
Terhitung empat hari Aria terpejam hingga akhirnya hari kelima kesadarannya kembali, percayalah di sini Izana menangis terisak memeluk tubuh Aria yang hanya bisa terbaring untuk saat ini.
“Bang,” panggilnya dengan suara yang serak.
“Kupikir kau tak akan bangun lagi, aku takut Aria aku takut! Jangan tinggalkan aku,” isaknya, Ennie yang juga berdiri menghadap Aria terharu melihat Izana yang begitu mencintai putrinya.
“Sudah jangan menangis lagi aku tidak apa-apa. Kenapa tubuh abang jadi kurus seperti ini?” Tubuh Izana yang biasa tampak gagah memang sekarang terlihat kurus, dia sungguh tidak memiliki nafsu makan.
“Kerna kau, makanya jangan membuat ku khawatir.”
“Ya mau bagaimana lagi namanya musibah.”
Tok tok tok~
Setelah terdengar ketukan itu pintu terbuka menampakkan dua orang anggota polisi dengan seorang anak laki-laki yang memakai baju SMP.
“Eh Abang,” tunjuk anak itu pada Izana, dia adalah Theo mereka datang ke sini untuk meminta kesaksian lebih jelas setelah tahu pasien sudah sadar.
“Kenapa lagi kau anak kecil?”
“Kaka itu siapanya Abang?”
“Istriku.”
“Ternyata istri Abang yang tertabrak, astaga dunia ini sempit sekali ya. Abang harus berterima kasih padaku karena aku sudah menangkap orang yang mendorong istri Abang sama si pemilik mobil sedan yang kabur.”
Beberapa hari ini Izana tidak memikirkan tentang pelaku karena dia sibuk menangis dengan pemikiran takut di tinggal Aria.
Izana beralih menatap Aria, ia jadi penasaran kenapa istrinya sampai tertabrak. “Aria sebenarnya apa yang terjadi?”
Aria terdiam padahal ia ingat dengan jelas saat Tati tiba-tiba mendorongnya, dia tidak mengerti kenapa Tati sampai seperti itu, apa dia memiliki dendam pada Aria? Padahal Aria selama ini tidak pernah bersikap jahat atau pun mengejeknya.
“Aria jawab,” sambung Ennie melihat putrinya hanya diam saja.
“Tati tiba-tiba mendorongku, kami sedang menunggu ojol saat itu di bibir jalan.”
“Siapa anak itu Bang, kok dia yang memimpin kedua polisi di belakangnya?” Tltanya Aria setelah Theo hilang dari pandangan.
“Bapaknya orang yang berpengaruh di kepolisian, sudah beberapa kali abang bertemu dengan dia.”
Seperdetik kemudian pintu kembali terbuka menampakkan Roni yang membawa tentangan, beberapa hari ini memang dia jadi tukang dilever.
Makanan untuk Aria juga dibeli walaupun dari rumah sakit menyediakan, tapi Aria ingin makan Pizza. Izana menguapi Aria karena dia tidak bisa apa-apa, tangan Aria diperban dan lemah saat ini.
“Abang makanlah juga.”
“Nanti saja.”
“Makan! Aku tidak mau roti sobekmu hilang.”
“Nanti abang bisa olahraga lagi.” Tangannya masih ingin menyuap Aria tapi Aria tidak mau menganga. Izana mendengus dia tahu apa yang diinginkan Aria. “Baiklah,” katanya mengalah dengan mengambil sebungkus nasi padang untuk dirinya sendiri.
“Aku juga mau itu Bang.”
“Nih aaaa~”
Mereka tampak mesra makan sepiring berdua meskipun ada Ennie dan Roni di ruangan yang sama dengan mereka. Berbeda dengan Ennie yang terlihat senang, Roni setengah mati menahan cemburu kebenciannya terhadap Izana semakin besar.
“Oh iya Aria, kamu yang sabar ya Nak. Kata Izana anakmu keguguran pas kamu ditabrak,” ujar Ennie sedih. Aria melirik suaminya, Izana memainkan alis. Ternyata dia memberi pernyataan seperti itu agar Ennie tidak curiga kalau sebenarnya Aria memang tidak pernah hamil.
Tbc.
Sebelum lanjut author sangat berterima kasih jika kalian Like terlebih dahulu.
Dan.. Komenan kalian menjadi semangat buat author
Vote kalian membantu untuk novel ini terus berkembang. Jangan pelit pelit ya, author usahakan gak pelit update juga.