
Di mansion Wijaya, Al dan El mengutak-atik ponsel dan juga laptop. Sebenarnya mereka ingin meretas data perusahaan yang melakukan kecurangan, namun Nathan telah menyadap dan memblokir sistem mereka. Nathan tidak ingin jika kedua putranya melakukan kesalahan yang berakibat buruk nantinya.
Al yang sedang membuat program baru untuk memudahkan mereka untuk meretas tanpa ketahuan oleh sang Ayah, "bagaimana Al? apa kamu sudah membuatnya?" celetuk El yang menatap Al yang fokus dengan ponsel dan juga laptop.
"Jangan banyak bertanya, aku sedang berusaha. Lakukan sesuatu yang bermanfaat untukmu dan jangan menggangguku," sahut Al yang kesal.
Seketika raut wajah El cemberut dan kembali fokus dengan dengan layar pipih di depannya, "aku sangat merindukan Abian, bagaimana keadaannya sekarang? sudah lama dia tidak mengirim email atau pun membalas email ku," gumam El. Dengan cekatan El mencari keberadaan Abian, tapi tetap saja dia tidak menemukan keberadaan saudara angkatnya.
"Ini sangat menyebalkan, kenapa setiap aku meretas sistem keamanan yang Abian miliki tetap saja tidak bisa," gerutu El. Tiba-tiba El mendapatkan serangan dari alamat surel miliknya dan juga sistem keamanan mansion terbobol dengan sempurna. "Eh, siapa yang membobol sistem keamanan di mansion ini?"
El mencoba untuk menahan serangan dari pembobolan data keluarga Wijaya beserta aset-aset yang keluarga Wijaya miliki. "Al, kesini lah. Tolong bantu aku dengan program virus yang paling ampuh, kirimkan beberapa virus perusak data andalanmu," ucap El dengan tegas.
"Kita tidak memerlukan itu sekarang, sistem keamanan milik kita sangat kuat," balas Al tanpa menoleh.
"Lihatlah jika kamu tidak mempercayainya, bagaimana ini? data dan juga kekayaan kita sebentar lagi berhasil di retas." Al berjalan menghampiri El yang tampak cemas, dia melihat dengan teliti dan membesarkan pupil matanya.
"Ini sangat serius, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan IT milik kita. Aku akan memberikan kabar genting ini kepada Ayah, buat pertahanan sebisa mu," ucap Al dengan tegas. Dia menelfon Nathan yang sedang ada meeting dengan beberapa klien penting.
Nathan melirik ponselnya yang bergetar sedari tadi, dia sangat tau jika ini masalah penting. Karena twins L hanya menelfon jika ada masalah darurat. Nathan membisikkan Daniel agar menggantikannya sementara waktu, dia melangkah keluar ruangan dan mengangkat telfon.
"Hallo."
"Ada apa menelfon?"
"Ayah, ada kabar yang sangat genting."
"Kabar apa? katakan."
"Ada yang meretas data dan juga kekayaan kita, kami sudah melacak pelakunya. Tetap saja tidak menemukan jejak mereka, mereka membajak perusahaan dan aset-aset yang kita miliki. Sekarang El tengah menahan serangan itu, lakukan sesuatu Ayah."
"Baik, kerahkan kemampuan kalian, Ayah akan bertindak."
Nathan mematikan sambungan telfon dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan miliknya, dengan terpaksa dia melepaskan tender besar demi menyelamatkan kebangkrutan pada keluarga nya. Dengan gerakan jari yang sangat cepat, Nathan menekan keyboard dengan sangat hati-hati dan juga teliti. Karena pelaku pembajakan itu cukup cerdik dan juga licik, yang mengirim serangan yang susah di lumpuhkan olehnya.
"Siapa yang berani bermain-main dengan keluarga Wijaya? pelakunya cukup pintar dan juga licik. Mengirim serangan tanpa terdeteksi," gumam Nathan yang fokus dengan pekerjaannya.
Seseorang di sisi lain tampak tersenyum menyeringai, setelah beberapa tahun dalam percobaan, dia hampir berhasil meretas sistem keamanan dan akan merebut semua aset yang di miliki Wijaya yang separuhnya telah berpindah tangan atas namanya.
"Hahah....separuh dari kekayaan Wijaya telah sampai ke tanganku. Ini sangat menarik, kehancuran keluarga itu di mulai dari sini," ucap Orang itu yang tertawa menyeramkan.
Al dan El kewalahan dengan serangan itu, hingga mereka kalah dan membuat separuh dari aset keluarganya telah berpindah tangan. "Al, bagaimana ini? kita sudah berusaha, tapi pelaku itu telah mengambil setengah kekayaan kita," ucap El yang khawatir.
"Aku juga tidak bisa melakukan hal apa pun lagi, sepertinya dia musuh yang sangat kuat, bahkan Ayah juga tidak bisa menahan serangan itu," sahut Al yang juga cemas, hingga jalan terakhir mereka adalah menelfon Zean.
"Hallo."
"Ini keadaan yang sangat genting Paman."
"Keadaan genting?"
"Benar, ada orang yang meretas data keluarga Wijaya. Dan sekarang ini, pelaku itu telah berhasil mencuri separuh dari kekayaan kami. Tolong bantulah kami, Paman."
"Hah menyusahkan saja! baiklah, aku akan membantu kalian."
"Terima kasih Paman."
"Hem."
Setelah sambungan telfon terputus, Zean dengan cepat membuka laptop dan melihat serangan yang telah di pindai oleh El dan mengirimkan kepadanya. Zean mencoba memblokir serangan dengan sangat cepat, hingga serang menyerang itu terjadi selama 1 jam. Walau Nathan dan Zean telah berhasil memblokir, tetap saja aset yang pelaku peretas tidak bisa di tarik lagi.
"Sialan, berani sekali orang itu mencuri," batin Nathan yang mengusap wajahnya dengan kasar.
Selesai meeting, Daniel menuju ruangan sang atasan. Terlihat dengan jelas bagaimana raut wajah frustasi Nathan yang sangat memprihatinkan, Daniel mendekati Nathan seraya memegang pundaknya.
"Ada apa dengan mu?"
"Ada yang meretas data keluarga ku dan sekarang separuh dari kekayaan Wijaya telah berpindah tangan," jawab Nathan yang menghela nafas dengan kasar.
"Jangan mudah menyerah, kita selidiki orang itu dan apa motifnya."
"Aku sudah berusaha dan tidak bisa menemukan jejaknya. Bahkan Zean juga menghubungiku mengenai masalah ini, dia tidak menemukan jejaknya. Pelaku peretas itu sangat pintar dan juga licik," ujar Nathan.
"Sebenarnya aku ingin membantumu, tapi aku tidak memiliki keahlian itu. Aku akan berdoa saja untuk kalian," cetus Daniel yang mendapat jitakan dari Nathan.
"Ck, aku pikir kamu akan memberi solusi. Pergi dari ruangan ku sekarang," usir Nathan membuat Daniel cemberut.
****
Seorang anak laki-laki dengan tatapan kosong di dalam ruangan gelap, rasa sakit yang menjalar di tubuhnya, serta siksaan tiada henti. Anak laki-laki itu memegang sebuah liontin yang menjadi secercah harapannya, kasih sayang yang pernah dia dapatkan dari keluarga Wijaya, ya....dia adalah Abian.
Farel selalu menyiksa fisik dan juga batin Abian jika merasa kesal. Abian seakan mati rasa dengan siksaan yang hampir tiap hari di rasakan olehnya, hanya sebuah liontin yang berada di genggaman tangannya sebagai penyemangat untuk hidup.
Bukan hanya Farel yang menyiksa fisik Abian, tapi istri barunya yang ringan tangan. Abian menangis di kala melihat liontin yang ada di tangannya, "Ibu, aku merindukanmu," ucapnya sembari mencium liontin itu.
Farel dengan teganya tidak memberi Abian makan beberapa hari, kelaparan itu membuat tubuh sang anak menjadi kurus. Abian di bawa pergi hanya memanfaatkan anaknya untuk harta warisan dari Nenek Abian, orang tua dari Farel. Habis manis sepah di buang, itu lah kalimat yang menggambarkan keadaan Abian yang malang.