
Kekhawatiran Nathan semakin meningkat, di kala beberapa para pebisnis mencabut saham mereka di perusahaan Wijaya. Nathan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menetralkan keadaan yang ada, hingga dia memutuskan untuk menemui Zean dan mengajak Daniel serta Bara yang ingin ikut terlibat. Keempat pria itu sangat serius, karena permasalahan ini sangat sulit untuk di atasi. Daniel menatap teman-temannya yang berada di depannya, "apa ada solusi dari kejadian ini?"
"Entahlah, aku bahkan telah mengerahkan seluruh pasukan inti dan ahli IT dalam pelacakan. Saat aku mencoba melacak orang itu, tetap saja tidak bisa," ucap Zean.
"Sepertinya musuh ini lebih berbahaya dan juga cerdik dari Alvin," tambah Bara.
"Aku sangat pusing untuk sekarang ini, di tambah dengan para investor menarik sahamnya kembali," cetus Nathan yang mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kamu terlihat sangat kusut, tenang saja! sepandai-pandai menyembunyikan kentut, pasti akan tercium juga," ujar Bara yang mendapat jitakan hangat dari Daniel.
"Ck, perumpamaan mu sangat jelek. Tidak perlu melucu di saat keadaan darurat, kita pikirkan jalan keluarnya," ketus Daniel.
"Yaya terserah padamu."
"Aku merasa, jika orang itu akan menyerang keluarga Wijaya lagi. Bukankah dia ingin menguasai seluruh harta itu? dan aku sangat yakin, dia akan melakukan pergerakan dengan rencana kedua," seloroh Zean.
"Kamu benar, dia tidak akan berhenti sebelum menguasai sepuruh harta ku," sahut Nathan.
"Kita tidak tau siapa dalangnya," celetuk Bara membuat Nathan, Zean, dan Daniel menghela nafas dengan kasar.
"Apa itu dari musuh mu?" tanya Bara yang menatap Nathan.
"Entah lah."
Pembicaraan terhenti saat ponsel Nathan berdering, namun itu bukan sambungan telfon, melainkan sebuah pesan rahasia dengan kode yang di kirimkan oleh Al. Kode rahasia yang hanya di ketahui olehnya dan juga twins L.
"Ayah, mansion telah di kepung. Kami semua dalam bahaya."
Nathan begitu syok dengan pesan rahasia itu, hingga ponsel di tangannya terjatuh. Zean, Bara, dan Daniel menjadi khawatir dengan Nathan, "apa yang terjadi?" tutur Zean yang mengguncangkan tubuh Nathan.
"Kita harus cepat ke mansion Wijaya yang telah di kepung oleh orang yang tak di kenal," ucap Nathan dengan bergegas masuk ke mobil dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Zean, Daniel, dan Bara mengikuti Nathan dari belakang.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di mansion yang telah di ambil alih oleh orang yang tak di kenal, Nathan segera bersembunyi untuk melihat situasi dan kondisi di Persekitaran nya. Zean, Daniel, dan Bara juga melihat keadaan mansion yang di jaga oleh orang dengan senjata api di tangan mereka.
Di dalam mansion sangat lah kacau, para penjahat yang bersenjata menembak habis para pelayan dan juga penjaga. Mendengar suara tembakan, dengan cepat Dita menggendong Lea dan menarik Al dan El menuju peti di gudang tua. Dita sangat ketakutan, di tambah dengan suara Lea yang menangis dengan sangat keras. Dia tidak ingin jika nasibnya dan ketiga anaknya sama dengan para pelayan dan juga penjaga.
setelah cukup lama menenangkan Lea yang tidak berhenti menangis, dengan terpaksa Dita menyumpal mulut Lea menggunakan kain. Twins L ingin menyerang para penjahat bersenjata api, tapi Dita tidak mengizinkan karena itu sangat berbahaya.
Twins L memakai pelindung anti peluru dan membekali setiap tubuh mereka dengan senjata yang melekat dengan sempurna, "buka saja sumpalan kain di mulut Lea, kami akan mengatasi ini," tutur Al.
"Tidak, kalian tetap di sini barsama Ibu dan juga Lea," tolak Dita dengan tegas. Twins L mencoba untuk meyakinkan sang Ibu, hingga akhirnya Dita luluh dan kembali menenangkan Lea yang rewel.
Al dan El menyelinap keluar dari peti, Al membidik mereka dengan shuriken dengan gerakan kilatnya. Sementara El, melempar pisau mengenai sasaran, mereka mulai melumpuhkan para penjahat dan membagi dua bagian, dengan cara mengumpan sebagian dari penjahat.
Setelah melumpuhkan penjagaan ketat di luar mansion, Zean dan Nathan memutuskan untuk satu regu, sedangkan Bara dan Daniel menjadi partner tim. Mereka berhasil masuk dengan cara berpencar, menerobos tiap ruangan dan menggeledahnya.
Nathan membesarkan pupil matanya, saat melihat twins L yang di kepung oleh para penjahat bersenjata. Nathan melompat dari lantai 2 dan memukuli orang yang ingin mencelakai kedua putranya. "Dimana ibu kalian? kenapa kalian tidak bersama?" ucap Nathan dengan nafas yang terengah-engah.
"Ibu ada di sebuah peti Ayah, kami terpaksa menyerang karena saat ini Lea tidak berhenti menangis, untuk mengalihkan perhatian mereka," sahut El.
Nathan kembali fokus, begitupun dengan twins L. Pertarungan sengit itu berhenti saat mendengar suara tepukan tangan. "Wow, aku sangat terkesan dengan aksi keluarga Wijaya ini. Jangan bertindak gegabah, karena saat ini Wijaya dan Novi telah aku sekap." ucap atasan dari para penjahat.
"Siapa kamu? aku tidak mengenalmu sama sekali. Dan lepaskan kedua orang tua ku," pekik Nathan membuat Zean, Daniel, dan Bara menghampirinya.
"Bukan itu yang ingin aku tunjukkan, tapi ini." Pria itu menggendong Lea yang menangis, dan juga mengantung Dita yang di bawahnya sebuah benda tajam dan runcing.
"Jangan menguji kesabaranku, aku tidak mengenalmu sama sekali. Apa alasanmu menganggu keluargaku? dan apakah kamu orang yang telah mengambil separuh dari kekayaan Wijaya?"
"Itu benar, kita tidak saling mengenal. Tapi, pria tua ini bisa menjelaskannya kepadamu," jawab Pria itu yang menunjuk Wijaya.
****
Abian mulai bangkit dan ingin keluar dari kamar gelap dan dingin itu, berusaha kabur dangan kondisi seperti ini sangatlah sulit. Dia tidak menyerah, membuka tali yang mengikat di tubuhnya.
"Aku harus bisa keluar dari sini, aku sangat merindukan Ibu Dita," gumam Abian yang memegang sebuah ponsel yang telah dia ambil tanpa sepengetahuan dari Farel.
Tidak sulit untuk membuka kunci kamar itu, hanya perlu merusaknya saja. Abian berjalan dengan mengendap-endap setelah melihat situasi aman. Namun sayang, adik tirinya yang bernama Angela melihat nya dan berteriak ketakutan.
Farel dan Mona datang untuk menghampiri putrinya yang menangis histeris, Abian dengan cepat melarikan diri saat Farel mengejarnya dengan membawa pisau di tangan. Abian terus berlari, walau punggungnya terluka akibat pisau kecil yang menancap di punggung dan menggores wajahnya yang tampan.
Abian sangat beruntung karena bisa terbebas dari neraka itu. Rasa sakit di punggung dan di wajahnya membuat Abian terkapar di pinggir jalan.