Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 119


Pintu ruangan kembali terbuka setelah tak lama Cindy keluar, Aria menoleh melihat Zin datang dengan beberapa kertas di tangannya.


“Nona ini ada daftar maid, pak Izana menyuruh saya untuk memberikan ini pada Nona. Silakan pilih salah satu katanya.”


Kertas yang merupakan kumpulan biodata itu ditaruh di atas meja. Aria membaca satu persatu, rata-rata ibu-ibu, ternyata Izana menepati omongannya.


“Aku hanya butuh paling tidak sembilan bulan, aku pilih satu nanti kau beritahu pada mereka.”


“Baik Nona.”


“Ini, Ibu yang ini saja.”


Calon maid yang dipilih Aria adalah ibu-ibu yang agak gendut berambut pendek. Dia sengaja memilih yang tampangnya kurang, ibu-ibu juga bisa genit iyakan?


“Baiklah nona kalau begitu saya permisi dulu.”


🪶🪶🪶


Dua puluh menit kemudian Izana datang. Dia langsung baring di pangkuan Aria. “Kata Zin ibu itu setuju, besok dia akan datang.”


“Hmm.”


“Bang duduk yang benar, kau berat.”


“Baby papa apa kabar?” Izana menghadap perut Aria, sesekali mengecupnya.


“Dia belum bisa bicara Bang.”


“Kata orang berkomunikasi dengan jabang bayi itu bagus.”


“Dia masih bentuk kacang, telinganya belum terbentuk mana bisa dia dengar Abang.”


“hahah~ iya juga, tapi tidak apa-apa aku akan tetap berbicara, anggap saja pakai ikatan batin. Dia ada menendang-nendang enggak sayang?”


“Astaga telinganya aja belum terbentuk apalagi kaki! Mau menendang pakai ikatan batin?”


Izana tertawa geli, lucu sekali istrinya ini. Izana mendudukkan diri lalu dia mengangkat tubuh Aria untuk di pangku. “Sayang kamu mau makan apa?”


“Lagi ingin makan gorengan kayanya.”


“Ya sudah ayo kita beli, sekalian pulang.”


“Pekerjaan Abang sudah selesai?”


“Biar Zin yang bereskan sisanya.”


Mereka pun pergi meninggalkan kantor.




Besoknya pagi-pagi bel apartemen berbunyi, Aria terbangun untuk membukakan pintu.



“Kamu siapa?” tanya Aria pada orang asing yang datang.



“Saya maid yang Anda panggil semalam.”



“Kayanya kamu salah alamat deh, bukan kamu yang saya panggil.” Yang Aria panggil semalam itu ibu-ibu bukan anak gadis manis seperti ini.



“Ah itu tolong maaf, yang ada di biodata itu adalah ibu tiriku sedangkan yang kerja adalah aku. Sekali lagi maaf.”



“Ini namanya pemalsuan identitas, pergi kau aku tidak mau penipu sepertimu.”



Sruk.




“Hei berdiri, jangan berlutut seperti itu. Kau laporkan saja ke polisi ibumu.”



“Tidak bisa, dia sudah membesarkanku sudah sewajarnya aku membalas budi.”



“Siapa yang bilang begitu?”



“Ibuku.”



“Kalau begitu cari yang lain saja, aku tidak butuh kau!”



“Kenapa Nona?”



“Nanti kalau kau menggoda suamiku bagaimana?”



“A-aku sudah beberapa kali menjadi maid dari tuan yang berbeda. Tuan rumah itu sering melecehkan ku jika istrinya tidak di rumah, saya trauma dengan laki-laki Nona hiks tapi aku butuh pekerjaan. Aku tidak pernah menggoda mereka selama ini, bahkan menatap laki-laki saja aku takut.”



“Kau trauma laki-laki?”



“Eng.”



“Apa kau bisa dipercaya?”



“Tentu saja nona, aku bersumpah.”



Aria berpikir sebentar, Izana bukanlah hidung belang, yang sekelas Putri dan Cindy saja tidak ia lirik. Gadis di hadapan Aria ini tidak lebih cantik dari dua wanita penggoda itu, itu artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Aria lebih baik dari mereka semua dari segi mana pun.



“Baiklah kau diterima, tapi saat selesai masak makan malam kau harus pulang.”



“Iya, terima kasih.”



Tbc.



Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.



Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.