
Nathan tetap bersyukur, walaupun Dita sekarang mengalami koma. Bukankah ini lebih baik, jika di bandingkan kehilangan untuk selamanya. Nathan keluar dari ruangan itu setelah beberapa lama, raut wajah yang menangis seketika berubah dingin. Dia menerima telfon dari Daniel, jika pelakunya ada di markas miliknya. Dengan cepat, Nathan pergi ke lokasi untuk menghajar orang yang berani mengusiknya.
Nathan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa kendaraan yang menurutnya sangatlah mengganggu. Hanya membutuhkan beberapa menit, dia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke markas dengan langkah yang tergesa-gesa. Pandangan menatap lurus, dan wajah nya yang dingin terlihat lebih kejam.
Nathan tersenyum menyeringai saat tau siapa pelakunya yang berani mengusik kehidupannya, ternyata dia adalah Randa, yang sangat membencinya.
"Ck, ternyata kamu tak lebih dari pecundang," ucap Nathan yang mendekati Randa, sementara Randa tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana dengan kejutan ku? apa kamu menyukainya? aku rasa kamu menyukai itu. Aku sangat yakin, jika kamu akan menderita secara perlahan, NATHAN WIJAYA," jawab Randa yang tertawa menyeringai.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Dasar bodoh, hahah. Aku menyukai itu, dan kamu juga dapat merasakan hal yang sama denganku," cetus Randa tertawa.
"Cepat lepaskan pria ini," pinta Nathan membuat Daniel, Bara, dan Zean terkejut.
"Kenapa di lepaskan? apa kamu memaafkan orang ini?" celetuk Bara yang menatap Nathan sembari menunjuk Randa.
"Aku tidak akan mengatakannya dua kali, lakukan sesuai yang aku pinta." Daniel yang sangat memahami sifat Nathan, hanya mengikuti apa yang baru saja di perintahkan.
"Semudah itu? kenapa tidak dari tadi saja," keluh Randa.
"Lawan aku, jika kamu berani. Aku akan menuntaskan ini dengan cepat," celetuk Nathan tanpa ekspresi.
"Tidak masalah, aku menerima tantangan itu."
Randa mendekati Nathan dan mulai menyerang, Nathan dengan cepat menghindar dan membalas serangan. Mereka saling meluapkan emosi masing-masing, tapi tetap saja Randa tidak bisa melumpuhkan Nathan yang seakan kebal dengan pukulannya. Nathan memukul tanpa memberi celah kepada Randa, Nathan berhasil menumbangkan Randa dan mulai menyiksanya.
"Keberanianmu tidak sebesar nyalimu," ucap Nathan yang mengambil pisau dari saku celananya.
"Apa kamu ingin menyiksaku dengan pisau itu? tidak ada gunanya kamu melakukan hal itu, karena sekarang Dita sudah mati. Terserah, jika kamu ingin membunuhku. Setidaknya aku bisa bersama dengan Dita di alam baka," tutur Randa yang tertawa bahagia.
Nathan menggenggam pisau itu dengan erat, mulai menyayat wajah Randa dan membuat karya seni yang indah, "bahkan di alam baka pun kamu tidak akan bersama Dita, karena Dita ku masih hidup," ucap Nathan yang terus menyayat wajah tampan milik Nathan.
"Aaargg....ini sangat sakit, cepat bunuh saja aku," teriakan Randa yang seakan tuli di telinga Nathan.
Nathan tanpa peduli menyiksa Randa, pisau kecilnya mencongkel mata dan memotong lidah Randa dengan sangat bengis. Tak sampai di situ, dia juga memberi taburan garam dan air perasan jeruk nipis ke sekujur tubuh Randa. Zean, Bara, dan Daniel bisa melihat dengan jelas, bagaimana kekejaman dari Nathan. Daniel dan Bara seakan mual melihat kejadian yang mengerikan itu, tapi tidak dengan Zean yang tau bagaimana Nathan beraksi ketika menjadi seorang Mafia.
Setelah bermain-main selama 30 menit, Nathan akhirnya membunuh Randa. Cipratan darah yang mengenai wajahnya terasa sangat menyenangkan bagi Nathan, dia tertawa menyeramkan.
"Bersihkan semua tanpa ada jejak," titah Zean kepada anak buahnya.
"Baik tuan."
****
Sepulang dari urusan nya , Nathan langsung bergegas ke rumah sakit untuk mengecek keadaan istrinya, Daniel mengikutinya ke rumah sakit
Sesuai perkataan Dita di waktu itu, twins L dan Abian ikut serta merawat adiknya yang baru lahir. Al menggendong adiknya dengan hati-hati, karena sedari tadi dia merengek kepada Naina untuk bisa menggendong adiknya.
"Lihat lah ini, tubuhnya sangat kecil dan tampak menggemaskan," ucap Al yang tersenyum.
"Nana, siapa nama adik kami?" tanya Abian.
"Hem, kita belum memiliki nama yang cocok. Bagaimana jika kalian yang mencarikan nama untuk baby girl," usul Naina.
"Aku memberinya nama LEA," sahut Al dengan cepat.
"Wow, itu nama yang sangat bagus. Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Naina menatap El dan juga Abian.
"Namanya sangat indah, bahkan Ayah belum memikirkan nama untuk baby," ucap Nathan sebalik pintu.
"Eh, kapan Ayah datang?" celetuk El.
"Baru saja." Nathan menggendong baby girl yang ada di gendongan Al, dia tersenyum saat melihat wajah putrinya yang mirip dengan Dita versi kecil.
"Ayah, kapan Ibu akan bangun?" tanya El yang menatap Nanar.
"Sabarlah, Ibumu sekarang baik-baik saja. Daniel," ucap Nathan tersenyum dan memanggil tegas sahabatnya.
"Iya, ada apa memanggilku?"
"Selesaikan tugas dariku, urus semua perusahaanku. Karena aku akan fokus kepada istri dan juga anak-anakku," tegas Nathan yang menimang putrinya.
"Perintahkan orang lain saja, aku sekarang sibuk," tolak Daniel dengan wajah yang memelas.
"Mau bagaimana lagi? aku hanya mempercayai mu. Cepat pergi dari sini dan selesaikan yang aku perintahkan," ujar Nathan tanpa penolakan.
Daniel pergi dari rumah sakit menuju kantor, berkas yang beberapa hari tidak di kerjakan oleh Nathan, bagai gunungan berkas yang membuat nya harus lembur.
"Nathan sialan, aku menyesal mengikutinya tadi. Aku sangat merindukan Nurma," gumam Daniel yang mengemudikan mobilnya.
Twins L dan Abian menatap Nathan dengan dalam, membuat Nathan penasaran. "Kenapa kalian menatap Ayah begitu?"
"Ayah menyembunyikan sesuatu, cepat katakan kepada kami," cetus Al.
"Apa??"
"Apa Ayah sudah menemukan pelakunya?" cetus Al.
"Tentu saja, Ayah menuntaskannya," jawab Nathan dengan santai.
"Baiklah."
Nathan, twins L, dan Abian bergantian menjaga Dita dan merawat baby Lea. Di tengah malam, baby Lea terbangun dan menangis, membuat semua orang terbangun dari tidurnya. Nathan menimang anaknya dengan cepat, tapi tetap tidak bisa menenangkan Lea.
"Ayah, lakukan dengan benar," cetus.
"Bagaimana? Ayah tidak tau cara menenangkannya, cepat lakukan sesuatu," panik Nathan membuat twins L dan Abian juga ikut panik.
"Cobalah menyanyi lagu pengantar tidur," usul Abian.
"Baiklah, akan Ayah coba." Nathan menyanyikan lagu tidur, bukannya Lea tertidur malah menangis lebih keras.
"Eh, kenapa Lea menangisnya bertambah keras?" bisik El kepada Al dan Abian.
"Lihatlah cara Ayah yang bernyanyi itu," balas Abian.
"Ayah, hentikan nyanyian mu," ketus El yang menutup telinganya.
"Diamlah, Ayah sedang menenangkan adikmu."
"Suara Ayah lebih terdengar seperti radio rusak, bahkan gendang telinga kami hampir pecah. Berhentilah menyanyi, aku akan memanggil suster," ujar Al yang berlari keluar ruangan. Akhirnya Lea kembali tenang setelah di timang oleh suster.