Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 80


Terbangun di tempat asing akan sangat membingungkan, begitulah Izana sekarang. Di mana ini? Ini bukan rumahnya.


“Selamat pagi Bang?”


Pagi? Benarkah ini pagi? Izana seketika membulat kan mata, dia berada di dalam ruangan berjeruji besi bersama seorang anak kecil.


“Theo? Apa apaan ini?”


“Seorang warga mengadukan keluhannya tentang begal yang menghalangi jalan lewat Call Center 112 pada pukul 18.23 dalam keadaan pelaku yang tidak sadarkan diri.”


“Hah!?” Konyol sekali, Izana merasa bodoh, lihatlah wajah Theo yang menahan tawa! Memalukan sekali.


“Bang kalau lagi sakit jangan keluar lebih baik istirahat di rumah bermanja dengan istri hihihi.”


“Tahu apa kau anak kecil.”


Theo berhenti tertawa, kemudian dia terfokus pada sebuah kertas di tangannya. “Bukti sudah sangat jelas, sebentar lagi putusan mengenai hukuman pasti akan ditetapkan. Bagaimana menurut Abang?”


Bagaimana apanya? Kasihan dengan Aria jika Izana dipenjara, wanita itu sudah banyak pikiran jangan sampek kabar Izana malah semakin memberatkan Aria.


“Theo bisakah kau temui istriku? Bilang kalau aku akan pulang beberapa hari lagi.”


“Abang mau kabur? Bisa jadi buronan loh yang ada hidup abang sama kak Aria enggak tenang nanti.”


“Aria sekarang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, jangan sampai dia tahu kalau aku tertangkap.”


“Kak Aria sangat membutuhkan Abang ya?”


“Sangat! Aku takut orang dengan niat jahat datang ke rumah.”


Theo mendekatkan mulut di telinga Izana, sesuatu rahasia tidak boleh didengar oleh orang lain terucap. “Aku akan membantu Abang keluar,” bisik Theo


“Jangan bercanda denganku.”


“Apa papamu bisa seenak itu?”


“Di dunia ini tidak ada yang bersih termasuk sebagai polisi, itulah yang papaku katakan. Harga diri lebih penting dibandingkan tanggung jawab, itulah papaku dan sebagian manusia lainnya. Tapi dia termasuk orang yang keras sih jika tidak bersangkutan dengan keluarga, beruntunglah abang karena pernah menolongku.”


Wah ternyata firasat Izana saat itu tidak salah, menolong Theo benar-benar menjadi keuntungan yang luar biasa. Tapi... benarkah papanya Theo akan membantu Izana?


“Theo kau tidak main-mainkan?”


“Aku sudah berbicara pada papa, katanya abang bisa keluar besok. Tenang saja nanti abang akan dilepaskan dengan alasan kalau saat itu abang tengah mabuk berat hingga tak sadar dengan kelakuan sendiri, papa sudah meletakkan botol alkohol di TKP, pasti para polisi sudah menemukannya.”


Izana tersenyum tipis, setidaknya dia tidak perlu bersusah payah membuat alibi. Papa Theo sudah menyiapkan semua termasuk pakaian Izana yang telah dituang alkohol tadi malam.


Alkohol akan menjadi alasan yang masuk akal mengingat Izana tertangkap dalam keadaan tak sadarkan diri.


“Mana alamat rumahmu? Aku akan sampai kan pada kak Aria kalau kau akan pulang besok.”


“Terima kasih.”


“Sekarang Abang mau mengakuiku sebagai teman?”


“Hmm~”


“Astaga masih aja gengsi, ingat aku ini bukan bocah kematian tapi aku adalah malaikat ahahah bye Bang aku pergi dulu anggap saja rumah sendiri ya.”


Izana menghembuskan nafas berat, sungguh dia tidak menyangka akan berada di tempat seperti ini, mungkin kalau tidak ada pertolongan dari Theo Izana akan mencoba kabur. Dia terlalu mengkhawatirkan Aria yang mungkin akan terkena rencana jahat Putri di saat dia tidak ada.


Tbc.


Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.


Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.