
Sore ini Izana kembali memanjat pohon mangga atas permintaan istrinya yang suka masam. Untunglah tidak ada serangga di pohon itu, kalau tidak pasti Izana sudah berjoget di atas pohon.
“Bang yang di sana besar,” tunjuknya antusias hingga kepala yang mendongak ke atas itu dikejutkan dengan orang yang menepuk pundaknya.
“Hai lagi apa?” tuturnya ramah.
“Oh kau? Kau yang tadi siang merundung Tati kan?” ucap Aria yang dibalas cengengesan oleh gadis itu.
“Aku Sari anaknya buk Emi, kau beli mi instan di toko ibuku semalam Ehehe. Jangan salah paham tentang yang tadi siang itu hanya pertengkaran kecil.”
“Aku tidak melihatnya seperti itu.”
“Aduh bagaimana ya, si Tati itu ibunya mempunyai banyak hutang di tokoku, anak mana yang tidak kesal melihat ibunya yang segan untuk menagih hutang padahal kami sangat butuh duit juga, kuharap ibunya sadar kalau anaknya akan terus dikacau kalau tidak bayar hutang,” jelas Sari yang sepertinya ingin dekat dengan Aria.
“Jadi kedatanganmu hanya untuk menjelaskan itu?”
“Ah enggak, ini ibuku buat kolak pisang, dia menyuruh ku mengantarnya ke sini, katanya perkenalan sama tetangga baru.”
Walaupun Sari berkata seperti itu Aria sadar kalau gadis ini sesekali melirik ke atas sambil menahan senyum. “Kau mau mangga?” tanya Aria.
“Ah i-iya aku mau.”
“Bang ambil banyakan dikit aku mau kasih tetangga,” jerit Aria mendongak ke atas.
“Iya.”
Kemudian Aria membawa Sari duduk dekat kursi pelantaran rumah mereka. “Jadi masalahmu dengan Tati karena uang, kupikir kau memang pengacau karena tadi kau mengejek fisiknya juga.”
“Jadi menurutmu bagimana?”
“Kau jahat, tapi yang namanya uang semua orang butuh jadi aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya, hutang memang harus dibayar jika sudah sampai waktu janjinya.”
“Iyakan, aku tidak salah.”
“Tapi kalau kau memang masih ada uang lebih baik memberikan waktu untuk mereka yang juga kesulitan uang, kasihan kan keluarga mereka.”
“Ya ibuku juga bilang begitu tapi aku yang kesal sendiri jadinya,” keluh Sari memanyunkan bibirnya.
Di pohon sana Izana baru turun dengan keresek penuh dengan buah mangga. Dia berjalan mendekati Aria bersikap cuek dengan Sari yang memandangnya penuh kagum.
“Nih mangganya, Sayang.”
“Oh taruh di situ dulu, Sari tunggu bentar ya aku ambil plastik untukmu.” Aria masuk ke dalam, Izana mau masuk juga tapi tangannya dicekal oleh Sari.
“Hai aku Sari, itu ada kolak pisang buatanku nanti dimakan ya,” kata Sari dengan suara yang dibuat seimut mungkin.
Ternyata dia datang ke sini karena Izana yang ia lihat di kafe waktu itu. Dan saat di bawah pohon tadi dia bukan melirik buah mangga melainkan Izana yang di atas situ.
Flashback.
Saat dia keluar, perhatiannya terpaku pada satu pria yang duduk bersama Tati dan cewek nyebelin yang ia bilang tadi.
“Eh gais lihat deh, tuh cowok ganteng banget gila,” adu Sari pada dua temannya dengan tatapan memuja.
“Eh tapi kayaknya pacar tuh cewek deh,” sambung teman Sari.
“Ih sialan! Jangan bicarakan tuh cewek, ngeselin tahu.”
Sari kemudian pulang dengan wajah pria yang menjadi angan-angan yang saat ini. “Pokoknya tuh cowok harus aku dapati,” gumamnya sendiri.
Sesampainya di rumah dia disambut dengan ibunya yang siap memerintah. “Sari antarkan kolak ini ke rumah Aria,” suruh Emi.
“Siapa Aria?”
“Itu loh pasangan suami istri baru yang tinggal di samping rumahnya Tati. Semalam dia beli mi instan di sini ibu jadi ingin berbagi dengannya, kayaknya anaknya ramah.”
Tiba-tiba Sari teringat dengan perkataan cewek nyebelin. “Bukankah tuh cewek bilang kalau dia tetangga Tati ya? Itu berarti.... MEREKA SUDAH MENIKAH?!” teriaknya tiba-tiba.
“Hei kau ini kenapa? Cepat antar!”
“Peduli setan! Apa yang aku inginkan harus aku dapatkan,” ucapnya dalam hati, dia menerima kolak buatan ibu dan menjadikan ini kesempatan untuk memamerkan dirinya pada pujaan hatinya.
Flashback End.
Bukannya tertarik Izana malah jijik dengan suara Sari yang dibuat-buat manja.
Izana masuk ke dalam setelahnya bergantian dengan Aria yang keluar. Aria memilih kan buah yang bagus dan besar untuk Sari lalu membungkusnya. “Nih Sari untukmu, oh iya terima kasih untuk kolaknya.”
“Iya sama-sama,” jawab Sari.
Perhatian Sari malah fokus melihat Izana keluar lagi dari rumah mendekati Aria.
“Sayang aku keluar bentar ya, nanti jam tujuh aku pulang.”
“Ok malam ini aku masak cumi-cumi, mau kan?”
“Mau banget.” Izana memeluk dan mengecup kening Aria di depan Sari. Gadis itu sudah tidak bisa menahan ekspresi kesalnya melihat kemesraan pasutri muda yang tampak sempurna di hadapannya.
Saat Izana sudah menjauh dengan motornya pun tatapan Sari mengikutinya.
“Ada apa Sar?” tanya Aria.
“Ah enggak a-aku pamit pulang dulu ya.”
“Iya bye-bye” Lambai Aria, kemudian masuk ke dalam rumah untuk memakan kolak pemberian buk Emi.
Tbc.