Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 43


Brum~


Terdengar suara motor yang berbeda dari biasanya di luar, Aria pergi mengecek siapa yang datang ternyata itu adalah suaminya.


“Bang itu motor siapa lagi yang kau bawa?” kata Aria setelah melihat motor sport hitam yang tampak masih baru.


Senyuman terukir di bibir Izana, sambil menepuk jok motornya dia berkata, “ini motor kita.”


Drap drap drap


Aria berlari mendekati motor itu, dia melihat dari ujung ke ujung, keren sih tapi tidak mungkinkan Izana membelinya. “Kau merampas di mana lagi? kenapa di bawa pulang nanti pemiliknya kenal bagaimana?” bisik Aria pelan takut ada tetangga yang dengar.


“Enggak Sayang, ini sudah di modifikasi sampe akar-akarnya.”


“Baguslah, yok masuk dingin nih.”


.


.


Setelah selesai mandi Izana mendapati Aria yang tengah memakai skincare rutin di depan cermin. Dia memeluk dan menghirup aroma tubuh Aria melalui ceruk leher.


“Nanti saja pakai skincare nya sehabis bercinta.”


“Engga bisa, aku lagi datang bulan ini.”


Pelukan itu melonggar dengan tatapan kecewa yang ingin mengeluh, padahal yang di bawah situ sudah tegang kerna sejak tadi dia membayangkan pergulatan di ranjang.


“Tidur ya.. Abang pasti capek,” pujuk Aria karena tahu suaminya kecewa.


“Kenapa cewek harus ada yang namanya datang bulan sih?”


“Engga tahu, tanya sama Tuhan sana. Huamm~ ngantuknya.”


Aria berbaring di kasur menarik selimut hingga tubuhnya tenggelam, baru saja terpejam sebentar selimutnya ditarik oleh Izana.


“Jangan tidur dulu kau, tiduri tit¹tku dulu.”


“Lah Bang aku kan datang bulan, bagaimana caranya?”


“Ada banyak cara Sayang, sini aku ajarin.”


Pada akhirnya malam itu Aria tetap harus memuaskan hasrat Izana walaupun hanya menggunakan tangan dan mulutnya, tangannya bahkan sampe pegel hingga pagi.


...***...


“Ih Sayang aku mau beli lipstik keluaran baru Dior itu loh,” rengek Sesil karena Dendy tak ingin jalan lagi sebab capek terus berkeliling.


“Sayang kita istirahat sebentar ya, sebentar aja aku capek banget.”


“Kamu kok gitu, kamu enggak sama sayang aku ya? Padahal cuman jalan sebentar bilang aja kamu gak mau belanjain aku lagi.”


“Ok baiklah jangan ngamebek, ayo kita pergi ke lapak Dior kamu pilih aja apa yang kamu mau.”


Sesil senang sekali, dia melihat-lihat warna yang sekiranya cocok dengan dia. Ada satu warna yang ingin ia ambil tapi malah benturan dengan tangan wanita lain.


“Putri?”


“Sesil?”


“Ngapain kau di sini?”


“Ngapa memangnya, suka-suka aku dong mau kemana? Ih iya ini lipstik untuk aku ya.” Baru saja Putri ingin mengambil lipstik itu tangannya langsung digeplak oleh Sesil.


“Aku yang duluan.”


“Enak aja aku yang duluan ya, memangnya kamu punya uang buat beli, ini mahal loh Sil.”


“Kalau aku ingin ambil berarti aku ada uang, aku cari sendiri enggak kaya kamu yang mintak sama bapak yang bahkan bukan bapakmu.”


“Uang sendiri? Enggak dibayarin salah satu koleksimu tuh? Dasar lont3, eh cowok lu jangan percaya sama Sesil dia ini rela tidur dengan siapa saja demi uang.”


“Mulut busukmu itu tidak pantas mengomentari aku, kau itu sampah Put gara-gara kau Ella mati disusul keluarganya. Bersyukurlah kau punya papa tiri yang menyuap untuk menutup kasus itu, ingat aku tidak akan melupakan itu, sampai kapan pun aku tidak lupa.” Sesil pergi menyeret tangan Dendy yang hanya diam sejak tadi, dia membiarkan lipstik itu diambil oleh Putri.


Di sini putri menahan air mata yang menggenang, dulu Putri, Sesil dan Ella adalah sahabat. Tapi persahabatan mereka pecah setelah kematian Ella dua tahun yang lalu, Sesil selalu menyalahkan Putri hal itu lah yang membuat mereka bertengkar hingga kini, mereka saling membenci.


Tbc.


Sesil



Dendy



Putri