Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 51


Setelah beberapa hari rawat inap Aria diperbolehkan pulang ke rumah, sayangnya dia tidak bisa berjalan untuk sementara waktu karena masalah di kakinya. Izana siap menjadi kaki Aria, dia menggendong Aria masuk ke mobil Ennie sedangkan dirinya membawa motor sendiri membiarkan Aria bersama ibu Roni.


Sesampainya di rumah Izana kembali menggendong Aria masuk ke dalam diikuti oleh sang mertua.


“Putriku hidup dengan sederhana dan bahagia ya,” batin Ennie dengan mata yang menyelusuri rumah kecil itu. Dia tersenyum tipis merasa iri dengan putrinya sendiri, selama ini dia memang tidak pernah mendapatkan cinta dari ayah Aria ataupun dengan Roni yang hanya bersikap baik dengan Ennie.


“Ibu ayah duduk dulu, aku buatkan teh ya,” tawar Izana bersiap ke dapur setelah mendudukkan Aria di sofa.


“Jangan repot-repot Nak, Ibu cuman sebentar di sini”


“Besok aja pulang Bu.”


“Tidak bisa ibu ada meeting penting besok.”


“Ya sudah kalau begitu minumlah dulu teh buatanku.”


Kalau begini Ennie tidak bisa menolak lagi, dia hanya bisa menerima teh buatan menantu yang sudah dituangkan ke dalam cangkir masing-masing oleh Izana.


“Aria kau beruntung sekali mendapatkan Izana,” ujarnya sembari mengangkat gelas teh itu.


“Benarkah? Aku pikir Abang yang beruntung mendapatkanku, iya enggak, Bang?”


“Hmm~” jawab Izana mengalah, tapi kalau dipikir-pikir memang iya sih. Wanita mana yang masih tetap stay bahkan setelah tahu suaminya adalah penjahat malam? Mungkin banyak karena mengingat tampang Izana yang rupawan, tapi apakah mereka akan menerimanya sejak awal dengan lelaki yang tadinya gelandangan tidur sembarang tempat? Entahlah.


Dua puluh menit sudah Ennie bersantai dia memutuskan untuk pulang mengingat ada pekerjaan yang harus dia selesai kan. Ingin pun dia berada lebih lama di sini mungkin bisa dilanjutkan pada lain waktu, tentunya bukan sekarang.


“Nak kami pulang dulu.”


“Iya Ibu hati-hati di jalan,” jawab Aria.


Tak butuh waktu lama mobil yang dibawa Ennie hilang dari pandangan, Izana membawa Aria masuk kembali duduk di sofa sementara dirinya mengemasi gelas di meja.


“Bang.”


“Iya.”


“Aku jelek ya?”


“Kenapa kau berkata seperti itu? Semua orang tahu kalau kau itu cantik.”


“Itu dulu coba lihat aku sekarang, tubuhku penuh luka apalagi tangan ini! Aku takut melihatnya.” Air mata jatuh terhadap penilaian akan tubuhnya sendiri. Aria adalah orang yang sangat memperhatikan luka yang bahkan sekecil tahi lalat pun, jika seperti ini dia tak akan tenang dengan bekas luka yang entah kapan hilang.


“Jangan takut, lukamu akan sembuh berserta bekasnya.”


“Orang bilang bekas luka di wajah tidak akan pernah bisa hilang.”


“Itu kalau tidak ada obatnya, abang pastikan obat yang kau dapatkan adalah yang terbaik.”


“Abang janji?”


“Janji.” Dua jari kelingking terhubung dengan mulut berkata janji, setelahnya Izana mengecup kening Aria lembut meyakinkan Aria bahwa semua akan baik-baik saja.


Dari pada membiarkan Aria terduduk di sini, Izana mengangkatnya menuju kamar, ia rebahkan tubuh itu pelan seolah Aria terbuat dari kaca yang rentan pecah.


“Tidur saja dulu nanti Abang menyusul.”


Aria mengangguk menurut, matanya memang sudah mengantuk mungkin karena efek obat yang ia minum. Tak sampai sepuluh menit wanita ini sudah pulas membiarkan Izana membersihkan rumah dengan tenang.


Tbc.