
Seluruh tubuh tertutupi oleh pakaian berwarna gelap, menggunakan Helm menunggu di jalan sepi, semua sudah dipersiapkan dengan matang, Izana memastikan tidak ada jejak setelah perbuatannya nanti.
Di waktu magrib ini seorang anak kuliahan yang hendak pulang ke rumah berhenti di tengah jalan karena ada batang pohon yang membentang di jalanan sepi.
“Minggir Bang aku mau lewat,” teriak pemuda itu pada Izana yang memakai helm. Dia tidak takut karena orang yang menghadangnya hanya sendirian.
Izana mengeluarkan belatinya mendekat ke arah mahasiswa itu. “Tinggalkan motormu dan pergilah.”
“Bang jangan Bang, aku bisa dibunuh sama bapakku Bang.”
Enggak mendengar keluhan pemuda itu Izana langsung saja merebut kunci motor yang masih tergantung.
“Ini kuambil ya,” tunjuknya pada dompet coklat setelah mengotak-atik tas pemuda itu.
Bugh!
Pemuda itu mulai menunjukkan perlawanan, dia sudah memasang kuda-kuda dan juga tinju yang berusaha menghantam perut Izana.
“Hais~” keluh Izana. Sepertinya dia memang harus main kasar agar si korban itu mengerti kalau nyawa lebih penting.
Jangan ragukan kemampuan bela diri Izana, dia adalah seorang kriminal yang bergerak di bidang kekerasan, jika dia tidak bisa bela diri makan sudah sejak lama nyawanya hilang.
BUGH!
Hanya dengan tendangan lurus ke arah ulu hati saja pemuda yang menantangnya tadi terkapar sesak napas. Izana meninggalkan dia yang terbaring itu dan membawa motor sport hijau pergi berserta uang yang ada di dompet tadi.
.
.
Tin tin~
“Wah Izana akhir-akhir ini kau rajin sekali,” sambut pak Ramly ketika Izana memarkirkan motor sport curiannya.
“Rombak ini pak, ganti kapnya yang lain, aku mau warna hitam.”
“Kau tidak menjual motor ini ke aku?”
“Enggak ini untuk aku, lumayan bisa ajak istri jalan-jalan.”
“Aku jadi penasaran dengan istri, lain kali bawa dia ke sini ajak dia berkenalan dengan kami.”
“Tidak boleh, kalian orang-orang yang buruk. Aku tidak mau pergaulannya salah.”
“Anak ini, Hais baiklah aku akan merombaknya gratis sekaligus membuatkan suratnya, anggap saja ini sebagai hadiah pernikahan.”
“Oh baguslah, rencananya tadi aku mau mengutang.”
Tak!
“Anak bangsat,” katanya sambil menjitak jidat Izana.
Sudah pukul 19.16 malam, Aria menunggu di meja makan sambil memperhatikan jarum jam yang terus bergerak.
“Katanya pulang jam tujuh,” keluhnya menunggu kepulangan suami yang telah mengingkari janji.
Brum~
Mendengar suara motor di depan rumah Aria langsung berlari membuka pintu, seperti yang diharapkan dia adalah Izana.
“Sudah menunggu, ya,” goda Izana sambil melepas helmnya.
“Kok baru pulang? Katanya jam tujuh.”
“Ini belum jam delapan kan?”
“Is~ katanya tadi kan jam tujuh, kok jadi jam delapan!”
“Iya-iya, ayo masuk dingin.”
“Abang yang kedinginan kalau aku sih kepanasan menunggu Abang.”
Izana mengacak acak surai Aria gemas, istrinya ini terlihat manja sekali.
“Abang mandi dulu sana.”
“Ok.”
Selagi menunggu Izana mandi, Aria menyiapkan baju santai untuk dikenakan oleh suaminya. Tak butuh lama Izana sudah selesai dan dengan senang hati memakai pakaian pilihan Aria.
Kini mereka berdua duduk di kursi meja makan. “Bagaimana enak enggak?” Tanya Aria dikala kalau Izana mencicipi cumi-cumi.
“Enak banget,” pujinya mengambil lagi cumi-cumi masuk lebih banyak ke dalam piring, tentu saja hal itu membuat Aria senang. Pujian suami atas masakan istri itu adalah hal yang simpel tapi bisa bikin seorang istri bahagia, jadi pujilah masakan istri kalian.
Tbc.