
Byur!
Guyuran air membangunkan Ennie dari lelap. Dia berada di ruangan sempit berdebu tebal dan gelap, matanya melirik ke sana ke mari dengan otak yang mencoba mencerna.
“Sudah bangun.” Suara wanita menyadarkan Ennie bahwa sebelumnya dia dibawa dengan cara yang kasar.
“Kau Minah!”
Kalian tahu siapa Minah? Di flasback Izana di ceritakan tentangnya, dia adalah ibu kandung Izana, ingat? Sebuah kebetulan yang tidak di sengaja.
Minah duduk di kursi kayu dengan kaki tersilang anggun. Gaunnya sangat seksi bahkan menampakkan celana d*alam merah saking pendeknya gaun ketat itu.
“Apa maksudmu menculikku seperti ini!?”
“Alihkan kekayaanmu atas nama Roni.”
Kenapa Minah tidak meminta untuk namanya sendiri? Kerna dia adalah wanita yang tidak mau bekerja, biarkan Roni yang menghasilkan uang sedangkan dia adalah penikmatnya.
Tidak semudah itu! Ennie lumayan keras kepala ok. “Tidak bisa! Kekayaan itu akan menjadi milik putriku setelah aku mati nanti.”
“Mengertilah, aku tidak akan berbaik hati padamu jika terus keras kepala.”
“Persetan!”
Plak!
“Tamparanmu tidak seberapa dengan usahaku.”
Plak!
“Kau wanita hina!”
Bugh!
“Ahhhk!” Segala mendapat tamparan dua kali, Ennie kini merasakan sakit diperutnya akibat tendangan keras Minah. Hal itu terus berlanjut sampai Ennie kembali pingsan.
Kontak batin antara ibu dan anak antara Aria dan Ennie sepertinya tidak kuat atau bahkan tidak ada? Entahlah. Di saat Ennie di sana sedang tersiksa di sini Aria tengah tertawa Ria menertawakan Sari.
“Capek aku di panggil tante-tante terus, memang muka aku tua apa?” rutuk Sari kesal.
“Kau itu kaya orang bule, gayamu juga dewasa jadi wajar ajalah ahaha”
“Tapi masih mending aku kan dari pada Tati yang kaya ibu-ibu.”
“Eh sekarang apa kabar dia ya? sudah dua tahun loh kok belum keluar?”
Jelas saja Aria heran, Tati kena pidana satu tahun tapi sudah dua tahun dia tidak menampakkan batang hidungnya di daerah ini.
“Kau enggak tahu ya?”
“Apa?” Aria penasaran.
Siapa yang peduli? Aria sudah menaruh rasa benci pada Tati, walaupun begitu Aria tidak memusuhi keluarga Tati. Cukup Tati saja, keluarganya tidak salah apa-apa.
“Aria sebaiknya kau pindah rumah aja deh, dari pada nanti pas Tati pulang kamu ketemu dia.”
“Ah aku malas pindahan, capek!”
“Dekat sebelah rumah ku kosong loh, katanya dikontrakan.”
“Enggak aku di sini saja malas angkat-angkat barang.” Pindahan itu memang repot, itu salah satu alasan Aria menetap.
“Ibuku juga begitu, dia malas pindah ya karena memikirkan barang dan kemas-kemas, ibumu bagaimana?”
“Ibuku dia jarang di rumah, seringnya di kantor. Mungkin sekarang dia lagi sibuk dengan tumpukan kertas dan komputer.”
“Ahaha jadi wanita karier sibuk ya.”
Di waktu yang sama...
Komputer? Kertas? Tidak! Dia tengah berbaring dengan gaya meringkuk, sulit menggambarkan rasa sakitnya bahkan buliran bening tidak lagi keluar di raut pasrah itu.
“Tanda tangan!”
“... ”
“Dia traumatis Minah! Kau terus menyiksanya,” sambung Roni.
“Alah baru begini aja sudah tumbang, lemah banget.”
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.