
Setelah cukup lama mencari akhirnya Izana menemukan Aria tengah bersorak ria bersama Theo, mereka begitu senang di kala dia tengah cemas.
“Kalian berdua~~” Tangan Izana memegang bahu kedua orang itu, mereka menoleh ke belakang perlahan, melihat Izana seakan melihat hantu saking seramnya suara Izana tadi.
“A-abang, akhirnya datang juga aku takut banget tadi kehilangan, Abang.”
“Tapi tadi kayaknya kau sangat senang.”
“Kerna aku tahu Abang pasti akan menemukanku, iyakan Theo?” Aria berkedip beberapa kali ke arah Theo tanda dia meminta bantuan.
“Iya Bang tadi kak Aria menangis, jadi aku temankan dia di sini. Berterima kasihlah padaku,” timpal Theo mendapat anggukan dari Aria, walaupun kebenarannya tidak seperti itu.
“Hmm begitu ya, ya sudah kita pulang yuk bentar lagi kayanya mau hujan,” ajak Izana menarik tangan Aria untuk pergi, sudah cukup menghabiskan waktu di luar hari ini jadi waktunya pulang.
“Bye Theo.” Lambai Aria.
“Iya Kak, bye-bye.”
Guk Guk Guk.
Entah anj\*ng siapa itu tibatiba-tiba menggonggong ke arah Aria yang tengah menunggu Izana mengeluarkan motor dari parkiran.
“Aaaaaaa~” Aria berlari ketika anjing itu mengejarnya. “Abang tolong aku huaaa.”
Izana terjebak di antara banyaknya motor dia tidak bisa menghampiri Aria, tapi di sana ada beberapa orang yang mencoba menghadang anj\*ng itu yang entah kenapa mengusik Aria.
“Hus Hus pergi sana!” kata bapak-bapak yang menghadang jalan anjing untuk ke Aria.
Guk Guk Guk
Anj\*ng itu tak kunjung pergi malah dia menggonggong kencang, hingga akhirnya...
Buak!
Anj\*ing itu terpelanting ketika Izana datang berlari dan langsung menendangnya, sungguh tidak ada belas kasihan.
“Momooo!” teriak si pemilik.
“Makanya Dek kalau peliharaannya ganggu orang itu diambil, kalau sudah seperti ini jangan salahi orang,” kata bapak itu membela Izana.
Pemilik anj\*ng itu adalah Sabir, orang yang kemarin Aria tampar. Sebenarnya ia sengaja menyuruh peliharaannya untuk mengganggu Aria, maka dari itu Anj\*ing itu hanya menargetkan Aria.
“Iya Dek sama-sama, Adeknya cantik jadi anj\*ing pun kepincut,” candanya.
“Ahh enggak begitulah. Mari pak~” pamit Aria sambil naik ke atas motor.
Brum~
Mereka pun pergi. Izana ngebut karena merasakan rintik-rintik air yang berjatuhan.
“Hujan Bang.”
“Mau berhenti dulu?”
“Enggak, lanjut aja hujan-hujanan seru juga.” Aria makin mengencangkan pelukannya di perut Izana, tubuhnya dia sandarkan di punggung Izana menikmati setiap tetes air hujan yang perlahan membuat mereka basah kuyup.
Sampai di rumah mereka berdua langsung mandi bersamaan. Aria menatap datar Izana yang tegak-tegak itunya, inilah risiko mandi bareng suami.
“Boleh ya bentar aja,” pujuk Izana memeluk tubuh Aria dari belakang, itunya Izana nusuk-nusuk di belakang Aria.
“Ahh capek banget aku punya suami yang nafsuan. Ya sudah cepat!”
.
.
Katanya sih bentar, tapi ini sudah hampir satu jam tapi Izana belum mau berhenti. Mereka masih di kamar mandi, dengan posisi berdiri membuat kaki Aria capek menahan entakkan.
“Aria akhh~” Suara erangan bersama tembakan hangat membanjiri rahim Aria.
“Hah hah, sudah ya Bang.”
“Enggak sekali lagi.”
Dingin-dingin begini memang paling berhasrat untuk bercinta, begitu pula dengan Izana dia tak mau mengakhiri ini sebelum miliknya benar-benar letoi. Dia mengangkat tubuh Aria lalu dibawa ke kamar untuk melanjutkannya.
Tbc.