
Konyol sekali mengingat bertapa bodohnya Izana semalam. Sekarang dia yakin kalau dia tidak bau, Arialah yang memang ingin menjauhinya.
Izana masuk ke kamar utama untuk mengambil pakaian, tapi wanita di atas ranjang itu malah tutup hidung. Izana cuek, dia mengabaikan Aria seolah wanita itu transparan.
“Aku sudah pasang CCTV tengah malam tadi, lihat saja selingkuhanmu kan ku kuliti,” batin Izana, dia berpikir Aria berselingkuh makanya menyuruh tidur di tempat lain karena bau. Memang tidak masuk akal, tapi bagi suami yang posesif seperti Izana akan terus mencurigai istrinya yang berubah sedikit saja.
>>>
Sampai di kantor Izana bekerja sambil memperhatikan ipad yang tersambung dengan CCTV rumah.
Aria sendiri, dia memesan online untuk makan. Keheranan Izana semakin meningkat, istrinya yang rajin jadi pemalas, bahkan Aria tidak membersihkan rumah.
“Dia Aria bukan sih?” Izana mulai ragu.
...***
...
Kalian percaya ini sudah hari ke enam Izana tidak menegur Aria, begitu pula dengan Aria yang tidak mau dekat-dekat dengan Izana. Ini masalah rumit, seharusnya mereka berkomunikasi agar masalah cepat selesai.
Ya Izana sangat kesal dengan Aria, dia jadi mementingkan Egonya. Dia juga tidak menemukan tanda-tanda Aria selingkuh, tapi itulah yang semakin bingung dengan Aria.
Brug.
Sebuah keajaiban, Aria tiba-tiba memeluk Izana. “Bang~”
Izana tidak akan membiarkan pertahanannya runtuh hanya karena sebuah pelukan Aria, dia harus tegas agar hal ini tidak terulang lagi. Izana mendorong Aria lalu kemudian pergi begitu saja.
Aria memandang punggung yang semakin jauh itu, Aria sadar kalau kelakuannya beberapa hari terakhir ini membuat Izana marah. Tapi dia kemarin memang mual mencium bau Izana ditambah moodnya sedang tidak bagus.
Tapi hari ini berbeda, dia ingin disentuh oleh Izana, bagaimana ini? Ini gawat sekali.
Dia harus menyusul Izana.
>>>
Kedatangan Aria tidak dipedulikan Izana, dia cuek membiarkan apa yang ingin dilakukan oleh wanita itu di dalam sini.
Aria duduk di pangkuan Izana langsung ******* bibir Izana, padahal masih ada Zin di dalam. Zin langsung kabur keluar.
Izana melepaskan diri. “Ngapain kau tiba-tiba cium.”
“I-itu mau itu.”
“Mau apa?”
Aria menarik zipper celana Izana, pria itu menahan tangannya.
“Huhuhu maaf Bang hiks aku yang salah, Abang enggak bau aku aja yang mual menciumnya.”
“Kenapa mual?”
“Engga tahu, lagi masuk angin mungkin kemarin.”
“Masuk angin enggak sampai sebegitunya ya.”
“Ya bagaimana lagi? Aku juga tidak tahu!”
“Turun dari pangkuanku.”
“EnggEngga.”
“Turun!”
“Enggak!” tegas Aria.
Tiba-tiba tubuhnya dia angkat oleh Izana, dia diletakkan ke bawah, saat Izana duduk Aria naik lagi. Izana menurunkan lagi tapi Aria naik lagi, terus saja begitu sampai Izana lelah. Sedangkan Aria tidak begitu lelah karena tubuhnya diangkat terus sama Izana.
“Abang mau kerja Aria.”
“Tapi aku mau itu.”
“Aria yang kukenal tidak pernah minta duluan seberani ini, kau bukan Aria yang asli kan.”
“Aku Aria asli.”
“Apa buktinya?”
“Kau mantan begal sialan!”
“Shuut sudah, kau pikir mudah membujukku? Seberapa lama pun kau duduk di sini tidak akan menggoyahkan pertahananku!”
“Ku buka celanamu ya Bang.”
“Jangan!”
Izana yang termakan ego dan Aria yang tidak mau mengalah, bagaimana menggambarkan situasi ini? Entahlah pikir saja sendiri.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.