
Dita menyerahkan Lea kepada Bara, dia memeluk Abian dan menangis. Semua orang tidak bisa berbuat apapun, karena Abian sepenuhnya hak Farel selaku Ayah kandung. "Tidak, d-dia putraku. Tidak ada boleh yang membawanya pergi dari ku," ujar Dita yang menolak.
"Maaf nyonya Nathan Wijaya, dia putra kandungku. Kamu hanya orang asing, aku akan mengambil hak asuh selaku Daddy nya," sahut Farel yang mendekati Abian.
"Tidak, aku hanya ingin tinggal di sini. Daddy urus saja keluarga barumu, di sini semua orang menyayangiku. Aku merasakan kasih sayang yang tidak pernah Daddy berikan kepadaku," ketus Abian yang mengeratkan pelukannya.
"Suamiku, kamu jangan diam saja. Lakukan sesuatu, aku tidak ingin Abian pergi," ucap Dita yang memohon.
"Anak mu di sini sudah bahagia, jangan membawanya pergi," ucap Nathan yang menatap Farel.
"Tidak bisa, Abian itu anakku. Mau tidak mau, aku akan membawa nya pergi jauh. Aku akan merawatnya dengan sangat baik, tidak perlu mencemaskan anaku, karena aku tau bagaimana bersikap," tutur Farel yang menarik tangan Abian.
"Tidak....tidak jangan membawaku, aku lebih menyukai di sini," teriak Abian yang di sela-sela tangisannya. Semua orang hanya bisa menonton dan tidak berdaya, karena posisi Farel sangat kuat.
Farel menyeret Abian membuat Dita dan twins L mengejarnya dan memeluk Abian, "beri aku waktu sebentar saja, aku ingin melihat putraku untuk terakhir kalinya," pinta Dita yang memohon kepada Farel. Nathan menghampiri Farel berniat membuat kesepakatan dengannya, tapi kesepakatan dari Nathan di tolak mentah-mentah oleh Farel yang lebih memilih Abian.
"Sayang, maafkan Ibu yang tidak bisa menjagamu lagi. Tapi Ibu akan selalu mengingatmu, Nak. Simpanlah kalung liontin ini, Ibu membuat kalung ini khusus untuk anak-anak Ibu," kata Dita yang memberikan liontin kepada Abian.
"Ibu jangan menangis lagi, aku tidak akan melupakan semua orang terutama Ibu," ujar Abian yang menghapus air mata yang mengalir di pipi Dita.
"Jangan menangis lagi Bu, atau aku tidak akan bisa pergi," tambah Abian.
"Baiklah."
Sekali lagi Dita memeluk Abian dengan tangisan mereka pecah, Abian melepaskan pelukan itu dan menatap twins L. "Aku pergi dulu, tolong jaga Ibu untukku. Aku akan mengirimkan kalian email setelah sampai di Amerika," ucap Abian membuat twins L memeluknya dengan sangat erat.
"Jagalah kesehatan kalian berdua, dan juga kabari aku mengenai kabar kalian di sini. Jika aku sudah dewasa, aku akan mengunjungi kalian," ucap Abian yang menghapus air matanya. Dia berjalan mendekati Nathan dan memeluknya, "Ayah, terima kasih telah menerimaku di keluarga ini. Aku sangat berhutang budi dengan kebaikan dan juga kasih sayang yang kalian berikan kepadaku. Maafkan aku yang telah membuat mu kesal dan kerepotan, karena mulai sekarang aku tidak akan merepotkan Ayah lagi," tutur Abian, Nathan yang tak kuasa dengan perpisahan itu memeluk erat tubuh Abian, karena dia juga menyayangi Abian dengan tulus.
"Ck, cepatlah sedikit atau kita ketinggalan pesawat," desak Farel yang melirik jam tangan mahalnya.
Abian berpamitan dengan semua orang, Farel sedikit bosan dengan drama di hadapannya. Hingga dia menyeret Abian dengan paksa, Al dan El mengejar mobil yang di kendarai oleh Farel. Mereka terus mengejar hingga mobil itu sangat jauh, mereka menangis dengan sangat keras.
****
Beberapa minggu kemudian, twins L sedikit melupakan kejadian saat Abian di paksa pergi. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain mengirim email, tapi beberap hari ini Abian tidak pernah membalasnya. Mereka bahkan sudah meretas data Abian, ternyata nihil. Tidak menemukan keberadan Abian, hilang bagai tertelan bumi.
Mereka meminta ijin kepada Dita dan juga Nathan yang akan pergi ke taman, Nathan menyetujuinya. Al dan El tidak bersemangat dalam melakukan hal apapun, hingga dia tak sengaja melihat Zean yang mengendap-endap, "eh lihatlah! itu Paman Zean, tapi kenapa dia mengendap-endap seperti pencuri," tunjuk Al.
"Hem, sangat mencurigakan. Bagaimana jika kita mengikutinya?" usul El.
"Itu bagus, ayo!" sahut Al.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" ucap Zean yang mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya kami melihat Paman yang berjalan sangat mencurigakan, siapa yang Paman ikuti?" tutur Al yang celungukan dan melihat target yang di ikuti oleh Zean.
"Wah....wah ternyata Paman menyukai kak Raya ya? aku akui, jika kak Raya itu sangat cantik. Tapi sayang, dia tidak cocok dengan Paman yang sudah tua," ledek El.
"Jangan sok tau, Paman tidak mengikutinya. Hanya saja...." ucap Zean yang berpikir mencari ide agar kedoknya tidak ketahuan.
"Hanya saja?" tanya Al.
"Paman hanya kebetulan lewat dan tak sengaja melihat Raya di jalan ini juga."
"Ooh begitu, kapan kita akan meracik racun lagi Paman?" seloroh El dengan sangat antusias.
"Jangan sekarang, minggu depan saja."
"Baiklah, kami akan memanggil kak Raya untuk datang ke sini. Bagaimana Paman?" tanya Al yang tersenyum.
"Tidak perlu memanggilnya, kalian pergilah atau aku tidak akan mengajari kalian dalam hal meracik racun," cetus Zean yang membuat senyum antusias dari wajah twins L itu berubah menjadi cemberut.
"Akhirnya, aku mendapatkan kartu As," batin Zean yang tersenyum saat tipis, saat melihat twins L yang pergi meninggalkan tempat itu.
Zean yang menasaran, saat Raya mengganti style tomboy nya menjadi feminim. Zean menatap kagum dengan pelayan cantiknya, "ternyata itik buruk rupa menjadi angsa putih yang sangat cantik."
Raya melanjutkan perjalanan nya menuju lokasi yang sangat ramai dengan anak-anak. Yah, Raya menuju panti asuhan, Zean bisa melihat dengan jelas kegiatan Raya yang menghibur anak-anak. Seketika hati Zean seakan luluh dan menghangat saat Raya begitu dekat dengan anak-anak panti.
Dia mengambil ponsel yang ada di saku dan menelfon seseorang untuk mengawasi dan mencari data dari Raya.
"Ternyata dia mencuri untuk memberi makan anak-anak panti," gumam Zean yang menyunggingkan senyum.
Hingga senyum itu berubah terkejut, di kala Al dan El mengejutkannya dari belakang. "Kalian masih di sini?" ucap Zean yang sedikit geram.
"Tentu saja, sifat penasaran kami sangat lah besar. Hah, apa Paman menyukai kak Raya?" ucap El.
"Ck, kalian hanya anak kecil. Tidak pantas untuk membicarakan urusan orang dewasa, pergilah dari sini dan jangan menganggu ku," ketus Zean.
"Kami tidak akan menganggu, lakukan saja urusan Paman. Kami hanya penasaran saja," jawab El dengan santai.
"Dua kutu ini selalu saja menyusahkan aku, apa aku boleh menggantungnya?" batin Zean yang kesal.