Begal Terpaksa Menikah

Begal Terpaksa Menikah
Part 59


Sesuai janji yang dikatakan tadi siang, mereka benar-benar melakukannya malam ini. Izana dan Aria sudah polos dengan pakaian yang tercecer di lantai.


“Aww sakit,” ringisnya, ini sudah tiga bulan ingat? Rasanya seperti kembali menjadi perawan. Entah orang lain mengalami hal yang sama atau hanya Aria?


“Kau kembali perawan ya Sayang?” Kalau seperti ini Izana jadi kesulitan, apalagi melihat Aria yang meneteskan Air mata, apakah benar sesakit itu?


“Engga tahu Bang, sakit.”


“Tahan sedikit, kau harus dibiasakan kembali agar tidak sakit lagi.”


Punggung Izana tergores oleh kuku Aria walaupun demikian dia tidak berhenti untuk tatap memasukkan kejantanannya.


Pelan-pelan dan terus maju hingga masuk sempurna, didiamkan sebentar mengalihkan kegiatan dengan saling bercumbu bibir, untuk mengalihkan sakitnya Izana memainkan ujung dari gunung kembang.


Lenguhan yang terdengar tidak sabar dari bibir Aria meyakinkan Izana bahwa rasa sakit itu sudah hilang.


Benda itu keluar masuk menciptakan suara basah yang menggairahkan, kini yang tersisa rasa nikmat memabukkan kedua insan yang tengah bercinta.


Hingga beberapa kali larva panas keluar menembak ke dalam barulah permainan yang enak itu selesai, Izana mencabut miliknya yang sudah puas kemudian menyelimuti Aria yang terkapar lemas.


Dia pun pergi ke kamar mandi, setelah 10 menit Izana selesai mandi dia mencari baju di lemari. Bajunya tampak rapi seakan ingin pergi, Aria pun bertanya. “Abang mau ke mana?”


“Cari uang.”


Ibaratkan Izana adalah kelelawar yang bekerja di malam hari, ya beginilah penjahat malam.


Dulu sebelum menikah, Izana sangat malas bahkan untuk makan saja dia susah. Tapi sekarang dia lebih rajin memberikan pekerjaan untuk polisi, pasti laporan di kantor polisi sudah menggunung untuk kasus yang ia buat sendiri.




Di gelapnya malam Izana bersembunyi di tempat sepi menunggu seseorang lewat, namun sebuah teriakan mengalihkan perhatiannya. Di seberang sana ada segerombolan orang yang tengah menarik-narik tangan seorang anak laki-laki yang memberontak.



“Lepaskan Om, jika kalian ketahuan papaku kalian akan mati!”



“Siapa yang peduli dengan papamu anak kecil?”



“Aaaa tolooong..”



Brak!



Tadinya Izana tidak mau menolong tapi insting kriminalnya berkata kalau menolong anak itu akan menjadi sebuah keberuntungan ke depannya.



Satu orang sudah tumbang, tersisa tiga yang siap membalas apa yang Izana buat pada rekan mereka.



Bertiga? Kecillah itu bagi Izana. Dia membereskan penculik anak itu dengan mudah bersenjatakan pengalaman yang sudah tak terhitung berapa banyak pertarungan yang sudah dia hadapi.



“Abang! Terima kasih, Bang” Peluknya menangis, Izana baru menyadari anak itu ternyata Theo si bocah kematian.



“Kau! Kenapa bisa diculik! Orang tuamu mana?”




“Astaga anak kecil, kalau tidak bisa menjaga diri di luar lebih baik kau jadi anak penurut. Kenapa kau kabur?”



“Papa mau ke luar negeri mencari jejak tahanan kabur tapi dia tidak mau mengajak aku.”



“Kamu kan sekolah.”



“Tapi aku mau ikut!”



Kemudian sebuah mobil berhenti di depan mereka, itu adalah mobil papanya Theo. Pria gagah turun dari mobil dengan tatapan dingin ke arah putranya sendiri.



“Terima kasih sudah menyelamatkan putraku.”



“Papa tamu aku diculik?” tanya Theo dengan raut masih merajuk.



“CCTV di kota sudah cukup membuktikannya, ayo ucapkan terima kasih pada abang itu.”



“Terima kasih Bang.”



“Theo kelakuanmu malam ini sangat keterlaluan, mamamu menangis di rumah.”



“Maaf Papa.”



“Minta maaf sama ibumu, oh iya dek sekali lagi terima kasih ya aku tidak tahu apa yang terjadi pada anak nakal ini kalau telat sedikit saja.”



“Iya enggak apa-apa, Om.”



“Jika kau butuh bantuan kau bisa menghubungiku.” ujarnya sembari memberikan sebuah kartu, kemudian dia pergi bersama Theo yang melambaikan tangan dari jendela mobil.



“Bantuan dari petinggi polisi? Yang ada bisa berakhir di jeruji aku,” kata Izana terkekeh lucu.



Tbc.