
18+ Area, bisa langsung skip aja.
Izana masuk ke kamar hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya, mungkin efek sehari tidak bertamu dia jadi rindu. Hanya sehari loh! Tapi... Memang seminggu ini dia belum dapat jatah akibat Aria yang termurung.
“Sayang jangan pura-pura tidur,” sapanya menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Aria. Wanita itu tetap memejamkan matanya, anggap saja dia tidak dengar.
“Kau ini kebiasaan berpura-pura.”
Sreek
“Aaaaaa! Kenapa dikoyak!”
“Dari tadi aku suruh buka enggak kau buka, kan koyak tuh baju.”
Ini merupakan salah satu kebiasaan Izana, mengoyak baju Aria jika wanita itu tidak membukanya setelah disuruh.
“Isss Abang ini, lagi malas loh.”
Izana tak peduli, dia melempar handuknya ke sembarang arah hingga benda itu terpampang jelas di hadapan Aria, memang tidak ada malunya. Untuk apa malu di depan istri sendiri.
Dia merangkak menarik Aria untuk duduk di pangkuannya.
Cup
Izana menyesap bibir yang menjadi langganannya, tidak perlu memaksa agar Aria membuka mulut, dia membuka sendiri agar memudahkan Izana.
“Emm ah.”
Suara decapan menjadi irama yang menyenangkan. Puas dengan bibir Izana turun ke leher, dia meninggalkan beberapa bekas di sana.
Klik~ Bunyi pengait bra yang terlepas, Izana melemparkan penghalang itu menjauh. Benar-benar benda yang mengganggu kepuasannya.
“Ah~” des*h Aria ketika ujung dadanya dipilin-pilin dan diemut. Geli, Aria meremas rambut Izana merasakan sensasi yang luar biasa.
Perlahan Izana turun, melebarkan ke dua paha untuk merasakan hal yang lebih nikmat di tengah-tengahnya.
Lidahnya terasa hangat dan geli, Aria semakin menekan kepala Izana di bawahnya.
“Enak?” Izana mendongak untuk sekedar menggoda Aria.
“Jangan bertanya! Lanjutkan.”
Senyum mengejek terlukis di bibir itu. Memang Aria, awalnya saja yang tidak mau tapi setelah melakukan pemanasan dia merengek untuk cepat dimasuki.
“Sabar, tidak seru kalau langsung ke inti” Izana melanjutkan acara menjilat jilat es krim. Dia menunggu sesuatu keluar, dia suka pemandangan itu, kalau bisa dia ingin melihatnya setiap detik.
“Cepat keluarkan!” Pria ini semakin semangat, jarinya menusuk-nusuk keluar masuk cepat, matanya memperhatikan lubang yang berkedut kedut.
“Ahhhh!”
Itu dihisap habis oleh Izana tidak bersisa, sungguh tidak ada rasa jijik sama sekali, Aria yang melihat saja merinding.
“Hiiis jorok huek,” jijik Aria melihatnya.
“Apa kau his his, nih gantian punyaku.”
“Engga mau! Langsung aja sih” Aria cukup trauma beberapa kali tersedak. Parahnya Izana akan kesal kalau Aria memuntahkan susu kentalnya. Dia bilang ‘Telan sayang itu bagus untuk kesehatan’. Gila! Aria ingin menangis mendengarnya.
“Enggalah ini dulu baru inti.”
“Ee~ek!” Aria menutup mulutnya dengan kedua tangan, apa pun asalkan jangan itu!
Izana menarik tangan Aria paksa, dengan segala cara Aria menghindar. Tapi... Gagal.
“Emmp” Izana menutup mulut Aria agar menelan susu kentalnya. Padahal Izana sangat ikhlas memberikan itu, masa dimuntahkan?
“Telan!”
“Emmmp”
“Telan! Kalau mau kulepaskan.”
Glek.
Dengan susah payah Aria menelannya, Izana kemudian mencium bibir Aria.
“Pintar.”
Setelah itu barulah Izana memposisikan diri di bagian inti, menyatukan kedua alat kl*min mengejar kenikmatan duniawi.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
ya.
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.