
Al memanfaatkan keadaannya yang masih sakit untuk membuat Shena terus merawatnya, padahal luka tembak itu sudah sembuh. Berkat kerjasama dari Jimmy sang dokter pribadi Wijaya, Al bisa menghabiskan waktunya bersama dengan sang istri.
Shena rutin membawa Al untuk di periksa ke rumah sakit Wijaya, karena dia sedikit khawatir dengan kondisi Al yang tidak ada perubahan.
"Bagaimana keadaan nya Dok?" tanya Lea yang menatap Jimmy dengan sangat antusias, jawaban dari sang dokter hanya gelengan kepala dengan wajah sedikit di tekuk, "dia masih perlu istirahat total, jangan biarkan dia melakukan apa pun dengan sendiri. Luka nya belum pulih."
"Kira-kira kapan luka itu bisa sembuh?"
"Aku tidak bisa memperkirakan nya, luka tembak itu membutuhkan waktu yang sangat lama."
"Hehe....akting nya bagus juga, sangat meyakinkan," gumam Al di dalam hati dengan bibirnya yang tersenyum tipis.
"Hah, itu artinya aku harus mengurusnya lagi," gumam Shena yang masih terdengar oleh kedua pria itu.
Al yang gemas pun menyentil kening sang istri, dia sangat geram dengan kata yang sepertinya terpaksa. "Tidak boleh mengatakan itu, aku ini suami dan juga penyelamatmu. Lakukan dengan ikhlas tanpa ada kata terpaksa," celetuk Al yang menatap Shena.
"Dok, bagaimana jika dia di beri obat yang akan membuat lukanya itu sembuh," ujar Shena dengan sangat bersemangat karena pertama kali mendapatkan ide untuk terbebas dari Al.
Al menatap Jimmy yang ingin menjawab dengan sedikit ragu, dia menatap Jimmy dengan tatapan elang miliknya dan mengarahkan tangannya yang seakan menggorok leher Jimmy jika salah berucap.
Jimmy menelan saliva dengan susah payah di saat Al terus mengancamnya yang membuat kata-katanya seakan tersangkut di tonggorokan, "tidak ada obat untuk itu," jawab Jimmy yang tersenyum kaku membuat Shena sedikit curiga.
"Jangan membodohiku DOKTER JIMMY," tekan Shena yang menggebrak meja sembari menatap sang pelaku dengan tajam. Al dan Jimmy terlonjak kaget karena suara yang memekakkan telinga, dengan cepat Al menarik tangan Shena untuk kembali duduk.
"Tenangkan dirimu, hirup nafas dalam-dalam lalu buanglah dengan perlahan. Itu akan membantumu untuk lebih tenang," tutur Al yang memperagakan.
"Bagaimana aku bisa tenang hah? bukankah rumah sakit ini paling terkenal? kenapa tidak ada obat untuk memulihkan lukamu dengan cepat. Aku sangat yakin jika dokter ini korupsi," ucap Shena dengan nafas tak beraturan sambil menunjuk dan menatap dokter Jimmy dengan tajam.
"Aku ini dokter teladan dan tidak akan berbuat korupsi," bela Jimmy dengan sedikit protes.
"Terserah padamu saja, lebih baik aku pergi dari sini," ketus Shena yang meninggalkan kedua pria itu dengan tatapan cengo.
"Hei, kamu mau kemana? bagaimana denganku," teriak Al.
"Aku tidak meninggalkan mu, tapi aku ingin ke toilet saja."
"Jangan sampai kamu meninggalkanku jika tidak ingin mendapatkan hukuman dariku. "
"Yayaya," jawab Shena dengan jengah. Jimmy melirik Al yang selalu tersenyum setelah kepergian Shena ke toilet.
"Kenapa kamu tersenyum begitu? tidak biasanya," ujar Jimmy.
"Bukan urusanmu, aku sangat menghargai aktingmu yang lumayan membuat aku sedikit puas," komentar Al.
"Ck, jika saja kamu tidak mengancamku, ini tidak akan terjadi. Setelah ini, aku mohon jangan libatkan aku dengan urusanmu itu," cetus Jimmy.
"Terserah padaku yang ingin mengancam siapa," jawab Al dengan sangat santai.
Jimmy hanya menghela nafas dengan kasar, dia menatap Al yang selalu menggunakan kursi roda, "berhentilah menggunakan kursi roda itu. Kamu ini sangat berlebihan sekali."
"Sudah aku bilang untuk tidak mencampuri urusanku."
"Ck, bahkan kamu sendiri yang menggunakan aku sebagai pion mu untuk rencana ini."
"Terima saja nasibmu," sahut Al.
"Tentu saja, dia harus seperti singa jika ingin berada di sampingku," sahut Al dengan sombong.
"Yah, semoga kamu berhasil."
Tak lama Shena datang dan mendorong kursi roda yang di duduki oleh Al, membuang wajah saat melihat Jimmy yang telah membuatnya jengkel, mereka pergi dari ruangan itu dan kembali ke mansion Wijaya.
****
Lea sangat gugup di saat Abian tiba-tiba saja memeluknya, tapi rasa gugup itu dengan cepat menghilang saat bisa merasakan perut sixpack milik Abian yang sangat sempurna. Lea memegang perut kotak-kotak milik Abian dengan tatapan takjub dan juga terpesona, sedangkan Abian hanya terkekeh saat melihat Lea mengaguminya.
Abian mengambil kesempatan itu dengan terus saja memeluk tubuh mungil gadis yang ada di pelukannya. Pikiran Lea mulai traveling ke arah mesum, dia berusaha keras untuk berpikir jernih, tapi iman yang di milikinya sangatlah dangkal.
"Kamu bisa memilikinya jika kita menikah," tutur Abian yang tersenyum, dengan cepat Lea melepaskan pelukan dari Abian.
"Hah, menikah? apa kamu bercanda?" cetus Lea yang menatap Abian dengan pongah.
"Tidak, aku serius. Daripada kamu selalu memikirkan pria dengan otak dangkalmu, lebih baik kita menikah dan aku akan selalu bertelanjang dada di depanmu setiap waktu," ujar Abian.
"Oho, jadi kamu menawarkan dirimu pada ku?"
"Tidak juga, lebih tepatnya menawarkan pernikahan. Itu terlihat lebih halus," jawab Abian.
"Ahh lupakan, aku kesini untuk menyegarkan otakku bukannya menambah pikiran."
Abian hanya membalas dengan senyuman, "bagaimana jika kita bermain jet ski?"
"Aku tidak tertarik," sahut Lea yang kembali memotret, Abian menghela nafas dengan kasar. Dia menggendong gadis mungil di depan nya itu layaknya sekarung beras, Lea sangat terkejut dengan tindakan Abian yang menggendongnya tanpa mengatakan terlebih dahulu.
"Turunkan aku, ada apa dengan mu?" pekik Lea yang terus meronta agar terlepas.
"Diam atau aku akan memukul pantatmu," ancaman dari Abian berhasil membuat Lea diam terpaku.
"Good girl."
Abian menceburkan Lea ke pinggir laut, membuat sang empunya kesal dan menyiram Abian dengan air menggunakan kedua tangannya.
"Hentikan," ujar Abian yang menutupi wajahnya dengan tangan.
"Rasakan, itu akibatnya karena kamu telah menceburkan aku," balas Lea yang terus menyiram pria di hadapannya. Abian berjalan mendekat dan memegang kedua tangan Lea, mereka saling menatap satu sama lainnya. Terasa sengatan listrik di antara keduanya, desiran ombak yang sangat indah menambah suasana kian romantis.
Abian memegang tengkuk leher Lea dan memiringkan wajahnya, Lea spontan menutup kedua matanya. Dia sangat terbuai dengan permainan pria tampan yang mendekapnya, sedangkan Abian sangat menikmatinya.
Dia tersenyum karena sebentar lagi akan memiliki Lea dan berniat untuk menikahi gadis mungil di hadapannya.
Suasana semakin romantis saat matahari hampir tenggelam, Abian terpaksa melepaskan ciumannya karena Lea hampir saja kehabisan nafas.
"Apa kamu ingin membunuhku?"
"Tidak," ucap Abian yang memeluk Lea dengan sangat erat.
"Ku mohon, jangan tinggalkan aku." Lea hanya terdiam dan tidak membalas ucapan Abian, dia belum menyadari jika dia juga mencintai Abian.