Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 42


...Peringatan!...


...Unsur yang terdapat di dalam cerita Just fiksi jadi...


...jangan disamakan dengan kehidupan nyata....


...***...


Pukul sembilan malam Izana masih di jalan menuju pulang, di depan sana ada sekelompok polisi yang tengah melakukan razia. Izana kesal sekali padahal dia buru-buru ingin mendapatkan jatahnya.


Sambil menunggu antrian Izana menyalakan korek menghidupkan sebatang rokok. Dia sama sekali tidak takut dengan razia walaupun sebenarnya motor yang ia pakai adalah hasil rampasan.



Semakin lama semakin dekat Izana dengan polisi, beberapa anak remaja di depannya tertangkap membawa minuman keras. Hingga akhirnyai giliran Izana yang dipriksa.


“BPKB? STNK dan KTP nya bawa kan, Dek?”


“Ini Pak.”


Polisi memeriksa seksama, benar kalau surat surat motor itu resmi, tapi bagaimana bisa? Padahal motor ini adalah hasil rampasan, itu kerna pak Ramli memiliki orang dalam di beberapa kantor Samsat, walaupun begitu tidak mudah membuat surat kerna proses yang cukup sulit.


Dunia ini penuh dengan orang licik, sepintar-pintarnya pemerintah tetap saja ada tindak kriminal yang lolos dari pemindaian yang bahkan pemerintah itu sendiri yang buat.


“Ok silahkan lewat,” kata pak polisi memberikan jalan untuk Izana. Baru saja Izana mau mengegas motornya sebuah teriakan anak laki-laki berseragam SMP menghentikannya.


“Abang yang di sana jangan pergi dulu”


“Nih bocil siapa lagi?” ucap Izana dalam hati.


“Ada apa Theo? Dia membawa surat lengkap,” kata pak polisi pada anak laki-laki yang memegang permen kapas itu.


“Dia siapa Pak? Apa aku perlu memperlihatkan BPKB padanya?” tanyanya pada pak polisi.


“Dia putra dari salah satu petinggi kepolisian, lihatkan saja dek.”


Firasat Izana tidak enak dengan kehadiran bocil itu, sungguh dia tidak pernah merasa seterancam ini, dan anehnya sama bocil? Apa dia bercanda!


Theo memeriksa BPKB milik Izana dia tersenyum miring, tatapannya membuat Izana menelan ludah kasar.


“Ini dibuat dua hari yang lalu, ya? Apa motor sama suratnya waktu keluarnya beda?” Theo menyindirnya.


“Iya, bukankah hal itu sudah biasa ya? Kwnapa kau menyulitkanku seperti ini, cepatlah aku mau pulang.”


“Ya sudah nih surat-surat motor Abang, hati-hati di jalan jangan ngebut-ngebut ya.”


“Huh~” Izana bernapas lega, akhirnya dia bisa lepas dari si bocil.


Sedangkan Theo menatap punggung Izana yang semakin jauh. “Dia pembeli atau pelaku?” gumam Theo. Dia tahu surat itu bukanlah yang asli, sudah banyak kasus yang sama dia jumpai. Tapi Theo tidak bisa menangkap Izana kerna bisa saja dia juga tidak tahu apa-apa atau dengan kata lain dia adalah korban yang membeli motor yang suratnya sudah dipalsukan.


Jika ingin menangkap maka yang harus ditangkap adalah biang keladi. Theo pernah menanyakan dengan pengendara sama siapa mereka membeli motor, si pengendara memang menjawab tapi hasilnya malah ke dialer motor. Sepuluh orang yang di tanya tetap saja berakhir di dialer motor, itu berarti sumber sangat sigap untuk memutus ekornya setiap mengeluarkan barang.


“Ini tugas polisi kenapa aku yang pusing?”


Theo adalah anak Detektif Agha, dia memang sering berkeliaran dengan polisi karena papanya memang bekerja di kepolisian. Namun hal semacam ini tidak mungkin papanya turun tangan, kerna bidangnya memang berbeda.


Tbc.


Theo, si detektif cilik.