
Daniel menghampri mereka dan berjalan berdampingan dengan Nurma. Bahkan dia berkhayal memiliki keluarga kecil bersama wanita cantik di samping nya dan memiliki 2 orang anak yang menemani hari-harinya. Lamunan terhenti saat Al memegang tangan Daniel, " apa yang Paman pikirkan?"
"Eh, aku tidak memikirkan apapun, " kilah Daniel sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Kami tau Paman sedang berbohong, apa lagi dengan raut wajahmu yang sangat jelas, " tutur El.
"Heheh....bukan apa-apa. Oh ya, aku belum mengetahui namamu, " ucap Daniel yang menatap Nurma.
"Apa itu perlu?" ucap Nurma yang juga menatap Daniel dengan sekilas.
"Sangat perlu, aku butuh namamu untuk membuat laporan dengan atasanku. Kamu pasti mengenal atasan ku itu, " ujar Daniel.
"Maaf kan aku Nathan, aku memerlukan kekuatan nama mu untuk mendapatkan gadis pujaan ku, sekali lagi maafkan aku," batin Daniel yang menyunggingkan senyuman yang sangat tipis.
"Nurma, itu namaku. "
"Bagus, dan aku minta nomor ponselmu," pinta Daniel dengan tegas.
"Hei, itu privasi. Tidak sembarang orang yang boleh mendapatkan nomor ponselku, " protes Nurma.
"Gampang saja, jangan salahkan aku jika kamu berurusan dengan atasanku, " jawab Daniel dengan nada mengancam. Nurma menghentikan langkahnya dan menatap Daniel dengan menelisik, "apa kamu sedang mengancamku? "
"Tidak, lebih tepatnya peringatan untukmu." Nurma dengan terpaksa memberikan nomor ponselnya, karena dia tidak ingin bermasalah dengan keluarga Wijaya, sedangkan Daniel tertawa kemenangan di dalam hati.
"Wow, nama Nathan sangat ampuh di jadikan senjata. Aku sangat pintar, " batin Daniel yang sangat bahagia.
Twins L hanya memperhatikan kedua orang dewasa dengan seksama. Bahkan mereka tau, jika Daniel memakai nama Ayah mereka demi mengancam Nurma.
Karena twins L sudah berjanji tidak mengganggu dan menjahili Daniel, mereka tak menghiraukan ucapan para orang dewasa. Twins L berlari dan bermain beberapa mainan yang telah tersedia di taman, tidak terjadi obrolan yang menyenangkan dari keduanya, karena sikap Nurma yang sangat cuek.
****
Bara semakin tertantang untuk mendekati Naina dan mengerjai gadis malang itu, ada kebahagian tersendiri baginya. Bara yang tidak mempunyai pekerjaan, menghabiskan waktunya untuk mengawasi Naina dari kejahuan.
Seperti rutinitas biasa, Naina kembali berkencan dan bergandengan mesra dengan pria tampan yang menjadi targetnya. "Kamu sangat cantik, Sayang! " puji pria itu.
"Dan kamu juga sangat tampan, " balas Naina yang memegang tangan pria itu. Bara melihatnya dari kejauhan, "ck, dasar ulat bulu. Berani sekali dia berpegangan tangan begitu! merusak mataku saja," gumam Bara yang sedikit protes.
Karena tak tahan dengan kejadian di depannya, membuat Bara menghampiri Naina dan memeluknya dari kejauhan, pria yang bersama Naina mengepalkan tangan dan melayangkan pukulan mengenai wajah Bara. Tapi sayang, Bara seorang prajurit khusus memiliki ilmu beladiri, ahli senjata dengan refleks yang sangat bagus.
Dia mencekal tangan itu seraya menghempasnya dengan kasar, "kondisikan tanganmu jika tidak menginginkan tangan ini patah," ancam Bara dengan sangat tegas membuat pria bersama Naina sedikit ketakutan.
Naina yang ingin protes langsung di gendong Bara ala karung beras, dan pergi meninggalkan tempat itu. Naina terus saja protes dan memberontak dengan aksi gila dari Bara. "Hei bodoh, lepaskan aku. Aku bukan beras yang bisa kamu pikul, " ketus Naina yang memukul punggung Bara.
"Kamu sangat nakal, gadis kecil. Dalam sehari, kamu berkencan dengan 3 pria. Apa kamu tidak merasa malu?"
"Ck, seorang wanita tidak pantas menjadi player," cetus Bara.
"Oh hallo, kamu kira hanya pria saja yang boleh menjadi player? dan apa urusanmu, ini hidupku dan jalanku. Turunkan aku, " pekik Naina.
Bara tidak menghiraukan ucapan Naina, dia berjalan menuju mobilnya yang terpakir tidak jauh dari tempatnya. Memasukkan Naina ke dalam mobil dengan paksa, Naina terus saja merutuki Bara dan mengumpatnya dengan petuah sumpah serapah yang dia ingat.
"Hei pria bodoh, kemana kamu membawaku," ketus Naina yang melipat kedua tangan di depan dadanya. Bara melajukan mobilnya menuju tempat sunyi yang hanya di hiasi lampu jalanan.
Bara menghentikan mobilnya dan membuat Naina sedikit ketakutan, "apa kamu ingin membunuhku di tempat ini?" praduga Naina yang menggeser duduknya menjauh dari Bara yang semakin mendekatinya.
"Menjauhlah dari ku, aku menguasai beberapa ilmu bela diri, " ucap Naina dengan sedikit ketakutan. Bara tak menghiraukan Naina dan semakin mendekati wajahnya ke wajah Naina dan.... CUP.
Naina melotot di kala Bara mencium keningnya, Bara tersenyum dengan ekspresi dari Naina. Dia melajukan mobilnya untuk mengantar Naina di kediaman Wijaya.
****
Wijaya meminta Novi dan Dita untuk pergi bersama membeli beberapa kebutuhan rumah tangga, Wijaya sudah merencanakan ini, berusaha mendekatkan Novi dan juga Dita. Awalnya Novi menolak, karena bujukan dari sang suami membuatnya mengalah.
Novi hanya diam saja ketika Dita sesekali mengajaknya mengobrol, setelah membeli kebutuhan rumah tangga. Kini Novi ingin membeli beberapa kebutuhannya yang berada di seberang. Karena jarak begitu dekat, Novi melintasi jalanan tanpa melihat kiri dan kanan, hingga mobil mendekat dan menabrak dengan sangat keras.
Novi memejamkan mata, dan sangat syok dengan kejadian itu. Dia mengira sudah tiada akibat kecelakaan itu, untungnya dia selamat berkat seseorang yang mendorong tubuhnya, ketika Novi menoleh dan melihat seorang wanita terbujur lemah dengan bersimbah darah. Wanita yang dia benci telah menolongnya dari maut yang berada dekat di hadapannya, seketika membuat matanya membesar dan berteriak menghampiri sang menantu.
"Ditaaa, " pekik Novi yang sangat cemas. Novi menerobos para warga yang ingin mengerumuni Dita dan memangkunya. Air mata yang mengalir deras di mata yang terlihat berkeriput, Novi tidak tahan dengan keadaan Dita yang sedikit mengenaskan.
"Dita bangun lah, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menyelamatkan Mama yang selalu jahat dengan mu, " tutur Novi di sela-sela tangisannya.
"Ma.... Mama, jangan Me....nangis, " lirih pelan Dita yang mengusap air mata Novi. Hingga pandangan Dita kian mengabur dan menutup matanya. Salah satu warga menelfon ambulans dan Dita di bawa ke rumah sakit milik Wijaya yang tak jauh dari lokasi kejadian.
Novi terus saja merutuki sikapnya yang sangat buruk dengan menantunya, dan dia inginkan hanyalah keselamatan dari Dita. Dengan tangan yang gemetaran berusaha menelfon suaminya, jujur Novi tidak sanggul mengatakan kabar itu kepada Wijaya.
"Hallo."
"Iya Ma, ada apa? "
"Te.... temui Mama di ru.... rumah sakit. "
"Ada apa? bukankah Mama dan Dita sedang berbelanja?"
"Di.... Dita mengalami ke.... kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit milik kita, " ucap Novi yang gemetaran.
"APA?? "
Seketika sambungan telfon terputus akibat Wijaya yang sangat syok, tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya.