
Empat bulan kemudian, selama waktu itu banyak hal yang terjadi termasuk Izana yang dalam pengembangan di bawah bimbingan Zin. Berkat usaha dan otak cepat tanggap Izana, dia dengan cepat memahami semua, semua yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha.
Di luar itu semua Izana memang sudah memiliki pengetahuan dasar, jadi mudah saja.
“Bang bangun!” teriak Aria untuk sekian kalinya, padahal dia minta banguni pagi, tapi membangunkan Izana sangat menguras emosi.
Bugh!
Aria melempar kepala Izana menggunakan bantal dengan nafas yang tersengal sengal saking capeknya dari tadi menarik-narik Izana untuk bercerai dengan kasur.
Oh iya, mereka tinggal di apartemen sederhana hanya berdua saja. Aria tidak mau apartemen besar karena dia mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, dia tidak ingin orang lain yang mengurus rumahnya.
“Masih belum bangun kau hah! Bangun!”
Mungkin roh Izana tersesat hingga dia seperti orang mati yang bernapas. Aria terduduk di atas perut Izana dengan mata yang sudah berair ingin menangis.
Plak!
Bugh!
Plak!
“Aw aw sakitnya! Sayang kamu mengapa gebuki aku?” ringis Izana, sigap dia duduk hingga Aria tergeser ke pangkuannya.
“Capek aku ya huhuhu, Abang enggak bangun-bangun padahal katanya ada meeting.” Percaya atau tidak Aria menangis hanya karena Izana sulit dibangunkan.
“Hahah menangis lagi?” Bukannya merasa bersalah, Izana malah tertawa, ini bukan pertama kalinya Aria menangis hanya karena hal sepele, entah sejak kapan Aria menjadi begitu dramatis.
“Jangan tertawa! Tidak ada yang lucu di sini!”
“Kau yang lucu.”
“Cepat sana mandi!”
“Kau di pangkuanku bagaimana caranya aku berdiri?”
Aria menyingkir kemudian langsung pergi ke dapur, sejak tadi semua sudah di siapkan tinggal menunggu Izana bangun saja lagi kecuali kopi. Kopi paling enak diminum saat panas, kalau menunggu Izana kopi akan jadi dingin.
Tang ketang-ketang. Bunyi senduk yang berbenturan dengan gelas, kopi pun selesai beberapa menit kemudian datanglah Izana yang hanya memakai ****** ***** model bokser ketat, lagian mereka hanya berdua di sini.
“Hmm kan kaya begitu lagi, setidaknya pakai celanalah, Bang.”
“Nanti aja, lapar banget ini.”
“Makanya kalau dibangunkan tuh bangun, jangan menunggu dipukul dulu,” singgung Aria sambil meminum susu.
“Nanti siang bawakan makan ke kantor ya.”
“Tumben, biasanya Abang pulang dulu.”
“Hari ini enggak, lagian kamu enggak pernah jengukin abang di kantor sekalipun.”
“Hmm ya sudah, tapi bilang ya sama resepsionisnya nanti aku malah diusir lagi.”
“Iya tenang aja.”
Selama ini Aria memang tidak pernah menampakkan batang hidungnya di kantor, padahal desas-desus tentang istri CEO selalu membuat karyawan penasaran bagaimana bentukannya.
Kalian tahu kan Izana posesif? Selain ke rumah sakit Aria tidak pernah ke mana lagi kalau tidak bersama Izana. Ke rumah sakit pun harus sama sopir taksi kepercayaan Izana, barulah Aria diperbolehkan keluar.
“Abang mau apa untuk makan siang?”
“Terserah, ikan asin pun aku makan.”
“Sekalian aku bawakan untuk Zin juga kali ya.”
“Enggak usah dia bisa cari makan sendiri, untuk kita aja jangan mikir orang lain selain aku.”
“Posesif.”
“Biarin.”
“Aku tidak punya teman loh di sini.”
“Nanti lama-lama juga punya.”
“Bagaimana caranya? Orang aku di dalam aja.”
“Engga tahu, mungkin memang takdirnya kau tidak punya teman.”
“Ck nyebelin!” gumam Aria pelan. Kesal banget kalau mengingat bertapa posesifnya Izana, untung cinta kalau enggak sudah lama Aria kabur.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu.
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.