
Pukul lima sore Izana baru saja pulang entah dari mana, dia mondar-mandir ke sana ke mari memanggil nama Aria namun tak kunjung ketemu.
“Ke mana lagi anak itu?” gumamnya kesal sendiri tak mendapati istri di rumah. Izana meletakkan tumpukan kantong plastik berisi bahan mentah untuk memasak di lantai kemudian memasukkan satu persatu ke dalam kulkas.
Hari semakin gelap namun Aria tak kunjung pulang, pria ini kelaparan dia sama sekali tidak bisa memasak walaupun sudah lama tinggal seorang diri.
“His apa dia ke tempat kerjanya itu.” Napasnya terasa berat, dia sangat menahan emosinya.
.
.
Di sini Aria masih sibuk bekerja melayani pelanggan yang memesan dan kemudian mengantarkan pesanan. Dia tak sadar ada sepasang mata yang terus memperhatikannya.
“Bisa enggak sih matamu itu dijaga Den, istri sudah lima juga pun.”
“Is bang tapi Aria tuh cantik banget, kesal banget rasanya karena dia menolak perjodohan denganku.”
“Dendy-Dendy, dia sudah bersuami jangan dilirik lagi.”
“Ya bagaimana ya bang, dia tuh cantik banget. Memang bang Samuel enggak tertarik?”
“Huh aku bukan kau,” Acuhnya menjitak adik kandungnya itu.
Mereka berdua adalah anak pak Jakar yang pernah menawarkan perjodohan dengan ibunya Aria, mereka ke kota ini memang kebetulan bertemu dengan Aria bukan sesuatu yang direncanakan.
“His anak ini,” keluh Samuel “Dek bayar,” panggil Samuel pada Aria yang tengah memungut piring dan gelas kotor di meja lain.
“Oh iya tunggu bentar ya.”
“Ih abang aku masih mau di sini lebih lama,” rengek Dendy karena Samuel yang tidak bisa diajak kerja sama.
“Kelamaan di sini tuh matamu bisa jatuh, ayo kita cari hotel untuk tidur malam ini.”
Aria datang ke meja mereka dan menotalkan pesanan. “Semua delapan puluh ribu, ya.”
Dendy menggoda Aria dengan memainkan alisnya naik turun namun Aria cuek dia sudah terbiasa digoda oleh pelanggan.
“Terima kasih.”
Mereka pun pergi keluar, beberapa menit kemudian pintu itu terbuka kembali, Aria kira itu adalah pelanggan ternyata bukan, itu adalah Izana yang siap menyeretnya pulang.
“Pulang,” ucapnya dengan nada rendah.
“S-satu jam lagi selesai.” Aria mendadak ketakutan padahal sebelumnya dia tidak pernah setakut ini bahkan saat ayah tirinya mengejarnya.
Tanpa basa basi lagi Izana menarik tangan Aria, wanita itu hanya bisa menurut karena dia tahu kalau membantah sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“Moon aku pulang dulu ya,” pamit Aria.
“Dia berhenti, dia tak akan bekerja di sini lagi,” sambung Izana.
Moon kebingungan sebelum akhirnya dia sadar pria tampan barusan adalah suami yang diceritakan Aria tadi siang.
“Siapa Moon?” tanya Sesil yang penasaran siapa yang menjemput Aria barusan, kebetulan Sesil mau pulang makanya dia melihat hal yang barusan.
“Itu suaminya Aria.”
“Hah! Sudah bersuami? jadi dia berhenti nih kerja?”
“Tidak tahu.”
“Suaminya bilang begitu tadi, kalau dia tidak masuk besok berarti dia berhenti, jadi kau siap-siap pasang brosur lagi untuk cari karyawan baru.”
“Iya.”
“Ih tapi genteng loh.” Tiba -tiba Sesil berkata seperti itu membuat Moon hanya menggelengkan kepalanya saja, enggak heran lagi sih kalau Sesil, wanita ini memang play girl.
Tbc.
Like dan Vote sebelum lanjut
Kasih hadiah juga boleh😉