
Bara sangat terkejut dengan ucapan El, "apa kamu ini gila?"
"Tidak, aku waras. Tapi kenapa Papa mengatakan hal itu, seolah tidak mempercayainya," ujar El dengan santai.
"Dasar bodoh, apa kamu tidak sadar juga hah. Selama ini kamu selalu membuat kerugian besar kepada pak pitak, itu sangat sulit untuk mendapatkan restunya," cetus Bara yng menjitak kepala El.
"Aih, kenapa menjitak kepalaku?" ucap El yang mengusap kepalanya.
"Itu karena kamu bodoh, dari sekian banyak gadis kenapa kamu menyukai anak dari pemilik wahana permainan itu?" tanya Bara.
"Apa dayaku Papa, cinta itu sangat buta yang tidak bisa aku kendalikan," jawab El yang menghela nafas dengan kasar.
"Itu karena kesalahanmu sendiri yang sewaktu kecil sangatlah nakal, karma is real. Begitulah ucapan dari nenekmu dulu kepada Papa, dan sekarang terima saja nasibmu yang jomblo abadi," ejek Bara sembari tertawa.
"Aku butuh solusi bukannya ejekan, berhentilah tertawa," ketus El seraya menyumpal gorengan ke dalam mulut Bara yang menganga lebar karena rasa kesal yang teramat dalam.
Bara ingin mengumpat El, apalah daya jika El sudah meninggalkan tempat itu dengan jurus seribu langkah.
"Dasar anak durhaka, aku berharap semoga anak mu kelak lebih nakal dan akan selalu menyusahkanmu," batin Bara dengan kesal sambil memakan gorengan yang berada di mulutnya, "wow, gorengan ini sangat enak," gumamnya.
El menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, dia sangat kesal dengan Bara yang tidak memberikan solusi apa pun, mencoba untuk menenangkan dirinya dengan cara menghirup udara sangat dalam dan mengeluarkan dengan perlahan, melakukan hal itu sebanyak 3 kali.
"Aku harus semangat, hanya ini yang bisa aku lakukan sekarang. Aku ini sangat geniuskan, lalu kenapa aku begitu bodoh dengan masalah wanita? oh ayolah, berpikir....berpikir El, kamu pasti menemukan caranya," monolog El yang tampak berpikir.
Pintu terbuka membuatnya mengalihkan perhatian, terlihat dengan jelas Kenzi yang sedang menatapnya.
"Bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu? membuat aku kaget saja," gerutu El.
Tanpa menghiraukan ucapan El, Kenzi berjalan masuk ke lamar sembari menatap wajah kakak sepupu nya yang terlihat kusut, "ada apa dengan mu Kak?"
"Pergilah dari sini, mood ku semakin rusak karenamu," cetus El.
"Lalu, apa kesalahan ku di sini? aku hanya bertanya. Biar aku tebak, Kakak pasti galau memikirkan gadis itu, siapa ya namanya? hah ya, namanya Anna. Sudah lupakan saja gadis itu," celetuk Kenzi sembari duduk santai di atas sofa.
Bantal melayang tepat mengenai wajah Kenzi, "diamlah, aku sedang pusing sekarang. Bantu aku memikirkan caranya, bagaimana bisa aku kalah dengan pria gemulai itu? ck, sedikit sentilanku saja akan membuat tulangnya itu retak," ujar El.
"Walaupun dia pria gemulai, tetap saja Anna menyukainya dan kakak kalah telak dari pria itu," ejek Kenzi.
"Jika tidak ingin membantuku, sebaiknya kamu pergi dari sini. Jangan membuat aku bertambah pusing," usir El yang mendorong tubuh Kenzi keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
"Hah, aku lupa mengatakan jika terjadi masalah di markas, yasudah lah! lebih baik aku pergi dan bermain game," gumam Kenzi yang meninggalkan tempat itu.
Baru beberapa Kenzi melangkah, dia bertemu dengan Al yang pulang dari kantor. "Apa kamu melihat El?"
"Apa maksudmu? aku ingin menemuinya karena ada masalah di kantor."
"Oh iya, sebenarnya aku ingin mengatakan ini kepada kak El. Tapi dia lebih dulu mengusir ku dan belum sempat ku beritahu."
"Markas? bukankah El yang mengurusnya dan apa yang terjadi? cepat katakan," desak Al.
"Markas kita di serang oleh sekelompok orang yang tidak di kenal, dan aku mencoba untuk menyelidikinya. Mereka para penyusup dan menyamar menjadi anggota Black Wolf yang bersekutu dengan aliansi Mafia yang lain, bertujuan untuk menghancurkan aliansi milik kita," kata Kenzi dengan wajah yang serius.
"El sialan, kenapa dia sekarang sangat ceroboh? dan kenapa dia tidak mengetahui ada penyusup yang menyamar menjadi anggota Black Wolf," ujap Al yang mengepalkan tangannya dengan sempurna. Berjalan dengan langkah yang cepat menuju kamar El, dia menendang pintu dengan sangat keras. Membuat El terlonjak kaget dengan suara yang memekakkan telinga, "bisakah kalian mengetuk pintu dulu?" gerutu El yang menatap kedua pria yang tak jauh darinya.
"Aku sudah memintamu untuk mengurus markas, tapi apa ini? bahkan kamu tidak tau ada penyusup yang menyamar," ucap Al yang menatap tajam ke arah El.
"Penyusup?"
"Hem, kamu semakin bodoh dan tidak mengetahui ada bahaya di sekeliling karena di butakan oleh cinta. Selesaikan masalah ini dengan cepat, sebelum Ayah mengetahuinya," ucap Al dengan tegas sembari melangkah keluar ruangan.
El masih mencerna kata-kata dari saudara kembarnya, dia menatap Kenzi dengan wajah yang bingung, "apa maksudnya?"
"Aku ulangi, ada penyusup di markas."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku?" ujar El dengan heboh.
"Aku ingin mengatakan nya, tapi Kakak sendiri yang mengusirku tadi. Jangan salahkan aku dari sikap Kakak yang sangat bodoh itu," jawab Kenzi yang pergi dari kamar El.
"Pantas saja Al sangat kesal padaku! sepertinya aku harus lembur malam ini, mencari tau kecoa kecil itu," gumam El yang menuju meja kerja dan kembali mengurus dunia bawahnya.
Al sangat kesal dengan El yang sangat ceroboh dalam bertindak, dia pergi menuju kamarnya. Di saat dia berjalan, tak sengaja dia melihat ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Dia memasuki kamar yang bernuasa pink dan beberapa kumpulan boneka taddy bear yang juga berwarna pink. Hampir semua ruangan itu berwarna pink, Al yang tidak pernah tau jika itu adalah kamar milik Shena.
"Ini kamar siapa? warna nya benar-benar membuat mataku sakit," gumam Al yang terus melihat dekorasi ruangan serba pink.
Dia juga melihat banyak pajangan foto idola dari kamar itu, bahkan juga ada foto Shena bersama sang idola. Matanya tak sengaja melihat Shena yang mengenakan handuk berwarna putih, bahkan matanya seakan tidak bisa berkedip. Shena membelalakkan matanya saat melihat Al yang masuk ke dalam kamar yang di anggap privasi.
"Aaaargh....KERA MESUM, berani sekali kamu memasuki kamar ku," pekik Shena yang melempar vas kecil ke arah Al, karena bersemangat membuat handuk di badan Shena terlepas. Al menatapnya beberapa detik dan membalikkan badannya dengan cepat sembari menutup mata menggunakan tangan.
Shena yang malu dengan cepat menutupi tubuh polosnya dengan handuk, "kamu melihat semuanya?" lirih pelan Shena yang di angguki kepala oleh Al.
Dengan cepat Al pergi dari kamar nuasa pink, dengan jantung yang berdegup cepat, "ya tuhan....mataku ternodai," batin Al.
"Dasar kera mesum, dia sudah melihat tubuh polosku. Ya tuhan....bagaimana aku menyembunyikan rasa malu ini," gumam Shena yang mengusap wajah nya dengan kasar.