
Cindy dengan senyuman manisnya berjalan ke ruang Izana, dia bukan ingin bertemu dengan Izana melainkan dengan Aria. Kebetulan papanya rapat dengan Izana pasti Aria sendirian di ruangan.
Tok tok tok.
Dia mengetuk tapi tidak ada sahutan dari dalam, langsung saja Cindy masuk karena dia sudah cukup lama berdiri di depan pintu.
“Aria,” panggilnya.
Aria tidak merespons. Oh pantas saja ternyata Aria menggunakan headset di kupingnya dengan tubuh berbaring telungkup di sofa. Kalau begitu Cindy harus mendekati Aria agar bisa langsung dilihat.
Aria menoleh ketika ada tangan yang mencuil bahunya. “Cindy, mau apa kau ke sini”
“Hei rokmu tersingkap tuh, bagaimana kalau ada lelaki yang masuk?”
Aria duduk memperbaiki posisi pakaiannya. “Ok sudah, jadi kenapa kau ke sini papamu tidak di sini pun.”
“Aku ingin bertemu denganmu.”
“Mau apa?”
“Aku mau memberikan penawaran padamu.”
“Penawaran apa?”
“Aku bersedia menjadi istri ke dua Izana.”
“HAH APA!”
“Tunggu-tunggu dulu, aku belum selesai ngomong. Kau mandul kan?”
Aria tersenyum, dia sudah bisa menebak apa yang ingin ditawarkan Cindy, sepertinya Aria akan menampar kenyataan pada Cindy sekali lagi.
“Ok lanjutkan omonganmu.” Santai Aria melipat tangan di dada. Dia tidak kepo bagaimana bisa Cindy tahu Aria mandul, cukup jelas dia dari kalangan orang berduit, mereka bisa mencari info dengan membayar orang.
“Bagaimana kalau aku jadi istri ke dua buat melahirkan anak Izana, terus nanti anaknya kau yang rawat anakku. Bagaimana? Kau sangat ingin punya anak kan.”
“Jadi posisinya kau ingin aku jadi baby siter agar kau dengan bebas bermesraan dengan suamiku?”
“En-enggak bukan begitu, iiis! Memangnya kau enggak ingin punya anak apa?”
“Ya itu makanya kau butuh aku, penawaran ini cukup bagus loh.”
“Ahahaah aku sedang hamil nih bodoh! Sana pergi aku tidak butuh madu masam sepertimu,” ejek Aria.
“Ma-mana mungkin kau kan mandul!”
“Mana kutahu, sana mati tanya sama Tuhan gih.”
“Kau pasti berbohong kan Aria! Kau egois sekali, masa kau mau menahan Izana di sisimu sedangkan kau tak dapat memberikan keturunan.”
“Cindy kau sadar enggak sih?”
“Apanya?”
“Kau beda agama dengan Izana, mana bisa bersatu ahahah lupa ya?”
Cindy tersentak, dia benar-benar melupakan kenyataan itu. “A-aku akan pindah agama!”
“Tidak perlu, karena kau tidak kamu tidak kami butuhkan.”
“Aku tidak percaya ini! Awas saja kau.”
Datang dengan senyuman pergi dengan kekesalan, itulah Cindy. Aria menatap punggung yang berjalan sambil mengentak-entakkan kaki itu hingga dia hilang bersamaan dengan suara kencang menutup pintu.
Brak!
“Huh~ untung saja aku hamil, kalau tidak pasti akan banyak wanita yang datang dengan tujuan yang sama seperti Cindy.” Aria mengelus perutnya dengan bibir tersenyum tipis. “Terima kasih Nak, terima kasih sudah hadir. Jika tidak ada kau mama tidak tahu bagaimana cara melawan orang seperti bibi yang datang tadi.”
Rasa syukur Aria ucapkan, memang ketakutan terbesarnya adalah Izana meninggalkannya karena iri dengan teman-temannya yang suatu saat nanti pada sudah punya anak, walaupun Izana berkata tidak apa-apa, tapi ke depannya kata-kata itu bisa berubah. Tapi kini tidak perlu takut lagi, Aria berdoa agar anaknya selamat hingga lahir ke dunia.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterimakasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.