
Tibalah saatnya hari yang di nanti-nantikan oleh semua orang, perasaan yang sangat cemas, khawatir, dan resah sudah tercampur menjadi satu. Semua anggota keluarga berkumpul untuk menunggu hari kelahiran dari anak Al, mereka semua telah sepakat untuk Shena yang akan menjalani operasi Caesar karena tidak sanggup melahirkan ketiga bayinya dengan normal.
Al memegang tangan sang istri dengan sangat lembut, mengecup keningnya sebelum operasi di mulai. Shena sangat khawatir dan sangat cemas dengan operasi yang akan dia jalani, "aku sangat takut," lirihnya menatap wajah tampan dari Al.
"Apa yang kamu takutkan? aku di sini untuk menemanimu." Al membelai pucuk kepala Shena dengan sangat lembut, jujur saja sebenarnya dia sangat khawatir dengan operasi yang akan di jalani sang istri. Tapi, dia berusaha untuk menutupi perasaan cemasnya di hadapan semua orang. Pikiran yang sangat kacau, gelisah, cemas, tidak sabar untuk melihat anak-anaknya yang belum lahir.
"Apa aku sanggup?" lirih Shena yang menatap Al dengan sendu.
"Aku yakin itu, berpikirlah positif. Aku ada bersamamu dan juga semua orang mendoakan kita," tutur Al.
Dokter yang telah memakai baju khusus dan tak lupa dengan sarung tangannya, beberapa para perawat yang membantu operasi itu.
"Ya tuhan....berikan kemudahan untuk istriku dan lancarkan operasinya, juga sehatkanlah mereka," batin Al yang berdoa untuk kebaikan istri dan juga anak-anaknya.
Dokter wanita yang di pilih oleh Al, sangat berpengalaman. Dia tidak ingin yang menangani Shena adalah Jimmy walaupun dia Dokter senior. Dokter Kinan tersenyum kepada Shena sembari mengenakan masker, berjalan mendekati Shena dengan membawa suntik epidural.
"Tenangkan pikiran dan cobalah untuk relaks," kata dokter Kinan.
Al menatap suntik yang di pegang oleh Dokter Kinan, "tunggu dulu! apa kamu ingin menyuntik istriku dengan jarum bengkok itu?" ujar Al yang menatap Dokter Kinan dengan tajam.
"Ini suntik epidural Tuan, untuk membiusnya."
"Aku tidak pernah melihat suntik seperti itu, apa kamu ingin menyakiti istriku?" ucap Al dengan tatapan elangnya membuat Dokter Kinan ketakutan.
"Memang seperti ini prosedurnya, Tuan."
"Jangan sentuh istriku sebelum aku menyetujui nya," ucap Al yang di anggukkan kepala oleh sang Dokter karena takut terkena masalah yang berakibat fatal, seperti kehilangan pekerjaan atau masuk ke dalam black list.
Al mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu nomor kontak yang ada di ponselnya, dia menghubungi Jimmy karena tidak mempercayai ucapan dari Dokter Kinan. Tak butuh waktu lama bagi Jimmy untuk segera sampai ke ruang operasi, tentu saja hal itu terjadi karena Al mengancamnya untuk di pecat dari rumah sakit Wijaya jika terlambat walau semenit saja.
"Ada apa....memanggilku?" tanya Jimmy dengan nafas yang terengah-engah, berusaha untuk mengatur nafasnya.
"Apa rumah sakit ini kekurangan dana? hingga kalian memakai suntikan yang sudah bengkok," ketus Al di dalam ruangan, semua orang hanya melihat dari luar ruangan dengan perasaan kalutnya.
Jimmy mengerutkan dahinya sembari menatap Al dengan bingung, "apa maksudmu itu suntikkan epidural?"
"Iya, itu maksudku."
"Jadi kamu hanya memanggilku untuk menanyakan suntik epidural?" tanya Jimmy yang melongo.
"Kamu sangat genius dalam hal apapun, tetapi kenapa sangat bodoh dalam hal ini? memang begitulah bentuknya, kenapa kamu tidak mencari informasi itu lewat internet?" geram Jimmy.
"Untuk hal ini aku tidak mempercayai apapun selain dirimu."
"Apa sekarang kamu sudah mempercayainya TUAN AL WIJAYA?"
"Baiklah, sekarang kamu boleh pergi. Jauhi ruangan ini, aku tidak ingin ada pria lain yang melihat istriku," usir Al yang di balas dengan mendengus kesal. Jimmy Melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan dengan raut wajah yang kesal, semua orang mengerubunginya dan menanyakan apa yang terjadi di dalam kerena mereka tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Jimmy menceritakan betapa bodohnya Al yang mengatakan jika rumah sakit yang terkenal di kota kekurangan dana, hingga memberikan Shena suntikkan bengkok. Seketika suasana tegang itu menjadi cair dan di penuhi gelak tawa mereka, "aku harus pergi dulu, masih ada beberapa pasien yang segera di tangani," ucap Jimmy yang pamit undur diri dan membuat semua mata menyoroti kepergiannya.
Semua orang tengah menunggu di luar ruangan, Dita dan Nurma sangat cemas akan keadaan Shena yang akan di operasi. Nurma mondar-mandir seraya meremas tangannya dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Sayang, tenangkan dirimu!" ucap Daniel yang menatap istrinya yang seperti setrikaan.
"Aku sangat cemas dengan keadaan putriku, bagaimana aku bisa tenang," cetus Nurma yang menatap suaminya dengan sedikit kesal.
"Apa yang di katakan oleh Daniel itu benar, sebaiknya kamu tenanglah. Lebih baik kita mendoakan supaya semuanya di lancarkan dengan keadaan yang sangat sehat," tutur Dita yang mendekati sahabat sekaligus besannya.
"Entahlah, aku tidak bisa tenang. Cukup sulit untukku untuk tenang di situasi seperti ini."
"Kita serahkan kepada yang di atas lewat perantara Dokter yang menangani Shena."
"Hem, kamu benar." Dita membawa Nurma untuk duduk di kursi yang tak jauh dari mereka, Dita terus saja mengusap lembut bahu Nurma dan saling menyenderkan kepala satu sama lain.
Al menatap sang dokter dan mengangguk untuk segera melakukan operasi, "baiklah, lakukan tugasmu."
"Baik Tuan." Dokter Kinan mulai melakukan tugasnya dan di bantu oleh suster, mereka bekerja dengan sangat fokus dan juga teliti saat Shena telah di suntikkan obat bius.
Al tidak tega dengan kondisi Shena dengan perut yang di sayat dengan pisau, dia tidak kuat untuk melihat bagaimana proses sayatan yang di lakukan tepat di hadapannya. Walau dia sudah terbiasa dengan para musuh dan melukainya, bahkan lebih terlihat lebih sadis. Tapi ini terlihat sangat lah berbeda, apalagi melihat istri tercintanya yang terbujur lemah.
Lain halnya dengan Anna yang sedari tadi mengemil makanan di rumah sakit, kandungannya yang besar sangat di larang keras oleh El untuk pergi kemana pun. Tapi Anna kekeuh untuk ikut ke rumah sakit, setelah beberapa bujukan mautnya kepada sang suami yang membuat El menghela nafas dan mengangguk dengan paksa.
El duduk di samping istrinya dan mengusap perut Anna yang seperti bola, bukan hanya itu saja, berat badannya juga bertambah menjadi 2 kali lipat dari biasanya. "Lebih baik kamu istirahat saja atau kita pulang ke Mansion," tawar El yang sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya.
"Tidak, aku hanya ingin melihat calon keponakanku," tolak Anna yang terus mengunyah.