
Nathan memfokuskan pikirannya untuk bekerja, menatap layar laptop dan menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Pintu terbuka membuatnya mengalihkan perhatiannya, "aku sudah mengatakan ini berkali-kali, ketuklah pintu sebelum masuk," ketus nya.
Daniel tak menghiraukan ucapan Nathan, dia memilih duduk dengan wajah yang kusut. "Ck, wajahmu sangat jelek, ada apa?" tanya Nathan yang sedikit penasaran.
Daniel menceritakan saat dia di tolak oleh Nurma, membuatnya hampir putus asa. Sementara Nathan tertawa mendengar cerita sedih dari Daniel, "dasar tidak setia kawan, aku sedang patah hati dan apa ini? kamu menertawaiku," ketus Daniel yang melemparkan bantal kecil ke arah Nathan, refleks Nathan sangat bagus bisa menangkap bantal kecil itu.
"Apa hanya segitu kemampuanmu? bukan kah selama ini kamu menggunakan namaku," cibir Nathan.
"Eh, darimana kamu tau?" celetuk Daniel yang menatap Nathan dengan pongah.
"Aku mengetahui semuanya, bahkan saat kamu di tolak sekalipun. Tapi aku tidak tau, jika kamu akan seburuk ini. Lanjutkan pekerjaanmu, aku ingin cepat pulang dan menemui putri kecilku."
"Ck, dasar egois. Perhatikan juga nasib bawahan mu yang seperti aku ini."
"Apa yang harus aku perhatikan?" ucap Nathan yang menatap Daniel dari atas sampai bawah.
"Perhatikanlah permasalahanku kali ini, aku selalu saja membantumu. Bantu aku dengan permasalahan ini, seperti mu yang takut kehilangan Dita, begitupun denganku yang takut kehilangan Nurma," ucap Daniel yang memohon.
"Malang sekali nasib mu," sela seseorang dari balik pintu yang tak lain adalah Bara bersama Al dan El.
"Berhentilah menegejekku? kenapa kamu di sini dan membawa twins L?" sahut Daniel.
"Ada apa dengan mu, Paman?" tanya Al dengan polos.
"Paman Daniel sedang patah hati," jawab Bara.
"Apa itu patah hati?" tanya El yang menautkan kedua alisnya.
"Seperti sebuah penyakit, jika penderitanya akan mengalami gejala tidak ***** makan dan selalu murung dengan wajah yang kusut," jawab Bara dengan acak, membuat Nathan tertawa, sementara Daniel semakin cemberut.
"Apa penyakit itu berbahaya?" Al menatap Bara dengan dalam.
"Tentu saja, karena bisa menyebabkan kematian."
"Cih, aku tidak pernah mendengar teori itu," ketus Daniel.
Bara tidak menghiraukan Daniel, dia membisikkan twins L membuat Daniel sedikit curiga. "Hei, apa yang kalian bisikkan? kenapa kalian menatap ku begitu?" tutur Daniel yang cemas dengan senyuman Al dan El.
Nathan tak menghiraukan drama di depannya, dia lebih tertarik melanjutkan pekerjaan untuk bisa segera pulang dan menggendong putrinya.
Al dan El menghampiri Daniel, dengan cepat mereka menepuk seluruh tubuh Daniel dengan sangat keras, sedangkan Bara tertawa terbahak-bahak melihat Daniel yang tersiksa.
"Hei, kenapa kalian menepuk-nepuk Paman, hentikan ini," cetus Daniel.
"Diamlah, kami sedang menyelamatkan nyawa Paman, bertahanlah," sahut El yang menepuk pipi Daniel dengan keras membuat sang empunya meringis.
"Aduhhh, katakan dengan benar. Apa yang di katakan oleh Bara sialan itu kepada kalian?" ucap Daniel yang melindungi wajahnya.
"Papa mengatakan cara menghilangkan patah hati yang paman derita," jawab Al yang terus menepuk wajah Daniel, sedangkan Bara duduk santai menyeruput secangkir kopi milik Nathan.
"Gejala patah hati sangat berbahaya, bisa saja Paman berniat bunuh diri. Diamlah, ini tidak akan lama!" sambung El.
Nathan yang ingin mengambil secangkir kopi memelototi matanya ke arah Bara yang sedang menyeruput kopi miliknya, "dasar tidak sopan, itu milikku," ketus Nathan.
"Ini aku kembalikan." Bara menyodorkan cangkir yang sudah kosong, membuat Nathan menatap Bara dengan malas.
"Lepaskan Paman Daniel," titah Nathan dengan tegas.
"Baik Ayah."
"Akhirnya aku terlepas juga. Pikirkan permintaanku tadi, bantulah aku!" rengek Daniel yang menatap Nathan.
"Baiklah, aku akan menyelidikinya. Sekarang pergilah bekerja," tegas Nathan.
"Baik tuan," sahut Daniel yang bersemangat.
"Dan kenapa kalian di sini?" celetuk Nathan menatap Bara dan twins L secara bergantian.
"Hanya mengunjungi Ayah, karena kami ingin ke wahana permainan milik pak pitak bersama dengan Papa Bara," jawab Al.
"Siapa yang menjaga putri ku sekarang?" ujar Nathan yang menatap Bara.
"Tenang saja, ada Naina yang menjaganya."
"Kami pergi dulu Ayah, fokuslah bekerja untuk kami yaa," ucap El yang melambaikan tangannya keluar dari ruangan presdir, di ikuti oleh Al dan juga Bara.
****
Nurma duduk termenung, menatap keluar jendela. Memikirkan kejadian malam itu membuat dada nya sesak. Perasaannya terhadap Daniel sangatlah besar, "Maafkan aku Daniel, aku terpaksa melakukannya. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud membuatmu patah hati, aku tidak berdaya," batin Nurma yang meneteskan air matanya.
Dengan cepat Nurma menghapus air matanya dan kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Nurma tidak fokus bekerja membuat beberapa pelanggan menegurnya, hingga seorang karyawan menghampirinya, "kenapa kamu melamun terus? ada apa?" ucap Vivi.
Dengan cepat Nurma menggeleng dan mengelak, "maafkan aku, sepertinya aku sedang tidak enak badan. Aku titip butik ini kepadamu, aku harus pulang." Nurma mengambil tasnya dan pergi keluar dari butik.
Di Sepanjang perjalanan, Nurma terus saja melamun. Hingga dia tidak sadar, jika telah sampai menuju kontrakan nya. "Kita sudah sampai nona," ucap pak supir yang membuyarkan lamunan Nurma.
"Makasih pak, ini uangnya."
Nurma mendengar dering ponsel nya yang berbunyi, dia mengangkatnya. Perasaan kalut, dan cemas menyelimuti wajahnya, dengan cepat Nurma bergegas masuk ke dalam taxi dan meminta pak supir untuk mengantarnya menuju lokasi.
Saat taxi berhenti di sebuah perkarangan rumah yang sangat sederhana dan juga kecil, Nurma dengan bergegas masuk ke dalam dengan air mata yang mengalir dengan deras membasahi pipinya.
"Akhirnya kamu pulang?" ucap wanita paruh baya dengan senyum khas nya.
"Dimana Ayah? apa yang terjadi kepada Ayah, Bu. Cepat katakan!" desak Nurma yang mengguncang tubuh Ibunya.
"Ayahmu ada di rumah sakit, ayo kita kesana," sahut wanita paruh baya itu dengan bergegas menarik tangan anak sulungnya.
Wanita paruh baya itu bernama Santi, ibu dari Nurma. Mereka menuju rumah sakit, karena Ayahnya Nurma bernama Anton itu sedang sakit keras.
Nurma menghirup nafas dengan dalam sembari membuka pintu, masuk ke dalam ruangan sang Ayah yang di rawat. Dia bisa melihat dengan jelas kondisi Ayahnya yang sangat memprihatinkan, tubuh yang kurus dan sedikit pucat berbaring di atas brankar rumah sakit.
"Ayah! sudah aku bilang kan, minum obat tepat waktu dan tidak boleh kelelahan," ucap Nurma dengan cerewet dan tersenyum, seolah-olah sedang memarahi Ayahnya.
"Nak, kamu di sini?" ucap Anton yang tersenyum.
"Tentu saja! aku pernah mengatakan, jika Ayah memanggilku, aku dengan cepat menghampiri Ayah, " ucap Nurma yang diam-diam menggelap air matanya.