
Twins L dan Abian menoleh ke sumber suara, betapa bahagianya mereka saat melihat keberadaan Lea yang baik-baik saja, twins L berjalan dengan sangat cepat dan menghampiri Lea. El memeluk tubuh adik nya dengan sangat erat dan bergantian dengan Al, hingga dia melupakan Abian yang berusaha untuk berdiri karena El menjatuhkan tubuhnya saat menghampiri Lea tanpa memikirkan nasib malangnya.
"El sialan, kenapa kamu menjatuhkan aku?" gerutu Abian dengan kesal.
"Maaf, aku melupakanmu!" sahut El dengan santai.
"Hah, kamu membuat aku kesal saja."
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya El yang mena
"Hem, aku baik-baik saja. Tapi bagaimana kita ada di sini, apa yang terjadi?" ucap Lea yang membuat Al dan El saling melirik dengan tatapan bingung.
"Eh, apa kamu tidak ingat?" tanya Al yang di balas gelengan kepala oleh Lea. Abian yang melihat itu sedikit terluka akan Lea yang tidak mengingatnya sama sekali.
Lea menghampiri mereka dan ingin memeluk tubuh Lea yang dengan cepat di tolak, "kamu siapa? kenapa kamu ingin memelukku?" ucap Lea yang menatap Abian dengan tanda tanya yang seakan tidak pernah melihat pria tampan itu sebelumnya.
"Apa kamu tidak mengenalku? aku adalah suamimu," ungkap Abian.
Lea mengalihkan perhatiannya menatap kedua kakak kembarnya, "pria ini sangat tidak sopan, bagaimana dia berkata begitu?" ujar Lea yang membuat semangat Abian kian meredup.
"Itulah kenyataan nya sekarang, jika kamu telah menikah dengan Abian," seru El.
"Apa kamu melupakanku?" lirih Abian dengan tatapan nanarnya.
"Wajahmu tidaklah asing tapi aku masih tidak mengenalmu," jawab Lea yang mencoba untuk mengingat pria tampan yang mengaku sebagai suaminya itu.
"Tidak salah lagi jika ini ulah Roy, aku akan menghabisinya nanti," gumam Abian yang mengepal kedua tangannya yang menahan amarah.
"Dia sudah mati," sahut Al dengan santai tanpa beban sedikitpun.
"Eh, kenapa dia mati dengan sangat cepat, padahal aku ingin membalaskan perbuatannya kepadaku. Lea, katakan jika kamu masih mengingatku," racau Abian yang memegang kedua tangan Lea dengan tatapan yang sendu.
"Maaf, aku sudah mencoba untuk mengingatnya, " jawab Lea yang menggeleng dan tersenyum samar. Tindakan dari Abian membuatnya sangat gemas dan menggelitik.
Al merasa ada yang janggal dengan situasi ini dan dia menemukan fakta jika sang adiknya tengah melakukan sebuah drama.
"Ck, ternyata dia ahli dalam berbohong. Jika saja bohong itu di perlombakan, pasti dia akan menjadi juaranya," batin Al yang tersenyum tipis.
"Bagaimana ini El? adik mu melupakan aku, katakan kepadanya jika kami telah menikah," desak Abian yang memohon sembari memeluk El dan menangis. Abian yang patah hati mengelap ingus yang terasa sangat penuh di hidungnya
"Sepertinya kamu harus bersabar karena Lea melupakan memori tentang mu," sela Al yang membuat Abian mengusap wajahnya dengan kasar, menarik rambutnya seperti orang kehilangan akal.
"Kenapa aku selalu mendapatkan cobaan yang begitu berat," lirih Abian yang masih terdengar oleh semua orang.
"Sabarlah, itu akan indah seiring waktu," seloroh Al yang menatap Abian seperti orang depresi.
"Ada apa dengannya? apa dia sudah gila?" ujar El.
"Entahlah, ku rasa begitu!" sahut Al yang bergidik bahu.
Abian yang tampak frustasi itu pun kembali mendekati Lea, salah satu sudut matanya kembali berair tak kuasa membendung tangisannya. Sementara Al dan El saling melirik satu sama lain, "sepertinya ini menarik," tutur El yang mengeluarkan ponselnya sembari merekam Abian yang tampak frustasi.
"Sialan, di saat seperti ini kamu merekamku," cetus Abian yang kesal.
"Setelah sekian lama aku tidak melihatmu menangis seperti itu, aku akan menyimpannya dan memperlihatkan kepada anakmu kelak, " cibir El yang memeletkan lidahnya.
"Sudah hentikan drama ini," tegas Al yang sangat bosan dengan kejadian di depannya, semua orang terdiam dan menyorot asal suara.
"Drama?" ulang Abian yang ambigu.
"Benar, Lea hanya membodohimu."
"Apa kamu ingin menguji rasa cinta dan juga kasih sayang dari ku?" tanya Abian.
"Hehe....ternyata suamiku ini sangatlah cengeng, apa jadinya jika aku benar-benar melupakanmu," jujur Lea yang membuat Abian berlari dan memeluk tubuh Lea dengan sangat erat.
"Kenapa kamu membohongiku? aku hampir saja gila jika kamu tidak mengingatku," tuturnya yang mengecup pucuk kepala sang istri dengan sangat lembut.
"Aku tidak bermaksud begitu, hanya saja aku ingin melihat bagaimana ekspresi mu."
"Dasar nakal! tapi bagaimana kamu bisa lolos dari suntikan yang di berikan oleh Roy sialan itu?" tanya Abian yang melepaskan pelukannya sembari menatap manik mata sang istri. Lea kembali mengingatkan kejadian di saat dia sudah merasa curiga di pesawat dengan seorang pria yang menabraknya, untung saja mata Lea saat itu sangat jeli.
"Sebenarnya aku sudah mengetahui dari awal dan membiarkan dia membius ku dan juga kamu. Sebelum itu aku sudah meminum pil buatan ku sendiri yang dapat menetralisir racun dan beberapa senyawa yang masuk ke dalam tubuhku. Bagaimana? aku sangat pintar bukan?" ucap Lea yang sombong.
Abian menyentil kening Lea, "itu sama saja kamu membahayakan dirimu sendiri, lain kali jangan melakukan hal itu lagi," cetus Abian.
"Iya baiklah, aku minta maaf soal itu."
"Katakan itu nanti saja, lebih baik kita pergi meninggalkan tempat ini," ujar Al yang di angguki kepala oleh mereka.
"Baiklah, ayo!" jawab mereka serempak yang pergi meninggalkan tempat itu menuju helikopter yang telah mereka sembunyikan.
****
Kabar bahagia itu membuat seluruh anggota keluarga Wijaya sangat senang dengan itu, Dita memeluk tubuh Lea dan juga Abian secara bersamaan, "kalian tau, Ibu hampir saja depresi karena mendengar jatuhnya pesawat dan untung saja kalian tidak menaiki pesawat itu," ucap Dita yang sangat bersyukur bisa menyambut kedatangan anak-anaknya dengan selamat.
"Maafkan kami yang telah membuat Ibu khawatir dan juga sangat cemas," jawab Abian, ponselnya berdering dan dengan terpaksa dia mengangkatnya.
"Halo tuan."
"Hem, katakan."
"Bagaimana ini tuan? masalah di perusahaan Amerika semakin meluas, beberapa investor menarik saham mereka."
"Baiklah, besok aku akan ke Amerika. Persiapkan segalanya,"
"Baik tuan."
Abian mematikan sambungan telfon dengan sepihak dan memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya, Lea menatap Abian dengan seksama yang tau akan kegundahaan hatinya.
"Ada apa? katakan saja," ucap Lea yang menatap A
sang suami dengan intens.
"Begini, sebenarnya aku ingin kembali menetap di Amerika. Ada beberapa masalah di sana," Penuturan dari Abian membuat semua orang terkejut. Terkejut akan kabar yang mendadak itu.
"Secepat itu dan kenapa mendadak sekali?" seloroh Al.