
Pinggang Aria cukup pegal pagi ini, mungkin tadi malam Izana lama dan kasar. Pagi-pagi Aria sudah seperti nenek-nenek bungkuk.
“Sayang kenapa jalanmu aneh?”
“Mau ku tendang kau hah!” Masih nannya lagi! Kalau bukan karena dia enggak mana mungkin Aria jadi begini.
Izana terkekeh, dia duduk di sofa memainkan ponselnya, sedangkan Aria dengan terbungkuk bungkuk menyapu.
“Ahahaha.”
Aria tidak mengerti apa yang ditertawakan Izana, dirinya atau HP itu? “Abang lihat apa?”
“Engga ada apa-apa.”
“Video cewek seksi ya?”
“Kalau cewek seksi abang enggak bakalan tertawa, tapi ngences.”
Brag!
Aria melempar sapu, untunglah ditangkap Izana.
Bukannya marah Izana malah tertawa, ya sebenarnya HP hanya perantara, dia sedang merekam bagaimana Aria menyapu hingga terkekeh sendiri.
Lihatlah wajah dengan bibir maju itu, dia sudah tidak mood untuk menyapu.
“Enggak loh sayang, lihat nih aku videoin kamu.”
“Oh kirain” Aria kembali menyapu dengan damai, hanya itu pekerjaan rumah yang tersisa.
Tok tok tok.
Saat sedang bersantai santai suara pintu mengetuk bagaikan trompet sangkakala di telinga, apakah malaikat maut datang? Akhir-akhir ini Aria takut membuka pintu semenjak kedatangan Adam.
Izana yang membuka pintu.
“Dika?”
“Izana tolong aku,” katanya dengan kaki yang bersimpuh di lantai, Izana membawanya masuk karena itu adalah temannya.
Waw~ mata Dika melek sempurna melihat seorang wanita yang duduk di sofa, itu Aria.
“I-Izana itu cewek cantik siapa?”
“Istri aku, jangan macam-macam ya!”
Dika tersenyum ramah menyapa Aria. “Hai Neng, saya ikut duduk boleh ya?”
“Iya,” jawab Aria mempersilahkan, ketika Izana ikut duduk barulah Aria berdiri untuk membuat sesuatu untuk diminum.
“Eh Izana istrimu mau ke mana, kok pergi sih?” Raut Dika kecewa, dia masih mau melihat cewek cantik, kapan lagi ya kan?
“Hiis beruntungnya kau punya istri, sudah cantik rajin lagi.”
“Cepat katakan alasan kau datang kemari?”
Dika celingak-celinguk memastikan Aria masih di dapur, tidak enak membicarakan hal ini kalau ada Aria. “Huh aman,” leganya.
“Kenapa?”
“Begini Zan, kamu ada duit enggak? Aku mau pinjam.”
“Engga ada!” jawab Izana cepat.
“Tapi aku dengar dari pak Ramli kau baru aja dapat tiga puluh juta loh, masa sudah habis?”
Izana menyereingit, itu uang susah-susah dia cari untuk membelikan Aria kalung, bukan untuk simpanan. Mana bisa dia meminjamkan uang itu apa pun alasannya, memberikan Aria hadiah lebih penting!
“Maaf Dika tapi aku tidak bisa meminjamkanmu.”
“Tolonglah Zan, pacarku hamil orang tuanya minta aku untuk menikahi pacarku itu. Tapi aku enggak punya uang, bagaimana dong?”
“Ya enggak tahu, urusanmu lah. Sana merampok lagi.”
“Ya Allah Zan, trauma aku digebuki warga kemarin, kamu kan enak mencari uang, siapa yang menang melawanmu, hmm?”
“Nikah yang penting sah aja, enggak usah mewah-mewah,” saran Izana, dia aja dulu nikah ala kadarnya saja, datang Dika malah minta pinjam uang buat pesta nikah.
“Cewekku gengsian loh.”
“Suruh cewekmu cari duit, mengapa malah aku yang kau peloroti, hutangmu tiga tahun lalu 2 jt belum kau bayar loh!”
Aria datang Dika tidak berani bicara lagi, yang namanya perempuan sangat sensitif dengan uang, takutnya Dika diusir. Dengan hati-hati Aria menaruh mempan di atas meja. “Silakan minum,” tawarnya.
“Iya terima kasih,” jawab Dika tersenyum tipis.
Tbc.