
Rupanya perdebatan antara Sesil dan Putri didengar oleh Aria yang kebetulan berada di tempat yang sama.
“Aria ayo jalan kenapa kita malah menguping mereka?” Protes Sari yang menjadi teman jalan-jalan Aria di waktu weekend ini, oh iya satu lagi Tati yang ikut jalan bersama mereka.
“Putri dan Sesil temannya Ella? Ella yang sama enggak sih yang dimaksud mereka sama mantannya, Abang?” Aria kembali mengingat apa yang pernah Izana ucapkan. “Aku sudah tidak memiliki hubungan lagi dengannya, dia sudah bahagia dengan keluarganya di sana, sekarang kamu istri ku, aku mencintaimu ok.” (Part 29). Perkataan itulah yang terlintas di otak Aria.
“Sudah bahagia dengan keluarganya di sana? Itu seperti perkataan untuk orang yang sudah meninggal,” gumam Aria sendiri membuat Sari dan Tati saling pandang.
“Kau ini kenapa? Ayo jalan” Sari langsung menarik tangan Aria hingga wanita itu sadar dari lamunannya.
Jalanan hari ini macet parah karena semua kendaraan lewat jalur yang sama akibat ada Pertamina kebakaran hingga aksesnya jalannya ditutup.
“Astaga sampai kapan aku berjemur di sini!” rutuk Izana yang sudah sangat gerah berdesak-desakan dengan pengendara lain.
“Panas bro? Makanya naik mobil,” tegur orang yang adem ayem di dalam mobil sambil minum teh botol.
“Samuel.”
“Hi Izana, nih minum.” Samuel melemparkan teh botol dingin pada Izana, tadi dia memang beli dua kebetulan ada teman lama dia kasih saja ke Izana.
Bersyukurlah Izana bertemu dengan Samuel dia memang menahan haus sejak tadi. “Kau ada urusan bisnis di sini ya?”
“Enggak ah, aku cari adikku si Dendy. Tuh anak keluyuran padahal kerjanya banyak belum lagi lima istrinya yang terlantarkan mengeluh padaku karena jarang dibelai.”
“Beh gila, benaran lima?”
“Iya benaran, parah iyakan? Aku aja abang dia belum punya istri sama sekali lah dia sudah lima, untung cewek yang disukai dia sudah nikah dengan cowok lain, enggak tuh bertambah lagi jadi enam,” keluh Samuel sembari memijit pelipisnya, adiknya itu sebenarnya bodoh kelebihan Dendy itu hanya terlahir dari keluarga kaya.
“Satu istri aja rasanya sudah pening berdebat terus.”
“Kemarin kau kan di luar negeri, lagian aku nikah mendadak.”
Tin tin tin.
Asyik mengobrol mereka tak sadar orang di depan sudah maju sedikit jauh, hingga klakson orang yang mengantre di belakang jadi bising berserta dengan umpatan.
Samuel maju hingga barisan antrean pun berubah, Izana sudah tidak berdampingan lagi dengan Samuel tapi bergantian dengan bocil kematian yang memakan permen kapas di mobil sebelah.
“Hi bang kita jumpa lagi,” tegur Theo.
“Anjir nih bocah tajir kayaknya,” batin Izana.

Mata Izana berbinar memperhatikan mobil bocil kematian yang membuatnya bermimpi ingin membeli mobil seperti itu. Mercedes-Maybach S580 kira-kira harganya sekitar enam milyaran, mungkin hanya di dalam mimpi saja Izana mampu membeli belum lagi pajaknya yang bukan main.
“Eh Cil kau sama siapa?”
“Sama papa mama,” kawab Theo sambil menggigit permen kapas yang tampak lezat itu. Theo adalah pencinta permen kapas maka dari itu tak heran kalau di tangannya selalu ada makanan manis seperti awan di setiap waktu.
Padahal dia anak yang lucu dan ramah tapi tetap saja Izana merasa kalau Theo itu cerdas, anak itu bisa saja membahayakan baginya kalau tidak hati-hati.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu