
Semua orang bahagia dengan Dita yang telah siuman, terutama Nathan yang sangat merindukan belaian dari sang istri. Mereka menghabiskan waktu di dalam kamar, Nathan meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang istri, menatap senyuman yang Dita yang sangat dia rindukan. Dita membelai kepala Nathan dengan kasih sayang, "terima kasih, kamu sudah merawat anak-anak dengan sangat baik," celetuk Dita yang menatap wajah tampan suaminya.
"Tidak perlu berterima kasih, mereka juga anak ku. Kamu tau, aku hampir gila. Saat Antoni mengatakan jika kamu telah tiada."
"Sebesar itu kah kamu mencintai ku?"
"Bahkan lebih besar lagi, dan tidak bisa di ukur. Aku mencintaimu," ucap Nathan yang mencium pipi Dita.
"Aku juga mencintaimu," sahut Dita yang tersenyum.
Kebahagian yang Nathan dan Dita rasakan setelah pengujian cinta membuat hubungan mereka tidak bisa di pisahkan, karena takdir mereka telah tertulis satu sama lain.
Di sisi lain, Bara terus saja memohon agar mendapat keadilan untuk Didinya. "Honey, aku sangat menginginkannya sekarang. Aku janji ini tidak akan lama," bujuk Bara.
"Tidak....tidak....tidak," tolak Naina yang menggelengkan kepala.
"Bagaimana dengan nasip Didiku? dia merindukan sangkarnya?" ucap Bara.
"Ck, tadi pagi kita sudah melakukan itu, apa kamu melupakannya?" balas Naina yang menatap wajah suaminya.
"Pagi dan malam itu sangatlah berbeda."
"Tidak, sebaiknya kita tidur tanpa berolahraga. Jangan merengek atau membantah, selamat malam!" ucap Naina yang menyelimuti seluruh tubuhnya, membuat Bara sedikit kesal. Seketika dia mendapatkan ide, setelah memastikan Naina tertidur dengan sangat pulas. Bara yang tidak bisa menahan hasratnya, dengan perlahan meraba setiap bagian inti milik istrinya. Tapi sayangnya, permainan yang menuju puncak itu terhenti saat Naina memuntahkan seluruh sisa makan malamnya ke wajah Bara yang di selimuti oleh gairah.
Naina yang sadar akan perbuatan suaminya, dengan cepat dia mengetuk kepala Bara karena sedikit terkejut, "Aaa....kenapa kamu memperkosa aku?" ucap Naina yang melototi matanya menatap Bara.
"Tadinya, setelah kamu memuntahkan wajahku merusak permainan penyatuan yang sangat aku inginkan itu," tutur Bara yang bergegas mencuci wajahnya.
"Itu akibatnya, jika melanggar ucapanku," cetus Naina yang kembali merasakan mual dan ingin muntah, dengan cepat Naina menuju kamar mandi menyusul Bara.
Mual yang di rasakan oleh Naina membuat Bara kasihan dan memijit pelan tengkuk leher istrinya, "apa kamu salah makan?" tutur Bara yang mencemaskan keadaan Naina.
"Entahlah, tapi aku benar-benar mual," ujar Naina yang terus mual yang membuatnya lemas, Bara dengan sigap menggendong Naina dan meletakkan di atas tempat tidurnya dengan sangat perlahan. "Ini sangat menyiksa ku, tolong telfon dokter untukku," rengek Naina. Bara mengambil ponselnya yang berada di nakas, mencari nomor yang ada di kontaknya.
"Hallo!"
"Ada keadaan darurat, datanglah ke rumah ku segera."
"Emangnya kamu siapa yang berani memerintahku?"
"Baiklah, tidak perlu datang. Aku akan melaporkan ini dengan pemilik rumah sakit Wijaya dan membuatmu di pecat."
"Heheh....kirimkan alamatnya, aku akan datang kesana."
"Ck, kenapa tidak dari tadi, aku akan mengirimkan lokasinya."
"Baiklah."
Antoni menutup sambungan telfon dengan kesal, "berani sekali dia mengancamku begitu! jika saja dia bukan menantu dari tuan Wijaya, aku akan mengetuk kepalanya dengan batu," gumam Antoni yang bergegas mengambil peralatan medisnya menuju rumah Bara.
Tak lama, Antoni datang ke alamat yang sudah di mengirimkan lokasinya oleh Bara. Melangkah dengan cepat, menuju kamar Bara.
"Akhirnya kamu datang juga," ucap Bara.
"Heh, jika bukan karena ancaman mu itu, aku juga tidak sudi datang kesini."
"Jangan banyak bicara, cepat periksa istriku," ketus Bara. Antoni memutarkan bola matanya dengan jengah, memeriksa Naina dengan sangat teliti. Bara sedikit cemas saat melihat raut wajah Antoni yang tampak serius.
"Cepat katakan, kenapa istriku sangat mual?"
"Selamat, karena Naina sedang hamil. Usia kehamilannya baru menginjak 1 bulan, dan aku sarankan agar dia tidak kelelahan. Karena usia kehamilannya masih sangat rentan, aku juga menyarankan, jangan melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu."
"Apa? aku hamil?" celetuk Naina yang tersenyum bahagia.
"Apa yang dia maksud dengan kecambah? aku kasihan dengan keluarga tuan Wijaya. Anak, menantu, dan juga cucunya sangatlah aneh," batin Antoni yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Ya sudah, aku pergi dulu." Antoni melangkahkan kaki keluar dari rumah milik Bara.
Bara memeluk Naina dengan sangat erat, "Honey, sebentar lagi kita akan mempunyai anak." Naina tersenyum sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Aku akan memberikan kabar bahagia ini dengan Ibu, dan juga keluarga Wijaya," ucap Bara yang bersemangat. Naina mencekal tangan suaminya, "ini sudah malam, besok saja."
"Baiklah."
****
Nathan telah melakukan yang harus dia lakukan demi Daniel, dan mencari tau kehidupan Nurma dengan sangat detail. Nathan telah membaca kisah hidup Nurma yang sangat memprihatinkan, "kasihan sekali wanita ini," gumam Nathan.
"Apa kamu memanggilku?" ucap Daniel dari sebalik pintu.
"Hem, itu benar. Masuklah, ada yang ingin aku berikan kepadamu," cetus Nathan yang melirik Daniel dengan sekilas.
"Cepat katakan, masih banyak pekerjaan yang tertunda," jawab Daniel dengan malas.
"Ck, ini masalah Nurma."
"Baik, ceritakan semuanya tentang nya," sahut Daniel dengan bersemangat.
"Baca saja sendiri," ketus Nathan yang melempar sebuah berkas tentang kehidupan Nurma.
Daniel dengan cepat membuka berkas itu, dia membesarkan pupil matanya saat tau Nurma segera menikah. "Eh, kenapa bisa begini? kenapa Nurma ku menikah dengan pria bernama Gibran," celetuk Daniel dengan sedih.
"Tidak perlu drama, kamu hanya membaca setengah saja. Bacalah keseluruhan," decit Nathan yang sedikit geram dengan Daniel.
Daniel membaca seluruh berkas itu, "apa ini? ternyata Nurma terikat balas budi dari keluarga Hendra. Kenapa dia menyembunyikan semua ini dariku," gumam Daniel yang masih terdengar oleh Nathan.
Daniel menatap Nathan dengan penuh harap, serta senyuman yang terukir di wajahnya yang tampan. Nathan merasa aneh dengan senyuman itu, "kenapa menatapku dengan wajah bodohmu?" keluh Nathan.
"Heheh....aku memerlukan bantuanmu sekali lagi," ucap Daniel penuh harap.
"Ya katakanlah."
"Bantu aku untuk menyelesaikan masalah dengan keluarga Henda. Apa jadinya aku tanpa seorang Nurma."
"Baik, akan aku kabulkan permintaan mu."
"Apa aku boleh memelukku?"
"Hem, jangan lama-lama karena aku masih normal," ucap Nathan. Daniel sangat senang, karena sebentar lagi dia akan merebut Nurma dari pria bernama Gibran.
"Ck, lepaskan pelukan mu, ini membuat aku risih," ketus Nathan yang mendorong Daniel.
"Ya baiklah."
"Sekarang kerjakan pekerjaan mu, sekalian dengan berkas yang ada di mejaku," tutur Nathan yang bergegas untuk meninggalkan ruangannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Daniel yang mengerutkan keningnya.
"Aku merindukan istri dan juga anakku."
"Hei, apa setiap kamu merindukan mereka, kamu akan selalu pulang?"
"Tentu saja, karena aku bosnya."