Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 115


Lagi-lagi Aria harus menutupi lukisan Izana di lehernya menggunakan foundation yang tebal. “Ihh sudah dibilang jangan meninggalkan bekas!” gerutunya.


Izana datang memeluk Aria dari belakang, memperhatikan bayangan mereka yang terpantul indah di cermin. Izana membungkuk untuk meletakan kepala di pundak Aria.


“Lama banget,” protesnya.


“Menutup lukisanmu ini enggak mudah.”


“Biarkan saja begitu.”


“Ih awas! Aku susah gerak nih.”


Izana melepaskan pelukannya, dia pergi duduk di birai ranjang dengan mata yang terus memperhatikan Aria.


“Sayang,” panggilnya lembut.


“Hmm”


“Kita sewa pembantu saja ya.”


“Engga mau.”


“Tapi apartemen kita kotor banget.”


“Nanti aku bersihkan.”


Seperti yang kalian tahu, Aria jadi malas banget sejak hamil ini. Dia terus bilang nanti nanti-nanti aku bersihkan tapi tidak kunjung dibersihkan.


Tak hanya itu, Izana merasa ngeri melihat Aria berjalan, bukan lebai tapi Izana ingat dulu Aria dinyatakan mandul dan sekarang tiba-tiba hamil, bisa saja kesempatan ini hanya datang sekali jangan sampai Izana kecolongan.


Maka dari itu Izana terus memperhatikan Aria, dia sangat berharap memiliki anak dari Aria bukan wanita lain. Membiarkan Aria melakukan semua pekerjaan rumah sama saja mendekat kan anaknya ke dalam bahaya, itulah yang terpikir oleh Izana, dia beruntung Aria jadi pemalas di masa kehamilannya.


“Sayang sampai kau selesai melahirkan saja, setelah itu kita berhentikan,” pinta Izana.


“Enggak mau!”


“Ihh aku enggak mau orang lain berkeliaran bebas di rumahku!”


“Hei kau hamil ingat, bagaimana saat kau menyapu tersandung kaki meja? Atau saat mengepel lantai lalu terpeleset? Kamu sering banget itu. Terus kamu juga tidak bisa masak karena bawang mentah, tidak mungkin kita beli makanan di luar terus, takutnya tidak sehat untuk janin entah apa saja yang mereka masukan di dalam masakan. Mau apalagi? Mencuci baju? Ok lah menggunakan mesin cuci tapi saat menjemurnya kau akan lama berdiri!”


Izana menjadi suami yang siaga, dia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Aria.


“Ku lihat orang lain bisa saja pun, bahkan ada yang bekerja karena ditinggal suaminya.”


“Mereka orang yang telaten sedangkan kau kakimu lemah, lagian aku tidak meninggalkanmu kenapa kau mau bernasib sama dengan wanita yang ditinggalkan?”


“Aku enggak mau bernasib sama dengan mereka! Awas saja kau,” kecam Aria menunjuk wajah Izana dengan jarinya.


“Makanya menurut sama suamimu, lagian aku mau buat kamu enak bukan susah. Setelah melahirkan saja setelah itu kita berhentikan dia, kamu deh yang memilih pembantunya.”


“Iss!”


Izana kembali berdiri memeluk Aria serta mengelus perut istrinya. “Sayang aku takut banget, lebih baik kita mencegah sejak awal sesuatu yang mungkin akan berakibat fatal. Mungkin bayi dalam perutmu ini tidak akan hadir lagi jika sudah kehilangannya, kau mengerti kan maksudku, kau hamil saja sudah seperti sebuah keajaiban.”


Aria ikut mengelus perutnya sendiri, dia menyadari keegoisannya sendiri. Setidaknya pikirkanlah juga tentang ketakutan Izana, apa yang dikatakan sang suami demi kebaikan Aria dan jabang bayi.


“Baiklah aku yang pilih, kan?”


Izana tersenyum lalu kemudian mencium pipi Aria. “Kita singgah ke indomaret nanti buat pilih susu yang cocok untukmu.”


“Ok, sekalian beli jajan ehehe.”


Tbc.


Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu


Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.