
Tidak ada yang membuat Aria penasaran lagi, semuanya jelas asal muasal Izana serta alasan bagaimana Izana menjalani hidup dengan cara seperti ini.
Rumah tangga mereka jadi lebih harmonis setelah Izana menceritakan masa lalunya, minggu kemarin Aria menunjukan kuburan Ella di kota sebelah tepatnya di kota kelahiran Aria. Izana sudah tenang sekarang, tidak ada rahasia yang ia sembunyikan lagi.
“Bang hari ini ada parade, kita lihat yuk,” ajak Aria ketika melihat postingan medsos tentang bertapa ramai nya tempat itu sekarang.
Sebenarnya Izana sangat membenci keramaian, dia ingin menolak tapi apa Aria akan menurut jika dia melarang Aria untuk tidak pergi, entahlah coba saja dulu.
“Bulan ini musim penghujan, lebih baik tidak usah pergi dari pada kehujanan di jalan.” Alasan Izana mencoba menyalahkan cuaca yang sebenarnya dia sedang sangat malas hari ini.
“Yaudah aku pergi sendiri saja.”
“Tidak boleh!” cegah Izana, dia takut membiarkan Aria keluar rumah sendiri, kecelakaan Aria dulu cukup membuatnya trauma.
Aria sudah tak heran lagi dengan seberapa posesifnya Izana. Tapi dia ingin sekali pergi, terkurung di rumah membuatnya jemu.
“Gini ya rasanya jadi burung dalam sangkar, punya sayap tapi tidak bisa terbang,” singgung Aria dengan kakinya melangkah masuk ke kamar.
BRAK!
Pintu ditutup dengan sangat keras tanda wanita itu tengah merajuk, bukan pertama kalinya Aria bersikap seperti itu dan bukan pertama kalinya ia ingin keluar tapi tidak diperbolehkan oleh Izana.
“Sayang buka pintunya.”
Tok tok tok
Jika seperti ini biasanya Aria mengurung diri mengunci pintu tak membiarkan Izana masuk. Kadang Izana keras kepala membiarkan Aria merajuk dari pada menuruti keinginan Aria, tidak masalah tidur di sofa.
Kerna tidak mendapat respons, Izana membiarkannya saja, dia pun pergi keluar untuk merokok. Di sebrang sana Izana melihat orang-orang dari berbagai kalangan tengah riah bergembira menceritakan parade yang bentar lagi mulai.
“Eh katanya ada yang cosplay jadi Levi Ackerman, ganteng banget!”
“Gak ada yang cosplay jadi Titan Colossal ya?”
“Eh gila, itu mah tingginya sampe enam puluh meter, mau berapa banyak manusia bersusun di dalamnya ahahah.”
“Semoga ada yang cosplay jadi chuya aaaa~”
“Nyebut cok, lu cowok bangsat!”
“Huh~ ” Izana menghembuskan asap rokoknya, dia mematikan rokok yang masih banyak itu dan pergi mengetuk pintu kamar sekali lagi.
Tok tok tok
“Aria bersiaplah ayo kita pergi ke parade.”
Kreek~
“Benaran?” kata Aria yang langsung membuka pintu kamar, Izana mengangguk pasrah tanda iya. Orang orang tampak bahagia di luar sana dia tidak bisa membiarkan istrinya sedih sendiri di sini.
“H-hah!” kaget Izana melihat penampilan Aria, tapi si Wanita malah santai dengan senyuman mengembang manis. “A-ria itu kuping apaan di kepalamu?”
“Panda Panda aku adalah gadis Panda yang lucu.”
“Kita naik motor loh Aria, ganti sana bajumu.”
“Gak mau, aku mau pake yang ini saja.”
“Ganti atau enggak jadi pergi.”
“Hiiiis iya-iya.”
Aria masuk lagi ke kamar mengganti roknya dengan celana jeans dongker panjang, kaus kaki dilepas sepatu pun diganti menggunakan high heels putih.
Saat keluar dia di sambut dengan Izana yang memandang datar. “Ini jaket nya dikancing aja, kenapa dibuka-buka mau pamer ke siapa kamu?” Izana memasang sleting jaket Aria, wanita itu cemberut kerna penampilan kekinian nya dirusak.
“Itu telinga pandanya-”
“Jangan! biarkan aku memakainya.”
Telinga panda bukan masalah besar, malah terlihat lebih lucu jadi Izana biarkan saja.
Tbc.