Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 26


Pagi-pagi sekali Aria sudah berada di depan warung buk Emi yang jarak 50 meter dari rumah. Ia membeli dua bungkus mie instan isi dua dan juga telur untuk dijadikan sarapan pagi ini.


“Owalah pasangan muda, ibu semalam ada lihat kamu lewat pakai motor sama suami kamu, ibu kita siapa cantik banget,” curhat buk Emy setelah bertanya-tanya pada Aria.


“Hehe iya Buk, maklumlah baru pindah.”


“Rajin banget ya kamu pagi-pagi sudah bangun, beda sama anak gadis ibu yang masih molor di jam begini.”


“Ya sudah saya pulang mau masak dulu, suami bangun pasti lapar.”


Aria kembali lagi berjalan, daerah ini bukanlah kampung melainkan masih berada di kota tapi ini terletak di dalam gangnya, bahkan saat ini Aria dapat melihat gedung tinggi dari tempat dia berpijak sekarang.


“Sudah lima hari aku tidak masuk kerja, pasti Sesil marah-marah nanti,” gumamnya sendiri membayangkan raut wajah Sesil.


Setelah sampai rumah Aria mengecek Izana yang ternyata masih tidur, pria itu polos tanpa benang bahkan selimut yang dikenakan pun tersingkap, Aria jadi salah tingkah sendiri apalagi mengingat tadi malam.


Setelah memperbaiki selimut Izana barulah Aria ke dapur.


Bunyi suara wajan yang beradu dengan spatula sudah berhenti tanda kalau masakannya berupa mi goreng sudah jadi. Tak lupa juga dengan nasi yang ditaruh di dalam mangkok.


Drrt.. Drrt..


Di atas meja makan HP Aria berdering, Aria melihat nama orang yang meneleponnya ternyata Ennie, ya siapa lagi? Aria tidak memiliki banyak kontak di Hp-nya bahkan teman dekat pun tidak punya.


“Ada apa Bu?”


“Ibu cuman mau kasih tahu kalau perusahaan kita terselamatkan, bagaimana? Kamu senang enggak?”


“Ya senanglah Bu, tapi orang bodoh mana yang membantu Ibu?”


“Hus! Jangan begitu, yang jelas ibu sangat berhutang budi dengan dia, namanya pak Adam dia dari X grup.”


“Ibu kenal?”


“Enggak tahu, mungkin teman mendiang ayah kamu.”


“Oh begitu, baguslah Bu.”


“Suamimu mana? Sudah bangun?”


“Ya sudah kalau begitu ibu tutup aja, kayaknya ganggu pengantin baru nih.”


Tut~


Panggilan pun berakhir, Aria menghela napas pelan sebenarnya dia tidak begitu peduli dengan nasib perusahaan itu, dia hanya meladeni kesenangan ibunya.


“Bang, bangun ayo sarapan.”


“Hem~” jawab Izana namun matanya masih tertutup.


“Cepat bangun Bang!”


“Nanti.”


“Bangun!”


“Ella sudah kubilang nanti!” balas Izana menepis tangan Aria yang menggoyang lengannya.


Aria jadi terdiam, bukan masalah tepisannya tapi nama yang dipanggil Izana barusan. Mood Aria langsung jelek, dia menghentakkan kakinya berjalan ke dapur untuk makan sendiri.


“Ella siapa? Kalau Izana menyebutkan namanya secara tidak sadar pasti Ella orang yang sering membangun kan Izana? Seperti kebiasaan misalnya,” pikirnya sendiri.


Sudah sejam Aria termenung di sofa memikirkan hal yang membuatnya kesal, saat melihat wajah bantal Izana yang baru saja terbangun Aria membuang muka.


“Hei ada apa?” tanya Izana yang heran dengan Aria yang terlihat masam.


“Enggak ada, sana makan paling Mienya sudah dingin,” jawabnya ketus.


Izana melirik ke arah meja makan dan benar saja ada piring di atas situ.


“Baiklah aku makan.”


Cup~


Izana mengecup kening Aria sebelum dia beranjak, dia mengira Aria marah karena dia tidak bangun-bangun saat Aria bangunkan. Izana sadar Aria yang membangunkannya tadi tapi dia tidak sadar dengan nama yang keluar dari mulutnya.


Tbc.