ke makam bang” Kata Aria pada Izana yang tengah memakai baju sehabis mandi.


“Ya sudah ayo,” ajak Izana, tadinya dia mau pergi ke bengkel pak Ramly, setelah mendengar ucapan Aria barusan sepertinya dia akan merasa bersalah jika tidak menemani Aria.


Akhirnya pagi ini mereka berangkat ke kota sebelah, rencananya mereka akan menginap beberapa hari di rumah Ennie.


.


.


Setelah 4 jam perjalanan sampailah mereka ke tujuan. Kebetulan Ennie tidak berangkat ke kantor karena merasa tidak enak badan, jadi Aria tidak perlu berurusan dengan papa tiri.


“Ibu pasti capek, jaga kesehatan Bu, jangan kerja terus,” nasehat Aria yang tahu Ennie terlalu bekerja keras untuk menormalkan kembali kantor.


“Iya, kalian istirahat juga dulu, capek kan habis jalan jauh, ke makamnya nanti sore saja.”


“Enggak ah kami mau berangkat sekarang, nih lihat sudah dapat bunganya, tadinya mau mengajak Ibu tapi keadaan Ibu kayak begini lebih baik Ibu tinggal aja.”


“Eh kamu ini, ibu kan belum mengobrol dengan Izana.”


“Ada tuh dia di depan sama si buncit, kami menginap beberapa hari di sini nanti mama bisa mengobrol puas dengan dia, ya sudah aku pergi ya.” Setelah melihat ibunya yang tidak bisa ikut, Aria keluar menghampiri Izana dengan Roni yang duduk di sofa berdua namun saling diam diaman.


“Papa mertua tiri enggak ingat aku ya?” Izana berencana jahil pada sosok yang hanya diam menatapnya tidak suka.


“Kau ini ngomong apa bocah?”


“Papa mertua tiri sepertinya tidak menyukaiku, aku akan menginap di sini beberapa hari bagaimana kalau nanti malam kita main catur agar papa tiri tahu kalau aku ini menantu idaman.”


Roni menatap wajah Izana lebih intens, pemuda itu sepertinya bukan orang yang mudah untuk dia singkirkan, semakin lama dia melihat semakin familier wajah Izana.


“Sepertinya sebelum pernikahanmu dengan Aria aku pernah melihat wajahmulah, tapi di mana?”


“Hahah,” tawa Izana, dia membayangkan ekspresi Roni jika tahu kalau dia pernah mencuri brangkas di kamar Roni bersama dengan Aria.


“B-bang ayo pergi.” Aria yang panik jadinya melihat tingkah Izana. Bagaimana kalau Roni ingat? Bisa gawat kan?


“Sayang mamamu mana?” Sebutan sayang sengaja Izana lanturkan untuk memanasi Roni. Izana sadar kalau Roni menyukai Aria dari cara papa mertua tirinya itu cemburu dengan kehadiran Izana.


“Dia sakit jadi tidak bisa ikut, kita berdua saja yang pergi.”


“Oklah sayang, Papa mertua tiri kami berdua pamit dulu ya nanti aku belikan martabak.”


“Eh sayang lukisanku di lehermu belum hilang juga ya?” lanjut Izana sengaja membesarkan suara.


Duar! Meledak sudah otak Roni, dia mengepalkan tangannya erat juga meneguk air saking panasnya, saingannya adalah menantu sendiri bukankah ini seru?.


.


.


Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di TPU mungkin jaraknya sekitar dua puluh menit. Aleo Briyono bin Gibran Briyono, itu adalah nama yang tertulis di batu nisan yang terukir indah.


“Aleo, jadi itu nama papa mertuaku,” ucap Izana dalam hati.


Aria membaca Ayat pendek sembari menaburi bunyi di atas tanah kemudian bergantian dengan Izana melakukan hal yang sama.


“Yah ini Izana suamiku, dia adalah seorang begal apa yang harus aku lakukan?”


“Hus jangan begitu, kau harus bicara yang baik-baik tentang aku di depan ayahmu,” tolak Izana yang kaget dengan aduan Aria pada ayahnya.


“Aku hanya bertanya apa yang harus aku lakukan, salahkah?”


“Ya jangan bilang kalau aku begallah his~. Ayah mertua aku adalah orang baik dan suka menolong, jangan dengarkan perkataan Aria ya, dia berbohong.”


“Lah?”


“Aduh perutku!” Tiba-tiba perut Izana sakit, dia bahkan tak bisa menahan kentut.


Buuut 💨


“Abang! Enggak sopan banget kentut di depan kuburan ayah!” jerit Aria kaget mendengar suara kentut yang besar itu.


“Maaf Ayah tapi perutku sakit banget, Aria kau tunggu di sini sebentar ya abang mau ke toilet dulu,” izinnya kemudian lari mencicing sebelum tainya keluar sendiri.




“Terberak-beraklah kau di sana Izana,” gumam Roni sembari memperhatikan gelas yang tadi airnya di minum Izana sampai habis.



Tbc.