Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir

Anak Genius: Jadilah Ayahku, Tuan Presdir
Bab 38


Nathan melajukan mobilnya, menyalip beberapa kendaraan yang menghalagi jalannya dengan begitu lihai, dia tidak sabar untuk bertemu dengan putra kembarnya.


Sesampainya di rumah Dita, kaki Nathan melangkah masuk tanpa permisi, dia melihat twins L sedang mengutak-atik laptop milik mereka. Nathan semakin dekat dengan Al dan El, terharu, bahagia, dan menyesal tidak melihat tumbuh kembang anak-anaknya.


Tubuh kekar nya memeluk erat kedua putranya, membuat twins L terkejut dengan situasi nya, "lepaskan pelukan ini, apa Paman berniat membunuh kami hah, " ujar Al yang memberontak.


Nathan memelankan dekapannya, "diamlah, aku hanya ingin memeluk kalian, " ucap nya lirih.


Al dan El saling menatap dan mengangkat bahu karena merasa aneh dengan tingkah Nathan yang menghangat, "apa paman baik-baik saja, " El memeriksa kening Nathan dan berpindah memeriksa pantatnya.


"Bagaimana?" ujar Al.


"Panasnya hampir sama," sahut El.


"Paman, sudah cukup dengan pelukan ini, " ketus Al membuat Nathan melepaskan pelukan itu.


"Hehe, baiklah."


"Ada apa Paman tiba-tiba memeluk kami?" ucap El yang mengintrogasi layak nya seorang polisi menanyai penjahat.


"Nanti kalian juga tau dengan sendirinya, dimana Ibu kalian?" Nathan celingukan menatap seluruh ruangan.


"Seperti biasa, ibu sangat sibuk di butiknya, " jawab Al.


"Apa kalian hanya bermain di rumah, ayo kita keluar, " ajah Nathan.


"Kami sedang bekerja, lain kali saja " imbuh El.


"Memangnya untuk apa kalian bekerja, bukankah seharusnya anak di usia kalian ini hanya bermain?"


"Yang pasti kami membantu Ibu, kami mengamankan seluruh aset nya dan juga banyak orang yang iri dengan keberhasilan Ibu kami itu, " ucap Al dengan bangga.


"Dan yang pasti bisa melindungi Ibuku," tambah El, Nathan sangat terharu dengan ucapan mereka.


"Ayo, tunggu apa lagi? aku akan mengajak kalian jalan-jalan. "


"Kami akan memberi tahu nenek dulu." El berlalu pergi.


Tak lama kemudian, El kembali dengan wajah tersenyum, "Nenek memperbolehkan kita berangkat. "


Nathan menggandeng tangan kedua putranya dengan sangat lembut.


"Kita mau kemana, Paman?" Al mendongakkan kepalanya menengok Nathan yang sangat tinggi.


"Kalian mau kemana?" sahut Nathan yang menatap Al.


"Kami ingin ke wahana permainan pak pitak, " usul El.


"Di mana itu?" Nathan mengerutkan keningnya.


"Akan kami tunjukkan, ayo jalan mobilnya Paman " ujar twins L dengan serempak.


Nathan memasang sabuk pengaman twins L dan juga sabuk pengaman untuknya, melajukan mobil dengan perlahan membuat Al dan El gemas, "mobil mahal ini berjalan sangat lamban seperti keong, " cibir El.


"Biar lamban asal selamat dan sampai tujuan dengan aman, " sahut Nathan yang fokus mengemudikan mobil hitamnya.


"Bisakah di percepat? kami sudah tak sabar memborong hadiah di etalase itu, " ujar Al yang melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Akan aku belikan untuk kalian, bagaimana?" tawar Nathan.


"TIDAK!! kami hanya ingin melihat pak pitak yang curang itu mengalami kerugian lagi, " jawab El.


"El, apa kamu sudah menyiapkannya?" Al menatap adiknya.


"Tentu saja aku sudah mempersiapkan ini, sedia payung sebelum hujan, " sahut El. Nathan hanya mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan obrolan dua anak kembar itu, maksud dari El adalah membawa kantong plastik dengan ukuran yang besar. Mereka tidak akan kesulitan membawa seluruh mainan itu nantinya.


Setelah sampai dan memarkir mobilnya, Nathan memegang tangan twins L, mereka menjadi sorotan dengan wajah ketiganya yang sangat tampan. Nathan, Al, dan El tidak menghiraukan tatapan kagum dari kaum hawa yang memuji mereka, berjalan menuju wahana permainan yang di maksud oleh twins L.


Bermain bersama twins L terasa sangat cepat, Nathan sangat kagum dengan kedua anaknya yang pintar dalam analisis. Sekarang Nathan paham apa yang di maksud dengan sedia payung sebelum hujan, "kalian membawa kantong plastik yang besar?"


"Agar kami tidak kesulitan, apa tadi kamu melihat pak pitak?" El menoleh ke arah Al.


"Tidak, sayang sekali! aku ingin bagaimana reaksinya itu, " ujar Al.


****


Pria tampan duduk di dekat jendela sembari memegang sebuah foto seorang wanita yang membuat hari-hari yang membosankan menjadi lebih berwarna. Memikirkan saja membuat pria itu tersenyum, bagaimana jika dia mendapatkan wanita itu dan menikahinya.


Dia mengambil ponsel yang berlogo apel gigit, mencari nomor kontak dan yang tersedia di layar ponselnya, dan menghubunginya.


"Hallo."


"Iya tuan. "


"Katakan kepada seluruh teman ku, agar tidak menemuiku lagi, dan putuskan mereka, " titah pria itu.


"Baik tuan. "


Sambungan telfon terputus, pria itu kembali menatap foto wanita dan mulai mengkhayal, pria itu adalah Randa. Dia sangat menyukai Dita saat mereka bertemu, bahkan Randa mempunyai seluruh foto cantik Dita yang terpajang di kamarnya. Bahkan, dia rela memutuskan seluruh wanita yang pernah dia kencani.


"Kamu sangat cantik, Dita!! aku ingin kamu menjadi istriku seutuhnya, dan aku buat kamu untuk membalas cintaku, " batinnya seraya tersenyum kasmaran.


"Kata orang, jika ingin mendekati ibunya maka dekati dulu anaknya. Aku akan berusaha untuk meluluhkan kedua putra nya terlebih dahulu, " gumamnya dengan senyum yang tidak luntur.


"Aldo kemarilah, " ucap Randa yang memanggil sekretaris nya.


"Iya tuan, ada apa? "


"Persiapkan dinner di tempat romantis, " titah Randa.


"Baik tuan, " Aldo pergi meninggalkan ruangan atasannya dan menelfon bawahan untuk mempersialkan dengan segalanya.


****


Dita yang di sibukkan dengan pekerjaanya mendesain terhenti, saat Nurma mengatakan ada yang ingin menemuinya, " siapa yang ingin menemuiku?" Dita memiringkan kepalanya yang penasaran.


"Randa Atmaja, pengusaha nomor dua setelah Nathan Wijaya" jawab Nurma dengan bersemangat.


Mendengar nama pria itu membuat Dita tidak bersemangat, "katakan saja aku tidak ada. "


"Kenapa? kamu sangat beruntung bertemu dengan orang nomor 2 di kota ini. Lagian aku juga sudah memberitahu dia jika kamu ada di ruangan ini. "


"Hem.... terpaksa aku menemuinya " Dita berjalan dengan gontai.


Randa tersenyum saat Dita datang untuk menghampirinya, "akhirnya kamu datang juga. "


"Iya, ada apa?"


"Aku ingin membawamu dan juga kedua putra mu untuk makan malam bersama!"


"Maafkan aku yang harus menolak, tapi aku sangat sibuk sekali, " tolak Dita.


"Ayolah, aku sudah mempersiapkan segalanya untuk ini, kita dinner berempat dengan kedua anak-anakmu " bujuk Randa dan menatap Dita dengan penuh harapan.


Dita menghela nafas dan mengeluarkannya secara perlahan, "baiklah, kapan waktunya?"


"Malam ini? ucapan Dita di benarkan oleh Randa.


"Benar."


"Baiklah! jika tidak ada lagi, aku melanjutkan pekerjaan ku yang sempat tertunda, " ujar Dita.


"Hem, nanti malam aku akan menjemput kalian. " Randa pergi meninggalkan butik itu dengan senyum tipisnya.