
Sesuai perkataan Izana, mulai sekarang Aria tidak bekerja lagi, Aria berpikir mungkin Izana tidak mau tanggung jawabnya mencari nafkah diambil oleh Aria, sangat simpel pemikiran wanita 18 tahun ini.
“Wow.” Senang Aria melihat isi kulkas sudah penuh dengan berbagai macam bahan mentah yang bisa diolah.
Di saat sibuk memotong-motong kentang tiba-tiba dadanya diremas-remas oleh orang yang berada di belakangnya.
“Bang aku mau masak, singkirkan tanganmu itu.”
“Abang mau minum susu.”
“Di kulkas ada susu kotak.”
“Bukan itu tapi yang ini,” ucapnya semakin meremas hingga Aria terpekik dibuatnya.
“Ini mana ada airnya!”
“Ada enggak ada tetap enak, yuk ke kamar.”
“Enggak! Aku mau masak.”
“Kita makan di luar aja nanti, yuk ke kamar abang kepingin nih.”
Aria menepis tangan Izana yang semakin menjadi jadi, pria ini ternyata mesum juga masih pagi sudah tegang aja bahkan celana boxernya sudah menonjol besar.
“Hiiiissss,” keluh Aria melihat tonjolan itu. Ya kalau seperti ini mau tidak mau harus dilayani kalau tidak bisa saja dia pergi dengan keadaan celana menggelembung.
>>>
“Engg ah~” desah Aria merasakan lidah yang bermain di intinya. Dia melenguh keenakan melebarkan pahanya membiarkan Izana di bawah sana bebas.
Saat merasakan sesuatu ingin keluar, Aria semakin menekan kepala itu hingga akhirnya dia meng erang panjang.
“Sayang kau diam saja, biarkan aku melakukan apa yang aku mau.”
“Jangan dimakan itunya.”
“Kenapa tidak boleh? Malah itu yang kucari.” Sudah cukup melakukan pemanasannya, Izana membalik tubuh Aria, dia menggesek-gesek belahan kewanitaan itu menggunakan miliknya. “Sudah siap?” tanyanya.
“Eng~”
Izana memasukkannya dengan pelan, ya pelan itu sangat menantang dibandingkan terburu-buru, bukankah menikmati rasa sesak ketika bercinta itu sangat menggairahkan?
“Bang cepatan!” keluh Aria karena Izana sangat mempermainkannya, pria ini kebiasaan membuat Aria menderita dengan cara seperti ini.
“Semakin sesak semakin besar,” timpal Izana menyunggingkan senyumnya. Kemudian dia mempercepat gerak menciptakan suara benturan yang nyaring memenuhi kamar mereka.
“Ahh enak,” racau Aria yang akal sehatnya sudah dipenuhi nafsu semata, mungkin kalau ada yang mendengar desa-han itu di luar dia akan malu besok.
“Enak hmm?” balas Izana merasa bangga telah membuat istrinya melayang ke langit tujuh meninggalkan kewarasan di dasar palung mariana yang gelap.
“Iya, ah.”
Izana melepaskan penyatuannya, Aria mendengus kecewa namun seperdetik kemudian tubuhnya diangkat entah mau dibawa ke mana.
Tepatnya di atas meja pantry Izana mendudukkan Aria di sana, ia letakan ke dua kaki Aria di atas pundaknya sedangkan Aria pasrah karena kedutan di bawah sana benar-benar membuatnya bernafsu.
Benda itu kembali masuk dan bergerak dengan lihai, Aria benar-benar dibuat mabuk kepayang begitu pula dengan Izana yang menikmati setiap hentakannya.
Setelah pelepasan sekali di meja pantry mereka pindah ke sofa kemudian setelah itu pindah ke belakang pintu dan terakhir adalah dalam kamar mandi untuk bercinta sambil membersihkan tubuh yang banjir keringat dan lengket, rumah itu menjadi saksi bertapa ganasnya Izana, setiap sudut terjamah oleh mereka yang terbakar hasrat mengabaikan cacing perut yang sudah demo minta makan.
Tbc.