
Di sini Samuel menunggu Dendy bersama Moon yang sibuk bekerja, pelanggan sudah pada pergi jadi mereka tinggal berdua saja. Canggung? Tidak juga kerna Samuel berada di meja pelanggan bukan berada di hadapannya.
“Mau minum sesuatu?” ujarnya menawarkan, tidak enak rasanya jika dia hanya berdiam diri saja sementara ada orang bermeja kosong di sini.
“Es teh saja,” jawab Samuel menghargai tawaran Moon.
Kenapa tidak dari tadi. Batin Moon berjalan pergi untuk membuatkan pesanan Samuel.
Moon datang dengan segelas es teh di tangannya. Hmm kenapa belum keluar juga? Maksudnya Dendy dan Sesil. Moon mencoba acuh dan kembali ke meja kasir.
Tiga puluh menit! cukup lama. Orang yang ditunggu akhirnya keluar, apakah mereka menyelesaikan dulu permainan dosa mereka? kayaknya begitu, melihat Sesil yang juga keluar dari ruangan.
“Sudah selesai?”
“Ternyata Abang masih menunggu, aku kira sudah pulang.”
“Aku sudah jauh datang ke sini, tak mungkin membawa tangan kosong kembali. Dan kau..”
Merasa di tunjuk, Sesil menaikan alisnya. Kenapa tiba tiba aku? Tentu saja Sesil tak mau ikut campur urusan dua bersaudara ini, dia hanya sebagai penikmat uang saja.
“Kau tahu Dendy ini sudah punya banyak istri?”
“Tahu.”
“Jadi kau ingin menjadi istri selanjutnya?”
“Tidak, kami hanya berpacaran untuk sekedar bersenang-senang tidak lebih.”
Begitu enteng Sesil mengatakannya, dia wanita yang tidak punya harga diri. Uang uang dan uang saja yang ada di dalam otaknya, apa itu cinta?
B*tch Itulah yang terlintas di otak Samuel, kata itu memang cocok untuk Sesil yang tidak menghargai tubuhnya sendiri. Sesil tidak akan marah dikatain seperti itu, dia sudah terbiasa memang pada dasarnya itulah dia.
“Sesil kau.. Aku kira kau tulus denganku.” Kecewa, pria bodoh ini baru tahu kalau dia dimanfaatkan. Wanita mana yang mau dengan lelaki yang memiliki banyak istri? Mungkin kalau Dendy adalah raja Sesil akan pertimbangkan.
“Kalau gitu ayo kita menikah,” ajak Dendy yang lupa diri kalau dia sudah punya banyak istri.
Mana mungkin Sesil menerimanya, dia bukanlah wanita bodoh. “Tidak mau! walaupun begini aku tetap menginginkan apa yang diinginkan wanita lain, yaitu menjadi wanita satu-satunya.”
Bagai tersambar petir, ini kedua kalinya Dendy mendapatkan penolakan. Sesil masuk dalam tipe nya, hmm tidak! maksudnya Sesil telah mencuri hati Dendy entah bagaimana caranya.
Untuk pertama kali, Dendy menyesal telah menikahi banyak wanita. Bisakah waktu diputar? Sebenarnya apa benar Dendy menyukai Sesil atau hanya sekedar tertarik sesaat saja? Dia pun bingung.
“Kau sudah dengarkan Dendy? Ayo kita pulang,” ajak Samuel tapi Dendy tidak bergerak dari tempat. Dia masih berada dalam fase kekecewaan yang berat, mata Dendy menatap Sesil dengan sendu tapi wanita itu tampak biasa saja.
“Sesil apakah kita masih bisa melanjutkan hubungan ini?”
“Tentu saja, aku tidak akan menolak kalau hanya sekedar untuk pacaran.”
Jawaban yang sangat terus terang, Sesil tidak mau Dendy berharap lebih. Menikah katanya? cih menjijikan. Mana mau Sesil walaupun dia mata duitan, apa arti uang tanpa kebebasan?
Cukup tegang walaupun hanya sebagai penonton, itulah Moon. Dia tidak berkata apa-apa sejak kemunculan dua orang yang ditunggu Samuel.
“Moon aku akan menghubungimu jika Dendy hilang lagi, kau tidak keberatan kan?” ucap Samuel.
“Iya tidak apa-apa.”
Tbc.
Bonvis Samuel dan Moon