
Malam yang begitu sunyi, dua orang yang berada di dalam kamar yang sama dengan aktivitas masing-masing. Tidak ada obrolan, yang membuat suasana kian sepi. Shena kembali membuka laptop berniat ingin menonton serial dari negeri gingseng, tapi sebelum itu dia mengganti pakaian tidurnya di dalam kamar mandi. Al hanya melirik sekilas dan kembali mengerjakan beberapa berkas yang harus dia selesaikan, dengan kecepatan jari dan juga otak nya yang genius membuat pekerjaannya selesai dengan sangat cepat.
Al meletakkan laptopnya dan ingin tidur dengan tenang, tapi di luar dugaannya. Saat melihat pakaian Shena yang sangat menggoda iman, pakaian ketat dan juga sangat pendek memperlihatkan setiap lekuk tubuh Shena yang menonjol.
Al begitu gugup dengan pemandangan di hadapannya yang sangat menggoda, "kenapa kamu berpakaian seperti itu?"
"Kenapa? ini lebih nyaman saat menjelang tidur," ucap Shena dengan santai.
"Kenapa kamu sangat bodoh hah? apa kamu akan berpakaian yang sangat ketat itu saat berada satu kamar dengan seorang pria sepertiku?" ucap Al dengan tegas.
"Ya sudah pindah saja dari kamar ini, dan alihkan pandanganmu," sahut Shena dengan santai dan tidur di sebelah Al yang sedari tadi kegerahan. Dia menelan saliva dengan susah payah, untuk mengatur hasratnya saat melihat pemandangan indah di sampingnya.
"Ganti pakaian mu," ketus Al.
"Jangan menganggu tidurku." Al yang di kuasai hasrat yang mulai membara dengan cepat menindih Shena dan menatap matanya dengan sangat dalam, Shena sangat terkejut. Dia ingin meronta untuk melepaskan diri tapi tertahan karena kekuatan Al tidak sebanding dengannya.
"A-apa yang ingin kamu lakukan, menjauhlah dari tubuhku," ucap Shena yang sangat gugup. Al tidak menghiraukan ucapan Shena, karena hasratnya sebagai lelaki terbangun akibat ulah sang istri.
"Kamu sendiri yang menggodaku maka tanggunglah akibatnya sendiri," ujar Al yang mulai mendekatkan wajahnya dan mencium bibir merah merekah milik sang istri, keduanya terbuai dengan permainan itu.
"Hari ini kamu akan menjadi milikku," bisik Al yang di penuhi oleh hasrat.
Shena menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan, suaranya terasa tercekat saat mendengar penuturan Al. Karena dia tidak tau jika Al sudah di kuasai oleh ***** yang bergejolak.
Shena sangat menyesal dengan perbuatannya yang tidak patuh dengan ucapan Al saat memperingatinya, menyesal tiada gunanya. Al terus melancarkan aksinya, mencium dan meraba-raba setiap inci lekuk tubuh sang istri. Walau Shena terus menolak, tapi reaksinya berbanding terbalik dengan pikirannya saat ini.
Suara indah yang keluar dari mulut Shena membuat Al bersemangat, hingga permainan puncak membuat keduanya terkapar di atas tempat tidur. Al mencium pucuk kening sang istri, "I love you," bisiknya yang tersenyum.
Malam yang sangat panjang bagi sepasang suami istri itu, Al seakan tidak merasa lelah ingin melakukannya lagi dan lagi. Karena dia sangat kecanduan saat melakukan itu dengan Shena, tersenyum bahagia karena dapat memiliki gadis kecil itu dengan sepenuhnya.
****
Para anggota keluarga Wijaya berkumpul untuk menuntaskan permasalahan yang di lakukan oleh musuh, mereka bersatu dengan kemampuan masing-masing. Rencana yang di buat oleh El yang di setujui oleh Kenzi, Vivian, dan Lea. Mereka sepakat untuk tidak memberi tahu kabar ini kepada Al yang tidak akan setuju dengan ini.
"Apa kak El yakin ingin menggunakan rencana ini?" ucap Kenzi yang menatap El yang berdiri di hadapannya.
"Tidak ada cara lain untuk menemukan Alan, hanya ini satu-satunya cara. Apa yang lainnya ada ide?" ucap El dengan wajah serius. Keluarga Wijaya tidak tinggal diam jika ada yang berani mengusik ketentraman dan kedamaian di mansion, karena mereka akan bersatu jika menyangkut keluarga.
"Ini tidak sesederhana itu, aku takut jika kak Al marah. Dan kalian tau sendiri bagaimana kak Al saat di selimuti kemarahan," celetuk Lea.
"Kita harus memancingnya dengan sebuah umpan, aku sudah menemukan solusi dari itu," sahut Kenzi dengan yakin.
"Kita harus cepat bertindak, aku sudah melacak keberadaan dan juga markas mereka. Markasnya cukup sulit di jangkau dan aku membutuhkan Kenzi yang akan menyelesaikan dan membersihkan jalan," kata El yang mulai membagi tugas masing-masing.
"Baiklah," sahut Kenzi.
"Bagus, Vivian bertugas untuk melindungi Shena dari kejauhan. Sedangkan Lea, ikut dengan kakak untuk melawan pria brengsek itu."
"Kenapa harus aku yang ikut dengan kakak? aku baru saja perawatan kulit dengan sangat mahal," tolak Lea.
"Jangan membantahnya Lea Wijaya, kakak sudah mengaturnya. Ilmu beladiri mu sangat hebat jika di bandingkan Vivian, kakak akan mengganti biaya perawatan kulit menjadi seluruh tubuh dalam kurun waktu sebulan, bagaimana?" ucap El yang menyogok Lea.
"Oke deal."
****
Karena beberapa kebutuhan nya habis, Shena pergi menuju toko untuk membeli beberapa masker wajah dan kebutuhan wanita lainnya, di saat memilah dan memilih beberapa belanjaan nya. Dia melihat Alan yang juga berada di sana, dia mempercepat langkahnya untuk menghindari Alan yang mendatanginya.
"Kenapa kamu terlihat sangat takut kepadaku? seakan-akan aku ini pria yang sangat jahat," tutur Alan yang tersenyum devil.
"Jangan ganggu ku," ucap Shena yang meninggikan suaranya.
"Kenapa?" tanya Alan dengan polos.
"Karena kamu pria yang jahat, memanfaatkan keadaanku dengan begitu mudahnya," ucap Shena yang ingin lari dari tempat itu, tertahan karena Alan mencekal tangan Shena dan menggendongnya layaknya sekarung beras.
Alan sangat senang dengan aksinya begitu mudah untuk menculik Shena, dia kebetulan berada di mini market, pucuk di cinta ulampun tiba.
Al yang sedang bekerja ingin memeriksa keberadaan sang istri, entah mengapa dia sangat merindukannya. Sambungan terlfon yang tidak bisa terhubung membuat Al sangat kesal.
"Ck, kemana gadis kecilku itu. Tidak sepertinya," gumam Al yang tampak cemas. Dia membuka layar ponsel dan mulai melakukan pencarian, mereras Cctv dari terakhir Shena sadar.
Al sangat terkejut dengan kejadian yang membuat kemarahannya semakin memucak, dia tau jika Shena di culik karena El, Kenzi, Vivian, dan Lea telah menjadikan sang istri sebagai umpan untuk menemukan lokasi Alan.
"Sial, kenapa mereka menjadikan Shena sebagai umpan. Lihat saja, kalian akan mendapatkan hukuman dariku," gumam Al yang bergegas pergi dan meminta sang asistennya untuk mengerjakan pekerjaannya.
Al menyiapkan segala keperluan nya seperti senjata api dan senjata tajam yang terselip di bagian kakinya, tak lupa memakai rompi anti peluru. Di TKP telah terjadi aksi tembak menembak, Al melihat para saudaranya yang tengah menjalankan aksinya.
Di saat dia ingin membantu, tiba-tiba ada yang ingin menyerang Lea dari belakang. Dengan sangat libainya, Al berhasil melemparkan shuriken tepat sasaran.