Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 94


Aria kelabakan sibuk menelepon Izana untuk pulang, dia tidak mungkin pergi sendiri di saat ada janji antara dia dan juga Izana. “Is ke mana sih!?” rutuk Aria terus menelepon.


Haruskah dia melanggar aturan? Tidak jangan, entah apa yang dilakukan Izana nanti. Tut~ Tut~ Tut, Ah sial! Berapa kali pun dia mencoba tetap saja tak terhubung.


“Ya Allah ku mohon.” Aria terus menghubungi sampai akhirnya dapat tersambung.


“Ha-”


“Bang cepat pulang!” potong Aria cepat.


“Kenapa?”


“Darurat ini, masa Roni jadi CEO. Antarkan aku ke rumah ibu yuk aku mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.”


“Ya sudah abang pulang sekarang.”


Izana ngebut tak peduli dengan rambu lalu lintas, peduli setan! Dia juga ikut terkejut dengan kabar yang Aria kasih tahu. Tak sampai 10 menit motor sudah terparkir di depan rumah.


Aria langsung keluar dengan penampilan yang sudah siap. Langsung saja mereka pergi detik itu juga bahkan Izana tak sempat naik ke rumah untuk sekedar minum saja.




Yang biasanya memakan waktu empat jam di perjalanan, dapat ditembus Izana hanya dengan waktu dua jam empat puluh menit. Bisa kalian bayangkan bertapa lajunya itu.



Aria yang menuntut Izana, tadinya Izana ingin seperti biasa saja karena membawa istri. Rengekan Aria memaksanya untuk menjadi pembalap.



Tin tin tin.



Tidak ada yang membuka gerbang, aneh sekali. Biasanya gerbang rumah itu akan terbuka hanya dengan melihat Izana dan Aria dari kejauhan.



“Lihat kan bang, aku yakin ada yang enggak beres ini.”



“Satpamnya mana?”



“Tadi aku liat mereka masuk ke dalam post.”



“Ya sudah kamu tunggu di sini, abang yang memanjat.”



Izana turun dari motor, memanjat pagar rumah bukanlah hal yang sulit baginya. Ingat profesinya kan?



Sruk.



Izana berhasil turun di dalam, para satpam tampak ketakutan ketika Izana membuka paksa pintu pos mereka.



“Ada apa ini? Kenapa kalian tidak membuka pagar?”



“Itu Den kami tidak tahu.”



“Tidak tahu apanya? Jelas-jelas kalian berlari saat melihat aku dan Aria dari kejauhan.”



“Buka pagarnya!”




“Buka!” gertak Izana, dia tidak peduli walaupun berbicara dengan orang tua. Satpam pun membukakan pagar, padahal Izana bisa membuka sendiri dia hanya ingin tahu apakah satpam itu akan terus membangkang atau tidak.



“Kalian ini apa apaan!” semprot Aria langsung setelah masuk. Dia khawatir ditambah lagi dengan sikap para satpam yang tidak seperti biasa.



“Nona maaf.”



“Di mana ibu?”



“Kami tidak tahu.”



“Jadi yang menyuruh kalian melarang Zin masuk siapa?”



“Pak Roni.”



“Di mana dia sekarang?”



“Di dalam.”



Dari balkon Roni sudah panik melihat orang yang di bawah sana. “Minah itu anak dan menantunya Ennie, bagaimana nih?”



“Kalau sudah terlanjur masuk, ya sudah tinggal berbohong saja.” Selain mereka berdua tidak ada yang tahu lagi tentang Ennie, termasuk satpam yang berjaga di bawah sana.



“Kau yang bilang ya.”



“Iya aku akan berperan sebagai temannya Ennie.”



“Apa mereka akan percaya?”



“Itu urusan nanti, kalau mereka tidak percaya pun memang apa yang bisa dilakukan? Aku ini jago, pemuda itu pun bisa kutumbangkan.”



Minah tidak mengenali anak sendiri, wajar saja terakhir dia melihat Izana waktu pria itu umur delapan tahun. Wajah Minah pun banyak perubahan karena operasi plastik agar tetap cantik di usia senja.



Tbc.



Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu



Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.