Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 161 ~ S2


Carolin yang sedang memasak tiba-tiba saja mual saat mencium aroma minyak goreng, dia menutup hidungnya tapi tetap saja merasakan mual. Dengan cepat Caroline menuju wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya, "ada apa dengan ku? kenapa mual ini sangat menyiksaku? tunggu dulu, bulan ini aku belum dapat tamu bulanan. Apa jangan-jangan aku hamil?" gumam Caroline yang tampak berpikir.


Dia pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya, mengambil sebuah testpack yang ada di laci meja di samping tempat tidur. Menuju kamar mandi dan melihat hasilnya, perasaan yang sangat tidak menentu dan juga takut dengan hasil yang tidak sesuai dengan perkiraan nya.


Tak butuh waktu yang lama, Caroline melihat hasilnya. Dan benar saja, dia seakan tak percaya dengan garis dua yang ada di testpack. Air mata keluar dengan sendirinya, bukan kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.


"Ya tuhan, apakah aku benaran hamil di saat usiaku tidak muda lagi?" gumamnya yang kembali menatap benda kecil yang ada di tangannya. Zean mengetuk pintu kamar mandi karena mengkhawatirkan keadaan Caroline yang lama di dalam kamar mandi.


"Sayang, buka pintunya. Apa yang terjadi denganmu? kenapa sangat lama sekali?" ucap Zean yang terus mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya sebentar," sahut Caroline yang membuka pintu, Zean sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


"Apa yang terjadi?" desak Zean yang menatap mata sang istri dengan dalam. Caroline menyerahkan hasil testpack itu kepada suaminya, dengan cepat Zean mengambil barang kecil itu dan melihatnya dengan seksama.


"Sayang, kamu hamil?" tanyanya yang meneteskan air mata. Caroline mengangguk dengan cepat membuat Zean bersorak gembira dan memeluk istrinya dengan lembut.


"Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksanya," tambah Zean.


"Terserah padamu." Caroline tersenyum saat melihat ekspresi suaminya yang bahagia dengan kehamilannya. Mereka juga mengatakan kabar itu kepada Abian dan juga Rayyan yang kebetulan ada di mansion milik Zean, mereka sedang bertanding memainkan PlayStation di ruangan khusus untuk bersantai. Sepasang suami istri itu sedang bergandeng mesra dan juga senyuman di wajah keduanya yang tidak pernah luntur.


"Ada apa? sepertinya Mom dan Dad sangat bahagia?" ucap Abian yang melirik beberapa detik saja.


"Apa kalian akan selalu bermain game di saat kami di sini, sudah cukup bermainnya. Ada kabar yang sangat bahagia yang ingin kami bagi dengan kalian berdua," cetus Caroline.


"Yeah, aku menang lagi dan kamu kalah. Sudah aku bilang untuk tidak menantangku," cibir Rayyan.


"Hah, itu hanya kebetulan saja. Jika aku terus berlatih kamu akan kalah dariku, tadi hanya pemanasan saja." Mereka melupakan keberadaan Caroline dan Zean yang hanya menghela nafas dengan kasar.


"Ehem." Mereka berhenti saat mendengar deheman dari Zean.


"Kalian sudah besar dan jangan seperti anak-anak, apa kalian akan bertengkar setelah memiliki adik?"


"Apa maksud Daddy? aku tidak mengerti," ucap Rayyan yang menatap bingung.


"Sebentar lagi kalian akan mempunyai seorang adik." Caroline mengatakan itu dengan sangat antusias, sedangkan Rayyan dan Abian sangat bingung untuk menanggapinya.


"Apa itu benar?" tutur Abian yang di iyakan oleh Zean dan Caroline.


"Itu bagus dan aku ucapkan selamat untuk Mom dan juga Dad," ujar Rayyan.


"Semoga saja adikku nanti tidak menyebalkan sepertinya," gumam Abian yang melirik Rayyan.


"Kenapa kamu menatapku? apa mata itu ingin aku congkel?" balas Rayyan yang tak kalah sinisnya, mereka yang kembali bertikai. Zean dan Caroline menghela nafas dan pergi dari tempat itu tanpa melerai mereka.


Al sangat penasaran siapa yang pria yang telah menyelamatkan nyawa Shena, dia memikirkan hal itu hingga tidak fokus dalam bekerja. Ben yang berada di samping sang atasan hanya berdiri diam tanpa berani membuka suara, karena dia sudah mengenal karakter dari twins L.


"Apa kamu tidak mempunyai pekerjaan lain? pergilah dari sini!" ketus Al yang sangat kesal.


"Semua tugasku sudah aku selesaikan Tuan."


"Pergilah dari ruangan ku, masalahku akan bertambah jika kamu selalu berada di sampingku, cepat pergilah!" ucap Al yang mengusir tanpa ingin di bantah.


Al membuka laptop dan mulai mencari informasi siapa pria yang menyelamatkan Shena, Walau bukan keahliannya dalam meretas, tapi dia sedikit memahami ilmu itu dari sang adik kembarannya.


Al meretas beberapa Cctv di jalanan saat lokasi, memeriksa satu persatu. Dia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan sangat jelas, hingga Al memasukkan beberapa program yang memudahkan untuk mengidentifikasi objek buram menjadi jelas.


Memainkan jari-jarinya mengetik keyboard dengan begitu cepat dan juga lihai, pupil matanya membesar saat melihat siapa pria itu. Mengepalkan tangan dengan sempurna dengan rahang yang mengeras, menatap rekaman Cctv dengan sangat intens.


"Oho, jadi dialah yang menjadi pahlawan kesiangan yang menyelamatkan nyawa Shena? aku tau apa niatmu yang sebenarnya Alan, aku sudah memperingatimu tapi kamu melanggar batasanmu sendiri," ucap Al yang menatap bendah pilih itu tanpa berkedip.


Beberapa hari kemudian..


Pesta yang sangat meriah untuk seluruh pengusaha yang terkenal di kota itu, sebenarnya Al tidak ingin pergi ke acara yang menurutnya sangat membosankan. Ada begitu banyak pengusaha yang berusaha menjilat kepadanya, itulah salah satu penyebab nya.


Dia membawa istrinya yang telah di sepakati bersama, jika Shena akan menjadi partnernya ke pesta dengan menggunakan gaun yang telah dia pilih. Mereka juga sepakat untuk tidak membocorkan hubungan mereka di publik, Shena dan Al hanya akan menjadi sepasang kekasih saja.


Di saat mereka menginjakkan kaki di karpet merah, ada begitu banyak kaum hawa yang sangat syok dengan Al yang menggandeng seorang gadis yang sangat serasi dengannya. Shena hanya tersenyum tapi tidak di dalam hatinya yang mengabsen nama hewan di kebun binatang saat mendengar ucapan dari para wanita yang sangat mengagumi Al.


"Wah, siapa gadis cantik yang di sebelahmu ini?" celetuk Bima sang rekan bisnisnya.


"Dia kekasihku."


"Kalian tampak sangat serasi," puji Bima yang ingin berkenalan dengan Shena, dengan cepat Al menepis tangan Bima.


"Pastikan dulu jika tanganmu tidak kotor," cetus Al.


"Aku hanya berkenalan saja bukan mengambilnya, kenapa kamu sangat pelit sekali," gerutu Bima.


"Dia hanya milikku dan tidak akan aku biarkan orang lain boleh menyentuhnya," jawab Al dengan santai. Tanpa mereka sedari tadi, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan kesal sembari meminum alkohol.


"Apa dia sengaja melakukan ini? dasar Al sialan," umpat pria itu yang tak lain adalah Alan. Wajah kesal berganti dengan tersenyum bahagia, karena akan menguntungkan baginya saat Al mengklaim Shena sebagai kekasihnya.


"Bersenang-senang lah sekarang, tidak lama lagi aku akan merebut Shena dari pelukanmu. Itu akan menyakitimu dengan perlahan-lahan," batin Alan yang tersenyum devil sembari meneguk alkohol di gelas kecilnya.